CERITA SERAM
Cerita seram di Jepang yang saya dengar dan rasakan cukup banyak dan menarik. Tidak hanya di Indonesia, di Jepang pun yang namanya mahluk halus, roh gentayangan dan sebangsanya yakin ada. Karena menegangkan dan menariknya, TV Jepang pun tak tanggung-tanggung menyiarkannya. Seperti kumpulan foto-foto aneh yang dibahas dan dijelaskan oleh orang bisa hingga bagaimana cara mengatasinya.
Lebih dari itu, cerita dari teman atau pengalaman sendiri juga banyak. Senior saya di Shizuoka misalnya, pernah melihat prajurit Jepang zaman dulu lengkap dengan baju samurainya tanpa kepala di sebuah terowongan dalam perjalanan pulang tengah malam dengan mobil bersama temannya. Entah itu prajurit yang mati dipenggal zaman dulu, saya sendiri tidak tahu. Kemudian teman seangkatan saya yang menyaksikan seorang kakek yang tinggal di sebelahnya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa karena jatuh sakit. Teman saya pun kaget dan segera melaporkannya pada polisi. Setelah kepergian sang kakek, kamar apartemen itu dihuni oleh junior yang baru datang. Namun semenjak itu, banyak kejadian aneh yang dialami junior. Seperti bunyi tape rekorder yang tiba-tiba menyala.
KERJA DI SUPERMARKET
Pengalaman kerja paruh waktu di Jepang ternyata bermanfaat sekali. Ketika saya tinggal di Jepang selama satu tahun, saya mencoba untuk bekerja di sebuah supermarket yang letaknya tak jauh dari rumah. Cukup pakai sepeda 10 menit. Sebelum diterima kerja, awalnya saya menelepon apakah masih terima lowongan atau tidak, lalu dipanggil untuk wawancara dan menyerahkan CV lamaran. Dalam wawancara, yang paling sering ditanya adalah kemampuan bahasa Jepang, pengalaman kerja sebelumnya atau motivasi dan cita-cita masa depan. Biasanya pertanyaan ini muncul dari CV yang kita tulis.
Pekerjaan saya kali ini adalah mengemas ikan, sashimi, hasil laut lainnya ke wadah dengan rap plastik. Membereskan sampah (dus ikan), menempelkan label harga pakai mesin, menderetkan memajangnya di tempat jualan sambil menyerukan IRASSHAIMASE (selamat datang!). Tak sedikit pembeli yang minta ikannya untuk dipotong, dibersihkan sisiknya, atau diiris tipis siap dimasak/dibuat sashimi.
Banyak sekali jenis ikan yang saya sendiri kesulitan menghapalnya. Seperti:MAGURO (ikan tuna), IWASHI (ikan sarden), TOBIUO (ikan terbang), SAWARA (ikan tenggiri), KATSUO (ikan cakalang/kayu), FUGU (ikan buntal). SAKE (ikan salem/salmon), NAMAZU (ikan lele), IKA (cumi-cumi), TAKO (gurita). Hasil laut lain seperti: KONBU (gelagah laut), AONORI (rumput laut), KAIRUI (kerang-kerangan), KANI (kepiting), dsb. Belum lagi nama-nama produk hasil olahan laut tersebut.
Nama-nama hasil laut tersebut diklasifikasikan dan terdaftar di mesin yang terkomputerisasi, nomor kode sebagian besar mau tak mau harus dihapal, agar jika memberi label di mesin bisa cepat dan tidak bingung. Selama awal kerja, saya selalu melihat buku manual dan mencatat semua barang dagang yang harus diingat. Tak luput dari pandangan mata, ternyata banyak pula ikan yang diimpor dari luar, seperti ikan salem/salmon dari Kanada, udang dari Vietnam, Indonesia, India, Arab, ikan sidat dari China. Bahkan ikan yang jarang dan langka sekalipun, seperti daging ikan lumba-lumba, atau ikan paus. Dari sini kita bisa tahu bahwa Jepang sangat gemar sekali makan ikan dan hasil laut lainnya, sehingga muncullah berbagai menu masakan yang diolah dan berasal dari hasil laut ini.
Awalnya pekerjaan ini cukup menantang, tapi ada suka dukanya, karena bergelut dengan ikan, tak heran jika baju dan badan kena bau amis (baju kerja mesti dicuci seminggu 2/3 kali). Jika musim panas, gerah dan mudah capek cukup menyiksa. Jika musim dingin tiba, harus melawan rasa dingin mengambil ikan-ikan di dalam lemari es (meskipun pakai jaket).
Setelah kurang lebih 6 bulan, baru saya terbiasa, bisa meraba dan mengerti putaran kerja. Sampai suatu saat rekan kerja Jepang saya kagum dan memuji saya, padahal saya tidak mengharapkan pujian. Usaha dan jerih payah itu muncul justru semata-mata karena saya takut diberhentikan kerja dan demi menyambung hidup. Orang-orang yang bekerja di bagian sayuran dan buah-buahan serta pelayan/kasir pun sering bertegur sapa. Termasuk ibu yang duduk di meja dekat pintu masuk belakang sering memberi makanan atau minuman usai saya membuang sampah. Ada seorang ibu yang bekerja di binatu/dry clean, memberi saya sebuah buku map ketika saya akan berhenti kerja untuk meneruskan sekolah ke Gifu.
Akhirnya, tibalah saya dan rekan kerja orang Vietnam untuk berhenti kerja. Atasan saya semua merasa kehilangan, mereka bilang, MATA KAO DEMO DASHITE KITE NE!! "Jangan lupa, main ke sini ya!".
TAIHEN OSEWA NI NARIMASHITA (terima kasih banyak)...sahutku. Hingga suatu saat saya mampir ke supermarket itu ketika kembali ke Shizuoka.
Wah,,semua terperanjat!!
-emhas-