HIDUP MENYENDIRI 独り暮らし
Ketika saya tiba di Jepang, saya baru tahu apa yang namanya hitorigurashi (hitori=seorangdiri, kurashi=hidup). Kondisi hitorigurashi di Jepang sebenarnya tak jauh beda dengan di Indonesia, hanya saja hitorigurashi di Jepang bagi saya terasa sepi dan memprihatinkan. Entah itu mahasiswa yang kuliah di luar provinsi,atau yang sedang
mengadu nasib bekerja ke kota,bahkan manula baik kakek-nenek yang
ditinggal pergi anaknya. Kebetulan sekali apartemen kami dihuni oleh para hitorigurashi sebagian besar. Di sebelah kiri-kanan kamar adalah pria jepang yg bekerja, sedangkan di paling ujung ada seorang kakek. Kemudian di lantai bawah jg sama. Ada pula suami-isteri yang tinggal, namun tak lama kemudian pindah. Alasan pindah bagi mereka bisa jadi karena mengganggu orang yang hidup sendiri. Entah mengapa mereka lebih suka hidup menyendiri? Hitorigurashi bagi mereka bisa leluasa, bebas, tidak usah memikirkan orang/teman sekamarnya. Namun, sebenarnya di sisi lain hati mereka itu sepi, bagaimana jadinya tatkala rasa sepi melanda dan jatuh sakit tak ada yang menolong? Terutama seorang kakek yang bertahan hidup menyendiri namun akrab dan kadang menyapa kami. Tentunya butuh pertolongan dan tenaga jika sedang mengalami kesulitan. Suatu hari, di musim dingin ketika saya pulang, tampak kakek itu tergopoh-gopoh mengangkat jeriken minyak tanah untuk penghangat ruangan (stove). Serta merta saya menghampiri sang kakek, dan mengangkatnya ke atas. “Terima kasih, Nak...Wah kalau orang muda itu ada tenaganya ya,,,repot kalau sudah tua!“, begitu lirihnya. Saya yang termangu diam sejenak, ternyata hati manusia itu tak bisa dibohongi. Manusia dilahirkan hidup bersosialisasi bukan untuk saling menyendiri. Namun saya juga tak bisa menyalahkan mereka, karena kondisi dan sifat keluarga mereka yang membuat demikian. Bagi yang tak punya hasrat menikah juga banyak, karena alasan ekonomi atau tak mau diganggu dan bergaul dengan orang lain. Jika dilihat dari nalar kita, sebenarnya pikiran mereka itu salah, sekuat apapun manusia itu tidak selamanya bisa. Manusia akan memikirkan sehat jikalau sakit, begitu pula jika jatuh miskin berpikiran ingin menjadi kaya, ingin kembali muda ketika menjadi tua. Jika diambil kesimpulan, manusia itu membutuhkan sesuatu yang tidak ada “ningen wa naimono ni nedaru“. Bagi yang terbiasa hidup di desa yang sekelilingnya alam merasa sepi dan ingin ke tempat ramai. Sebaliknya, orang yang tinggal di hingar bingar kota ingin sekali ke tempat yang sepi, dan bisa hidup santai.
Hingga suatu saat, tersiar kabar dari teman bahwa kakek di ujung sana itu diketahui sudah meninggal karena tercium bau menyengat oleh tetangga.
Begitulah sepenggal kisah hitorigurashi di Jepang yang kian hari kian banyak orang yang hidup menyendiri.
GAYA MODIS MUDA JEPANG (ONIIKEI)
Kalau menurut kamus fashion, istilah onii-kei itu
dandanan yang lebih kalem/elegan( sedikit
formal)dibanding gaya ABG-cowok. Biasanya fashion
difokuskan untuk baju kemeja berkerah, jaket, blus
atau sweter yang dimasukkan ke dalam celana...Onii- kei
itu sendiri berasal dari kata onii (kakak laki2) dan
imbuhan akhiran
-kei(campuran/ turunan,grup/ kelompok, kemiripan) . Secara
harfiah mungkin artinya: gaya modis pria yang
keabang-abangan atau keom-oman.
Onii-kei sendiri dibagi dua:
1. Onii-kei yang luntur dari sifat ABG-nya, tipe ini
lahir begitu lulus/tamat dari masa ABG-nya.
Istilahnya transformasi mode dari ABG sendiri, dengan
gaya cukup formal dipadu potongan rambut yang mencolok
dan warna kulit hitam.Kebanyakan berusia 20-an awal.
http://plaza. rakuten.co. jp/me2blog/
Masih belum terlepas dari mens egg dan ada pula yang
mengenakan Extended mix..
2.Onii-kei yang Konsaba-kei, biasanya potongan rambut
dan busananya terasa nyaman dan warna kulitnya tidak
mencolok (tidak dibakar/jemur di hisaro=hiyake salon).
Umurnya lebih tinggi daripada tipe nomor 1 (berkisar
20-an hingga 30-an). Di samping itu, nuansa laki-laki
dewasa yang necisnya muncul (ada keeleganannya) .
Dikutip dari:
http://www.hyuki. com/yukiwiki/ wiki.cgi? %A3%B2ch% A4%CE%A5% D5%A5%A1% A5%C3%A5% B7%A5%E7% A5%F3%BC% AD%C5%B5# i31
-emhas-
BONEKA JEPANG (こけし)
Kokeshi adalah boneka kayu khas Jepang yang menggambarkan sosok gadis Jepang. Boneka ini dikenal sejak zaman Edo (1603-1867). Ciri khas khusus boneka ini adalah badan yang berbentuk silinder dengan kepala yang bulat di atasnya, serta tak adanya tangan dan kaki. Asal daerah yang membuat boneka unik ini adalah daerah Tohoku, sejak abad 17-18 diproduksi sebagai buah tangan dan cendera mata bagi para pengunjung yang mandi di air panas. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi
setelah Perang Dunia II, hingga saat ini kokeshi juga masih tetap populer, digemari banyak para kolektor karena kemolekan dan kesederhanaan bentuknya, sehingga diproduksi dan dijual tidak hanya di Tohoku di samping sebagai salah satu souvenir di tempat wisata. Yang sekarang sering dijumpai adalah shingata kokeshi (kokeshi baru), sementara kokeshi klasik dikenal sebagai dento kokeshi (kokeshi tradisional). Kreativitas kokeshi itulah yang menjadi fenomena baru dan sesuai dengan kreativitas seniman pembuatnya, sering dijual dengan harga yang sangat mahal.
Biasanya kokeshi ini terbuat dari bahan kayu keras (dogwood) dan kayu pohon Sakura. Bahan kayu tersebut ditaruh pada sumbu silinder mesin bubut (seperti pembuatan keramik), sambil berputar sedikit-sedikit kayunya terkikis. Kemudian setelah bentuknya sempurna, barulah dilukis rambut, mata, hidung pada bagian kepala dan wajah, lalu digambar baju kimono pada bagian tubuhnya dengan cat warna-warni. Teknik ini dinamakan sebagai teknik profesi seniman yang diteruskan secara turun-temurun dari seorang master hingga anak didiknya.
Keterangan gambar bisa dilihat di: http://www.iwashita.info/
Sumber: A Bilingual Handbook on Japanese Culture by: Sugiura Youichi & John K.Gillepsie
http://www.mail-archive.com/ppi@freelists.org/msg04375.html
Alih bahasa: emhas