日本とインドネシア★知ろう人☆ -10ページ目

BUDAYA MALU (恥の文化)

Kesadaran akan rasa malu merupakan pusat mental bagi orang Jepang. Persepsi ini tumbuh ketika seorang ahli antropologi bernama Ruth Benedict mengklasifikasikan budaya Jepang tersebut terhadap budaya Barat yakni "budaya dosa". Dalam budaya Barat, dosa merupakan standar moral mutlak/absolut yang muncul dan terwujud dari prinsip perilaku manusia itu sendiri. Sedangkan dalam budaya Jepang, perilaku manusia itu bukanlah diatur oleh prinsip dari dalam, melainkan perasaan malu dari luar. Dengan demikian, dengan mudahnya ada bermacam-macam perbedaan dan pertentangan. Baik orang Barat maupun orang Jepang memiliki pengertian yang sama terhadap rasa malu. Dalam masyarakat Jepang, terdapat prinsip moral yang mendalam. Tambah lagi, bagi orang Jepang rasa malu itu tentunya dipandang sangat berperan penting. Terutama bagi seorang ksatria (Bushi) pada masa feodal, perihal mendapat malu di depan khalayak umum itu sama nilainya dengan mati.


Sumber: A Bilingual Handbook on Japanese Culture--Yoichi Sugiura & John K.Gillepsie

http://www.japanlink.co.jp/ka/


Komentar:

Tampaknya dalam budaya Indonesia kira-kira memiliki konsep sama dalam budaya malu orang Jepang, seperti tersirat dalam peribahasa "LEBIH BAIK MATI BERKALANG TANAH, DARIPADA HIDUP BERCERMIN BANGKAI" yang artinya lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Namun, ironis sekali tingkat budaya malu orang Jepang ternyata lebih tinggi dibandingkan orang Indonesia. Banyak pejabat-pejabat kita yang tidak tahu malu masih saja bercokol dan terlibat KKN di roda pemerintahan. Masalah KKN yang meruak di negara Indonesia ini konon diprediksikan telah mendarah daging dan mungkin tak akan hilang selama sifat konsumtif bangsa jauh lebih merajai daripada sifat produktif.


-emhas-

VALENTINE

Berbagai bentuk perayaan Valentine di berbagai negara

Sejarah singkat: St. Valentine Day atau lebih dikenal dengan perayaan hari raya Valentine dirayakan setiap tanggal 14 Februari di seluruh dunia, yang dijadikan sebagai hari menyatakan cinta kasih. Asal muasal dari peringatan hari Valentine ini adalah wafatnya St. Valentinus di bawah tekanan kaisar Roma pada tahun 269.

Hari raya Valentine ini diperingati di berbagai belahan dunia dengan berbagai cara perayaannya.

Di Barat (Eropa dan Amerika)

Di Eropa misalnya, ada tradisi mengirim bunga, kue atau kartu pos buat sang kekasih. Biasanya di kartu pos tersebut ditulis: “From Your Valentine” atau “Be My Valentine”.

Hal ini berbeda dengan di Jepang, tidak terbatas dari wanita kepada pria saja.

Kebiasaan mengirim cokelat kepada sang pacar telah dimulai di Inggris pada pertengahan abad 19 hingga awal abad 20. Penjualan cokelat Valentine ini didahului oleh perusahaan cokelat Cadburry pada masa direktur pemimpin perusahaan generasi kedua dengan desain kotak cokelat yang bergambar lukisan cantik untuk balasan kiriman. Cadburry ini tidak hanya khusus menciptakan produk untuk Valentine, tetapi juga dikenal akan produk kotak cokelatnya yang dipakai untuk mengirim balasan kepada sang pacar. Dari sinilah, menyebar kebiasaan ke seluruh pelosok daerah. Adapun, di Inggris dikenal dengan cokelat bentuk padat/keras seperti permen candy, sehingga produk semacam ini disebut sebagai “kotak candy”.

Di Jepang

Karena kebiasaan wanita mengirim/memberi cokelat kepada pria dimulai di Jepang, sedangkan di Barat itu tidak ada. Maka di wikipedia tertulis “Bunga mawar, Cokelat, batu perhiasan/permata” dalam edisi bahasa Inggris, dan sangat lazim mengirim cokelat di negara mana pun. Dari laki-laki ke perempuan dalam mengirim cokelat adalah biasa, dan dipilih kue yang sangat manis.

Sejarah Valentine Day dan Cokelat di Jepang diawali pada tanggal 12 Februari tahun 1936 ketika sebuah toko kue “Kobe Molozov” mengeluarkan iklan “Cokelat Valentine” di sebuah majalah berbahasa Inggris dalam negeri. Kemudian, bulan Februari 1958 Merry Chocolate Company melakukan promosi “Valentine Sale” di sebuah toko bernama Isetan yang berkantor pusat di Shinjuku. Namun sayang, tampaknya tidak laris terjual. Penjualan di Isetan tersebut pada tahun pertama selama tiga hari tercatat hanya terjual 3 lempengan cokelat termasuk kartu pos seharga 170 yen. Barulah pada tahun 1968, seorang produser Sony bernama Teruo Morita mencoba untuk mempopulerkan hal mengirim cokelat kepada toko kelontong khusus impor yang bekerja sama dengan perusahaannya dengan slogan “Valentine Day di Jepang kami yang buat—Nihon no Valentine Day wa uchi ga tsukutta”.

Pada zaman sekarang ini, seperempat dari mengonsumsi cokelat dalam setahun, menjadikan acara nasional yang disebut hari ini cokelat dibeli. Pada awalnya yang membeli cokelat waktu itu adalah wanita untuk memberikan kepada pria idamannya, sehingga secara bersamaan lahirlah hari pernyataan cinta. Seiring dengan perkembangan zaman dan inovasi baru, kebiasaan ini mulai dilakukan oleh sepasang sejoli yang sedang menjalin hubungan asmara, atau suami-istri yang telah menikah, kemudian merambah ke kalangan perusahaan, yakni para atasan atau teman kerja, bahkan hanya sekadar teman yang tidak terikat tali cinta juga saling memberikan cokelat, istilah ini disebut dengan “GIRI CHOKO”. Kemudian, lahir juga istilah “TOMO CHOKO” di kalangan sahabat karib, yakni seorang wanita memberikan cokelat kepada temannya.

Di Korea dan Taiwan

Baik di korea maupun di Taiwan, warna cokelat seperti di Jepang itu tidak ada. Namun, sebagai pengaruh dari Jepang sebagai salah satunya barang yang dihadiahkan adalah cokelat. Tetapi, di Taiwan pemberi cokelat kebanyakan adalah laki-laki. Di Taiwan ada yang mirip dengan perayaan Valentine Day di China yang disebut SHICHIGATA yang jatuh pada tgl 7 Juli tahun lama (bulan Agustus).

Budaya yang lahir dari Valentine Day

Jepang

Di Jepang, sebulan setelah Valentine (tgl 14 Maret) lahir apa yang disebut White Day, yakni pada hari itu seorang pria memberikan balasan kepada wanita yang telah memberikan padanya cokelat di hari Valentine. Adapun pemberian balasan itu bisa berupa kue, marshmallow, permen dan sebagainya. Akan tetapi, ada yang tidak bersifat universal, ada juga yang mengirim aksesoris luks berupa cincin atau kalung sebagai tanda cinta kasih. Kemudian baru-baru ini, tanggal 14 April dinamakan sebagai hari Oranye (Orange Day), yakni baik laki-laki maupun perempuan sesama pacar saling mengirim jeruk. Kebiasaan ini masih tergolong terbatas pada orang-orang tertentu saja (tidak bersifat umum), kebiasaan yang ditujukan untuk meyakinkan perasaan kasih sayang pasangannya.

KOREA dan TAIWAN

Di Taiwan jika pada hari white day, hadiah dari kaum pria juga ada. Di Korea White day nya sama dengan Jepang, namun akhir-akhir ini bagi kalangan muda yang tidak menerima apa-apa pada tanggal 14 April maka mereka makan Chajanmen sendiri sebagai BLACK DAY. Untuk itu, pada saat ini restoran China mempromosikan secara besar-besaran. Sehingga dengan kondisi tersebut selalu dihubung-hubungkan dengan tanggal 14 setiap bulannya untuk mempopulerkan sesuatu itu.

Penelitian terhadap kesadaran akan kebiasaan memberi-menerima cokelat

Menurut hasil angket yang ditujukan kepada pria-wanita yang bujangan berumur 20-an hingga 30-an mengenai valentine day yang dilakukan oleh PT Aibridge melalui internet pada Februari 2006, dari 300 orang yang menjawab wanita karier 70% dan 50% karyawan pria menjawab sama “Kebiasaan serah-terima cokelat ada baiknya dihilangkan”.

Di samping itu, angket yang dilakukan oleh PT Makromil pada bulan yang sama pada Februari 2006 adalah: sebanyak 1030 orang wanita (usia belasan hingga 30 tahunan) dalam negeri menjawab “sebagai kesempatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih” 69%, kemudian yang menjawab “guna kelancaran komunikasi” 49%, dan “sebagai perayaan event tahunan yang menyenangkan” adalah sebanyak 23%. Tak ketinggalan, yang berpikiran dan memiliki imej positif terhadap GIRICHOKO juga banyak.


Alih bahasa:emhas

Sumber:wikipedia

GEISHA

Istilah kata "FUJISAN" dan "GEISHA" hingga kini merupakan ungkapan stereotipe yang digunakan oleh orang-orang yang kurang begitu mengenal Jepang, terutama untuk mengekspresikan negara kepulauan oriental misterius ini. Yang menyebabkan isitilah Geisha menjadi terkenal adalah penampilan simpati dan kelembutan yang diberikan geisha kepada pria Barat sungguh memberi kesan dan kekaguman tersendiri. Akan tetapi, sekarang dianggap sebagai ungkapan untuk menyatakan ketidaktahuan tentang Jepang. Yang dimaksud dengan geisha adalah seorang wanita yang berprofesi dan menyuguhkan hiburan dalam pesta undangan. Mereka biasanya berdandan ala khas Jepang dari menyanggul rambut, pakai kimono, pergi ke penginapan (ryokan) atau rumah makan, sampai menghibur dengan nyanyian, memetik shamisen (kecapi Jepang), dan menarikan tarian klasik Jepang. Walau sebelumnya, terbersit imej dan nuansa negatif (seksual) yang kuat terhadap geisha ini, namun sekarang cenderung dianggap sebagai profesi kerja penting dalam meneruskan warisan budaya kesenian tradisional Jepang.


Dikutip dari: A Bilingual Handbook on Japanese Culture Youichi Sugiura & John K. Gillepsie

Alih bahasa: emhas