日本とインドネシア★知ろう人☆ -11ページ目

SERIAL KARTUN "SAZAESAN"

Dari karya asli hingga film animasi "SAZAE-SAN" KARYA ASLI "SAZAE-SAN" Karya ini sebenarnya berasal dari komik kartun yang di muat secara bersambung di koran harian sore FUKUNICHI (daerah Kyushu) pada tahun Showa 21 (1946). Mulanya, karya ini sebelum dipublikasikan, yakni sang pengarang: ibu Hasegawa Machiko sendiri sempat berunding dengan adik kandungnya tentang isi cerita dan para tokohnya. Mereka berdua hampir setiap hari berpikir sambil berjalan-jalan menyusuri pantai. Sehingga timbullah ide, dari nama-nama hasil laut itulah nama-nama pemeran utamanya diambil. Seperti: SAZAE (turban shell/kerang laut), MASUO (Masu=ikan trout), KATSUO (bonito/ikan tongkol), WAKAME-CHAN (Wakame=seaweed) , TARA-CHAN (Tara=cod fish). Kemudian, dari tahun 1949 hingga 1974(selama 25 tahun) cerita komik SAZAE-SAN ini dimuat kembali di koran ASAHI-SHINBUN (TOKYO). FILM KARTUN "SAZAE-SAN" Film kartun ini lahir pada tanggal 5 Oktober 1969 disiarkan pertama kali oleh FUJITEREBI. Saat itu film ini agak berbeda dengan yang sekarang, yang jauh lebih kental warna ceritanya dan dipenuhi sedikit unsur komedi. Pada tanggal 5 Oktober 2005 menjelang tahun ke-37 sejak ditayangkannya, film ini jumlah tayangnya lebih dari 1820 kali, jumlah cerita dibagi tiga dalam sekali putar, kemudian berlanjut terus hingga mencapai 5620 cerita. Jumlah penonton pun tercatat mencapai angka tertinggi sebanyak 39,4% pada tgl.16 September 1979, hingga sekarang berada rata-rata 25% secara tetap(stabil) . Di bandingkan serial "Crayon Shin-chan", film "SAZAE-SAN" ini layak ditonton, karena menyajikan cerita keluarga yang hangat, senang, dan tenteram (ii kazoku). Kamus berbahasa Jepang tentang SAZAE-SAN bisa dilihat di:http://www63. tok2.com/ home2/seruanago/ Sumber: http://www.fujitv. co.jp/b_hp/ sazaesan/ -emhas-

WAKTU TIDUR (睡眠時間)

Biasanya waktu tidur yang paling ideal adalah sehari 8
jam. Hal ini tidak hanya pada bukti secara kedokteran,
tetapi juga dari hasil statistik waktu tidur rata-rata
kebanyakan orang adalah 6-9 jam.
AKhir-akhir ini waktu tidur orang Jepang semakin
berkurang dari tahun ke tahun. Menurut survei waktu
dalam kehidupan masyarakat Jepang yang dilakukan oleh
NHK tahun 2000, waktu tidur rata-rata orang Jepang
adalah 7 jam 23 menit. Jika digolongkan menurut umur,
usia 30-an adalah 6 jam 57 menit, usia 40-an adalah 6
jam 59 menit, diketahui bahwa waktu tidur pada usia
masa produktivitas kerja umumnya pendek.
Namun, rata-rata waktu tidur dijadikan salah satu
patokan. Dengan waktu tidur, diketahui adanya
perbedaan kepribadian, kalau ada orang yang merasa
cukup tidur 3-4 jam atau lebih sedikit daripada yang 6
jam, ada juga orang yang perlu tidur 9 jam lebih. Pada
dasarnya, jika waktu tidur sangat mencukupi dan
menjamin untuk beraktivitas serta tidak ada rasa
kantuk di waktu siang, maka bisa dikatakan waktu tidur
bebas mau berapa jam saja.
Dilaporkan, orang yang tidurnya lama sama halnya
dengan orang yang waktu tidurnya pendek tapi mampu
beristirahat total otaknya (disebut: non-REM sleep).
Kesimpulannya, "kualitas tidur" lebih penting
dibandingkan waktu tidur. Yang dimaksud dengan
kualitas tidur yang baik adalah bangun tidur dalam
keadaan mata segar serta mendapat kepuasan dengan
nyenyaknya tidur.

Tambahan: Menurut informasi data terkini, orang Jepang
waktu tidurnya rata-rata 3 jam lebih lambat dibanding
tahun 1965 (jam 01:00 dini hari). Tahun 1965 rata-rata
orang Jepang tidur pada pukul 22:00.

sumber:
http://www.kaimin. info/part/ dictionary/ di04.html
http://kk.kyodo. co.jp/iryo/ news/0810suimin. html
http://activelife- 2005.com/ sleep.html

-emhas-

TENTANG SUSHI

Buat rekan-rekan yang ingin tahu tentang makanan
Jepang (SUSHI), saya informasikan data cuplikan dari:
http://www.ppi- niigata.org/ artikel1. php
(lengkap dari sejarah, aneka ragam, sampai cara
masak/makan)

Sejarah Sushi

Konon kebiasaan mengawetkan ikan dengan menggunakan
beras dan cuka berasal dari daerah pegunungan di Asia
Tenggara, sedangkan sushi seperti Nigirizushi yang
dikenal sekarang ini baru dikenal di Jepang pada zaman
Edo.

Sebelum zaman Edo, sebagian besar sushi yang dikenal
di Jepang adalah jenis Oshizushi (sushi yang dipres).
Orang Jepang zaman dulu mungkin kuat makan sehingga
sushi selalu dihidangkan dalam porsi besar. Sushi
sebanyak 1 kan (1 porsi) setara dengan 9 kan (9 porsi)
sushi zaman sekarang, atau kira-kira sama dengan 18
kepal sushi (360 gram). Satu porsi sushi zaman dulu
yang disebut Ikkanzushi mempunyai neta yang terdiri
dari 9 jenis makanan laut atau lebih.

Pada zaman Edo periode akhir, di Jepang mulai dikenal
cikal bakal Nigirizushi yang ukuran porsinya sudah
dikurangi agar sushi lebih mudah dinikmati. Seorang
ahli sushi bernama Hanaya Yohei menciptakan sushi
jenis baru yang merupakan cikal bakal Edomaezushi,
tapi kabarnya sushi yang diciptakan masih berukuran
besar mirip Onigiri. Pada masa itu, teknik pendinginan
masih belum maju sehingga ikan yang didapat dari laut
sekitar Jepang harus diolah dulu agar tidak rusak
sebelum dijadikan sushi.

Sampai tahun 1970-an sushi masih merupakan makanan
mewah di Jepang. Pada umumnya rakyat biasa hanya
menikmati sushi untuk merayakan acara-acara khusus,
itu pun hanya sushi pesan-antar. Di dalam komik Jepang
zaman itu sering digambarkan pekerja kantor yang
pulang tengah malam ke rumah dalam keadaan mabuk
membawa oleh-oleh sushi untuk menyogok istri yang
menunggu di rumah agar tidak marah.

Walapun restoran model Kaitenzushi yang pertama dibuka
pada tahun 1958 di Osaka, penyebarannya ke
daerah-daerah lain di Jepang memakan waktu lama. Makan
sushi sebagai acara yang bisa dinikmati seluruh
anggota keluarga akhirnya terwujud di tahun 1980-an
seiring dengan makin meluasnya Kaitenzushi di seluruh
Jepang. Walaupun demikian, sampai saat ini makan sushi
di restoran sushi tradisional tetap merupakan barang
mewah di Jepang.

Keberhasilan Kaitenzushi mendorong perusahaan makanan
untuk memperkenalkan berbagai macam bumbu sushi instan
yang memudahkan ibu rumah tangga membuat sushi di
rumah. Chirashizushi atau Temakizushi dapat dibuat
dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut,
Tamagoyaki dan Nori.

sumber: artikel dari situs PPI-Niigata

-emhas-