ひさしぶり
Song of The Day: AKB48 - Beginner 
Tadaima~ (=⌒▽⌒=)
Phew, akhirnya ada waktu juga untuk update blog-ku yang terbengkalai ini..
Aku juga tak yakin sih ada yang masih ingat aku punya blog di sini.. terbengkalai selama 2 tahun.. (  ̄っ ̄)
Untuk hari ini, aku ingin share sesuatu yang terjadi 10 tahun lalu..
Hari ini, tiba-tiba aku teringat kejadian di tournament game Winning Eleven nasional yang diselenggarakan sebuah majalah game terkenal.
Sewaktu aku masih SMA, meskipun dari segi akademik, physical ability, dan penampilan aku ini sama sekali nothing special, tapi ada 1 hal yang membuatku lumayan dikenal bahkan oleh adik/kakak kelas sekalipun, yaitu.. Winning Eleven ! \(*`∧´)/
Yup, Winning Eleven, sebuah Soccer Game di PlayStation, game yang sekarang English version-nya oleh banyak orang lebih dikenal dengan sebutan Pro Evolution Soccer.
Bisa dibilang aku adalah unofficial representative utama untuk game ini di sekolahku.. Well, yang official juga tak ada sih, sekolah mana mendukung yang beginian (  ̄っ ̄). Aku sering sekali memenangkan perlombaan game ini di banyak game center dan persewaan PlayStation kecil yang tersebar di Surabaya.
Sebenarnya aku juga termasuk 4 besar di game Tekken 3 sih, tapi... yang satu ini.. gap skill antara peringkat 4 (aku) dengan peringkat 3-2-1 amat sangat terlalu jauh.... Mereka bertiga mainnya benar-benar dewa, aku bahkan pernah dihajar 30-1 (1x menang gara-gara pakai Gon) melawan si peringkat 3 dan akhirnya aku benar-benar lost interest lanjut main Tekken 3.. ( ̄Д ̄;;
Anyway, back to Winning Eleven..
Waktu itu aku sparring dengan salah satu top player Winning Eleven Surabaya (anak sekolah swasta P), dia bilang skill-ku sudah hampir setara dengan top-top player yang pernah dia lawan di tournament, dia memang regular sih di tournament tingkat nasional, sedangkan aku sendiri belum pernah ikut tournament dalam skala besar. Pada akhir sparring, dia mengajak aku ikut tournament nasional sekitar 1-2 bulan lagi.
1 1/2 bulan kemudian, aku benar-benar ikut tournament ini, masih tingkat Surabaya sih, dan di sana aku berhasil melaju dengan mulus ke babak 32 besar.
Sebelum babak selanjutnya dimulai, salah satu teman sekolahku tanya, "Mana 'Dia' ? Kok nggak kamu ajak ke sini juga ?". Aku jawab, "Yah, 'Dia' kan ada les di sekolah, mana bisa datang, lagipula mana tertarik 'Dia' lihat beginian.."
Tanpa sepengetahuanku, ternyata temanku ini cerita ke temannya Dia kalau aku di sana sudah sampai 32 besar, dan....
Sebelum mulai babak 8 besar, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara yang sangat familiar..
Dia ternyata datang ke tempat tournament ini !! Dan.. bolos les... (°Д°;≡°Д°;)
Dari jauh aku dengar Dia (dan teman-temanku yang lainnya) menyemangatiku..
Normalnya, saat disemangati oleh pacar, orang yang dicintai begini, orang biasanya akan justru makin semangat, morale up dan makin konsentrasi kan ?
Yang terjadi di sini justru sebaliknya, karena terlalu 'fired up', permainanku jadi super kacau..
Aku yang style permainannya biasanya agak monoton tapi lumayan efektif, main di wing, dan selalu berusaha mencetak gol dengan menggunakan umpan cross + heading, tiba-tiba berubah jadi.. over stylish.. selalu berusaha mendobrak pertahanan lawan lewat jalur tengah, mulai main-main skill individu, dribble melewati barisan pertahanan lawan. Style yang biasanya hanya aku gunakan saat aku main-main dengan teman-teman di sekolah yang skill-nya tak terlalu bagus supaya pertandingannya jadi lebih seru dan gol-gol yang dihasilkan 'indah'.. (´_`。)
Hasilnya ? Yah, tentu saja aku dihajar habis-habisan, 3-1... (T_T)
Ini event pertamaku yang aku jalani saat aku sudah punya pacar.. akibatnya aku jadi salah tingkah sendiri saat tiba-tiba orang yang dicintai datang beri surprise seperti ini.. ( ̄Д ̄;;

Tadaima~ (=⌒▽⌒=)
Phew, akhirnya ada waktu juga untuk update blog-ku yang terbengkalai ini..
Aku juga tak yakin sih ada yang masih ingat aku punya blog di sini.. terbengkalai selama 2 tahun.. (  ̄っ ̄)
Untuk hari ini, aku ingin share sesuatu yang terjadi 10 tahun lalu..
Hari ini, tiba-tiba aku teringat kejadian di tournament game Winning Eleven nasional yang diselenggarakan sebuah majalah game terkenal.
Sewaktu aku masih SMA, meskipun dari segi akademik, physical ability, dan penampilan aku ini sama sekali nothing special, tapi ada 1 hal yang membuatku lumayan dikenal bahkan oleh adik/kakak kelas sekalipun, yaitu.. Winning Eleven ! \(*`∧´)/
Yup, Winning Eleven, sebuah Soccer Game di PlayStation, game yang sekarang English version-nya oleh banyak orang lebih dikenal dengan sebutan Pro Evolution Soccer.
Bisa dibilang aku adalah unofficial representative utama untuk game ini di sekolahku.. Well, yang official juga tak ada sih, sekolah mana mendukung yang beginian (  ̄っ ̄). Aku sering sekali memenangkan perlombaan game ini di banyak game center dan persewaan PlayStation kecil yang tersebar di Surabaya.
Sebenarnya aku juga termasuk 4 besar di game Tekken 3 sih, tapi... yang satu ini.. gap skill antara peringkat 4 (aku) dengan peringkat 3-2-1 amat sangat terlalu jauh.... Mereka bertiga mainnya benar-benar dewa, aku bahkan pernah dihajar 30-1 (1x menang gara-gara pakai Gon) melawan si peringkat 3 dan akhirnya aku benar-benar lost interest lanjut main Tekken 3.. ( ̄Д ̄;;
Anyway, back to Winning Eleven..
Waktu itu aku sparring dengan salah satu top player Winning Eleven Surabaya (anak sekolah swasta P), dia bilang skill-ku sudah hampir setara dengan top-top player yang pernah dia lawan di tournament, dia memang regular sih di tournament tingkat nasional, sedangkan aku sendiri belum pernah ikut tournament dalam skala besar. Pada akhir sparring, dia mengajak aku ikut tournament nasional sekitar 1-2 bulan lagi.
1 1/2 bulan kemudian, aku benar-benar ikut tournament ini, masih tingkat Surabaya sih, dan di sana aku berhasil melaju dengan mulus ke babak 32 besar.
Sebelum babak selanjutnya dimulai, salah satu teman sekolahku tanya, "Mana 'Dia' ? Kok nggak kamu ajak ke sini juga ?". Aku jawab, "Yah, 'Dia' kan ada les di sekolah, mana bisa datang, lagipula mana tertarik 'Dia' lihat beginian.."
Tanpa sepengetahuanku, ternyata temanku ini cerita ke temannya Dia kalau aku di sana sudah sampai 32 besar, dan....
Sebelum mulai babak 8 besar, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara yang sangat familiar..
Dia ternyata datang ke tempat tournament ini !! Dan.. bolos les... (°Д°;≡°Д°;)
Dari jauh aku dengar Dia (dan teman-temanku yang lainnya) menyemangatiku..
Normalnya, saat disemangati oleh pacar, orang yang dicintai begini, orang biasanya akan justru makin semangat, morale up dan makin konsentrasi kan ?
Yang terjadi di sini justru sebaliknya, karena terlalu 'fired up', permainanku jadi super kacau..
Aku yang style permainannya biasanya agak monoton tapi lumayan efektif, main di wing, dan selalu berusaha mencetak gol dengan menggunakan umpan cross + heading, tiba-tiba berubah jadi.. over stylish.. selalu berusaha mendobrak pertahanan lawan lewat jalur tengah, mulai main-main skill individu, dribble melewati barisan pertahanan lawan. Style yang biasanya hanya aku gunakan saat aku main-main dengan teman-teman di sekolah yang skill-nya tak terlalu bagus supaya pertandingannya jadi lebih seru dan gol-gol yang dihasilkan 'indah'.. (´_`。)
Hasilnya ? Yah, tentu saja aku dihajar habis-habisan, 3-1... (T_T)
Ini event pertamaku yang aku jalani saat aku sudah punya pacar.. akibatnya aku jadi salah tingkah sendiri saat tiba-tiba orang yang dicintai datang beri surprise seperti ini.. ( ̄Д ̄;;
World of Heavenly Sound (Part 1)
Current Mood: 
Song Of The Day: Lee Soo Young - 참아보려해
Audiophile, sebuah istilah yang sering ditujukan kepada mereka pecinta musik yang selalu mencari sebuah setup hi-quality audio yang terbaik, yang mampu mengeluarkan seluruh potensi sebuah lagu, memperdengarkan secara nyata art of music statement yang ingin disampaikan oleh sang komposer dan juga penyanyi lagu tersebut..
Kira-kira begitulah definisi audiophile menurut pendapatku..Sebagian orang mungkin sudah tahu bahwa aku, adalah seorang audiophile..Music telah menjadi bagian dari hidupku semenjak aku masih kecil, tak pernah ada 1 haripun telinga ini tak bersentuhan dengan music.
Sebelumnya, aku hanyalah sekedar penikmat musik biasa, aku selalu berusaha menerima musik apa adanya.
Aku bahkan mempunyai misconception tentang dunia audio seperti, "Music yang terdengar dari speaker, headset, headphone murahan itu tak akan jauh bedanya dengan jika didengarkan lewat speaker, headphone hi-end.". "Kalau kualitasnya terdengar kurang bagus, kesalahan ada pada sang penyanyi dan pencipta lagu.."
dan masih banyak lagi..
Pernah suatu kali aku mengeluh pada seseorang tentang betapa mengecewakannya kualitas suara penyanyi / band di atas panggung jika dibandingkan dengan kualitas suara mereka di rekaman Vinyl / CD..
Mendengar keluhanku ini, orang tersebut berkata kira-kira seperti ini, "Kualitas live performance pasti akan sulit sekali menyamai kualitas pada saat rekaman karena proses rekaman ini tak dibuat 1 kali rekam saja seperti live performance. 1 lagu saja mungkin bisa direkam per bagian-nya berulang-ulang sampai puluhan kali demi mendapatkan hasil yang maksimal. Producer, Composer, Artist, mereka semua bersatu, berusaha sepenuh hati untuk menghasilkan suatu music yang everlasting, sebuah masterpiece yang akan selalu dikenang sepanjang masa, "
Namun semua misconception itu hilang semuanya semenjak aku terjun ke dalam dunia Heavenly Sound ini yang lalu.. Berada di Surabaya yang memiliki "The Small Headphone Store" berisi racun audio ganas, membuatku sangat bahagia sekali. Berkat toko ini, penghalang yang selama ini membuatku merasa tak pernah puas di dalam mendengarkan music, sebuah veil yang selalu membuat music terdengar congested, akhirnya terbuka..
"Ini dia, this is the real music that the singer want me to hear.."
Semenjak saat itu, pandanganku terhadap music berubah.
Aku ingin tahu, aku ingin mengerti, aku ingin merasakan sepenuhnya idealisme music seperti apakah yang ingin ditunjukkan, dipresentasikan melalui musik ciptaan mereka ini..
....
...
..
Minggu lalu, aku hampir kehilangan semua ini..
<to be continued)

Song Of The Day: Lee Soo Young - 참아보려해
Audiophile, sebuah istilah yang sering ditujukan kepada mereka pecinta musik yang selalu mencari sebuah setup hi-quality audio yang terbaik, yang mampu mengeluarkan seluruh potensi sebuah lagu, memperdengarkan secara nyata art of music statement yang ingin disampaikan oleh sang komposer dan juga penyanyi lagu tersebut..
Kira-kira begitulah definisi audiophile menurut pendapatku..Sebagian orang mungkin sudah tahu bahwa aku, adalah seorang audiophile..Music telah menjadi bagian dari hidupku semenjak aku masih kecil, tak pernah ada 1 haripun telinga ini tak bersentuhan dengan music.
Sebelumnya, aku hanyalah sekedar penikmat musik biasa, aku selalu berusaha menerima musik apa adanya.
Aku bahkan mempunyai misconception tentang dunia audio seperti, "Music yang terdengar dari speaker, headset, headphone murahan itu tak akan jauh bedanya dengan jika didengarkan lewat speaker, headphone hi-end.". "Kalau kualitasnya terdengar kurang bagus, kesalahan ada pada sang penyanyi dan pencipta lagu.."
dan masih banyak lagi..
Pernah suatu kali aku mengeluh pada seseorang tentang betapa mengecewakannya kualitas suara penyanyi / band di atas panggung jika dibandingkan dengan kualitas suara mereka di rekaman Vinyl / CD..
Mendengar keluhanku ini, orang tersebut berkata kira-kira seperti ini, "Kualitas live performance pasti akan sulit sekali menyamai kualitas pada saat rekaman karena proses rekaman ini tak dibuat 1 kali rekam saja seperti live performance. 1 lagu saja mungkin bisa direkam per bagian-nya berulang-ulang sampai puluhan kali demi mendapatkan hasil yang maksimal. Producer, Composer, Artist, mereka semua bersatu, berusaha sepenuh hati untuk menghasilkan suatu music yang everlasting, sebuah masterpiece yang akan selalu dikenang sepanjang masa, "
Namun semua misconception itu hilang semuanya semenjak aku terjun ke dalam dunia Heavenly Sound ini yang lalu.. Berada di Surabaya yang memiliki "The Small Headphone Store" berisi racun audio ganas, membuatku sangat bahagia sekali. Berkat toko ini, penghalang yang selama ini membuatku merasa tak pernah puas di dalam mendengarkan music, sebuah veil yang selalu membuat music terdengar congested, akhirnya terbuka..
"Ini dia, this is the real music that the singer want me to hear.."
Semenjak saat itu, pandanganku terhadap music berubah.
Aku ingin tahu, aku ingin mengerti, aku ingin merasakan sepenuhnya idealisme music seperti apakah yang ingin ditunjukkan, dipresentasikan melalui musik ciptaan mereka ini..
....
...
..
Minggu lalu, aku hampir kehilangan semua ini..
<to be continued)
Memories of the past....
Current Mood:
Pada pagi hari ini aku akan bercerita tentang sesuatu yang terjadi pada diriku sejak malam itu 7 tahun yang lalu, sebuah rahasia yang belum pernah aku ungkapkan kepada siapapun, termasuk orang yang paling dekat denganku yaitu adikku.. Aku pernah beberapa kali mencoba menceritakannya tapi.. 'moment yang tepat' untuk bercerita ini tak pernah datang..
Dulu, pada blog ini, aku pernah berjanji untuk menuliskan cerita tentang teman masa kecilku yang mengungkapkan rasa sukanya padaku.. dan hari ini aku akan memenuhi janjiku itu..
That girl, sebut saja namanya R.. Karena urusan pekerjaan, akhirnya kita bertemu lagi sebagai seorang partner kerja sementara (hanya untuk 1 proyek saja). R adalah seorang wanita yang sangat supel, keahliannya dalam berbicara memudahkannya untuk akrab dengan siapa saja, Setelah proyek kita hampir sukses, R tiba-tiba mengajakku untuk pergi jalan-jalan, dan juga mentraktirku makan malam di sebuah restoran. Aku dengan santai menerima ajakannya karena.. yah.. bagi yang mengenalku pastilah tahu kalau.., aku ini.. um.. sangat suka dengan kata-kata seperti 'traktir', 'gratis/free',.. =P
Di restoran itu, sambil menunggu hidangan disajikan, R mulai bicara tentang masa kecil kita berdua..
Awalnya tak ada yang aneh dengan jalan pembicaraannya, namun di tengah-tengah, tiba-tiba dia berkata kira-kira seperti ini, "...kamu juga masih sama aja kayak dulu, aneh n tetep diam-diam menghanyutkan, wah kalo gini bisa-bisa tragedi yang dulu bakalan keulang lagi.."
"tragedi apa ?", tanyaku.
Sambil tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, dia menjawab,
"itu lho, dulu aku semasa SD naksir berat lho ke kamu......"
....
Wew.. swt..
..
Suasananya jadi agak 'aneh' setelah dia bilang begitu.. 'Aneh' dari sudut pandangku sih, karena kayaknya ekspresi wajah R sama sekali tak berubah, ia tetap tersenyum memandangku dengan tatapan yang.. um.. penuh percaya diri ?
Setelah itu, aku bertanya ke R, "Kok bisa ? Waktu itu apa yang membuat kamu suka aku ?"
Dan, mulailah ia bercerita panjang lebar tentang masa kecilku, saat kita pertama kali bertemu di bangku SD kelas 4. Pada saat itu, teman-teman cowokku yang sedang memasuki masa 'puber' menanyakan pendapatku tentang seorang cewek cantik berubuh seksi yang ada di majalah (ehm, sekedar informasi, ini majalah biasa lho.. bukan majalah porno..), Pada saat itulah R mendengar aku mengatakan sesuatu yang 'menurutnya' sangat berkesan dan 'membuka' pandangannya terhadapku.. Aku tak bisa menceritakan kata-kata apa yang aku ucapkan saat itu karena aku sendiri tak percaya diriku ini pernah mengatakan hal seperti itu..
"Kenaifan anak kecil ?"Mungkin juga, karena sepanjang yang aku ingat tentang diriku di masa lalu, sedari kecil aku memang punya berbagai pandangan yang tak biasa tentang dunia ini.. Jadi wajar saja kalau aku mengatakan hal seperti itu..
Namun bukanlah kisah tentang R yang ingin aku ceritakan pada pagi hari ini..
.
Sebenarnya, perkataan yang aku ucapkan sehingga membuatnya suka padaku, dan juga berbagai hal yang ia ceritakan padaku termasuk perkataanya kalau R adalah salah satu teman baikku semasa SD, aku... sama sekali tak dapat mengingatnya..
"Yah, wajar lah.. itukan sudah lama sekali, wajar saja kalau kamu lupa.."
Mungkin itulah yang ada di benak kalian saat ini tentangku..
Sepertinya, sudah saatnya aku menceritakan hal ini..
Aku, memang lupa, aku tak ingat apapun tentang segala yang R ceritakan padaku, tentang bagaimana R pertama kali bertemu denganku, tentang R yang duduk di belakangku, tentang siapakah itu R...
"R ? R siapa ? Teman baik sampai SD ? Huh ?"
"Apakah aku pernah punya teman bernama R semasa di SD kelas IV ?"
"Siapakah yang dulu duduk di belakangku ? Siapa yang duduk di sampingku ?"
"Kelas IV ? Kelas IV itu di mana ?"
..
Ingatanku tentang R, dan juga masa itu... kosong..
Pada pagi hari ini aku akan bercerita tentang sesuatu yang terjadi pada diriku sejak malam itu 7 tahun yang lalu, sebuah rahasia yang belum pernah aku ungkapkan kepada siapapun, termasuk orang yang paling dekat denganku yaitu adikku.. Aku pernah beberapa kali mencoba menceritakannya tapi.. 'moment yang tepat' untuk bercerita ini tak pernah datang..
Dulu, pada blog ini, aku pernah berjanji untuk menuliskan cerita tentang teman masa kecilku yang mengungkapkan rasa sukanya padaku.. dan hari ini aku akan memenuhi janjiku itu..
That girl, sebut saja namanya R.. Karena urusan pekerjaan, akhirnya kita bertemu lagi sebagai seorang partner kerja sementara (hanya untuk 1 proyek saja). R adalah seorang wanita yang sangat supel, keahliannya dalam berbicara memudahkannya untuk akrab dengan siapa saja, Setelah proyek kita hampir sukses, R tiba-tiba mengajakku untuk pergi jalan-jalan, dan juga mentraktirku makan malam di sebuah restoran. Aku dengan santai menerima ajakannya karena.. yah.. bagi yang mengenalku pastilah tahu kalau.., aku ini.. um.. sangat suka dengan kata-kata seperti 'traktir', 'gratis/free',.. =P
Di restoran itu, sambil menunggu hidangan disajikan, R mulai bicara tentang masa kecil kita berdua..
Awalnya tak ada yang aneh dengan jalan pembicaraannya, namun di tengah-tengah, tiba-tiba dia berkata kira-kira seperti ini, "...kamu juga masih sama aja kayak dulu, aneh n tetep diam-diam menghanyutkan, wah kalo gini bisa-bisa tragedi yang dulu bakalan keulang lagi.."
"tragedi apa ?", tanyaku.
Sambil tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, dia menjawab,
"itu lho, dulu aku semasa SD naksir berat lho ke kamu......"
....
Wew.. swt..
..
Suasananya jadi agak 'aneh' setelah dia bilang begitu.. 'Aneh' dari sudut pandangku sih, karena kayaknya ekspresi wajah R sama sekali tak berubah, ia tetap tersenyum memandangku dengan tatapan yang.. um.. penuh percaya diri ?
Setelah itu, aku bertanya ke R, "Kok bisa ? Waktu itu apa yang membuat kamu suka aku ?"
Dan, mulailah ia bercerita panjang lebar tentang masa kecilku, saat kita pertama kali bertemu di bangku SD kelas 4. Pada saat itu, teman-teman cowokku yang sedang memasuki masa 'puber' menanyakan pendapatku tentang seorang cewek cantik berubuh seksi yang ada di majalah (ehm, sekedar informasi, ini majalah biasa lho.. bukan majalah porno..), Pada saat itulah R mendengar aku mengatakan sesuatu yang 'menurutnya' sangat berkesan dan 'membuka' pandangannya terhadapku.. Aku tak bisa menceritakan kata-kata apa yang aku ucapkan saat itu karena aku sendiri tak percaya diriku ini pernah mengatakan hal seperti itu..
"Kenaifan anak kecil ?"Mungkin juga, karena sepanjang yang aku ingat tentang diriku di masa lalu, sedari kecil aku memang punya berbagai pandangan yang tak biasa tentang dunia ini.. Jadi wajar saja kalau aku mengatakan hal seperti itu..
Namun bukanlah kisah tentang R yang ingin aku ceritakan pada pagi hari ini..
.
Sebenarnya, perkataan yang aku ucapkan sehingga membuatnya suka padaku, dan juga berbagai hal yang ia ceritakan padaku termasuk perkataanya kalau R adalah salah satu teman baikku semasa SD, aku... sama sekali tak dapat mengingatnya..
"Yah, wajar lah.. itukan sudah lama sekali, wajar saja kalau kamu lupa.."
Mungkin itulah yang ada di benak kalian saat ini tentangku..
Sepertinya, sudah saatnya aku menceritakan hal ini..
Aku, memang lupa, aku tak ingat apapun tentang segala yang R ceritakan padaku, tentang bagaimana R pertama kali bertemu denganku, tentang R yang duduk di belakangku, tentang siapakah itu R...
"R ? R siapa ? Teman baik sampai SD ? Huh ?"
"Apakah aku pernah punya teman bernama R semasa di SD kelas IV ?"
"Siapakah yang dulu duduk di belakangku ? Siapa yang duduk di sampingku ?"
"Kelas IV ? Kelas IV itu di mana ?"
..
Ingatanku tentang R, dan juga masa itu... kosong..
