Kemarin

Kemarin aku membaca mengenai kisah tragis seorang gadis penjual telur bernama Sum Kuning. Lalu aku berpikir, bagaimana jika ada versi drama Korea ya pasti ada oppa ganteng, dan jleg dejavu. Ada sebuah drama Korea yang mirip, meski di drama ini si korban meninggal. Tapi alurnya sama. seorang gadis diperkosa orang kaya dan berpengaruh, orang tak bersalah dituduh, dipukuli, dan dipaksa mengaku, dan sang pahlawan muncul.
Tapi di drama korea itu pahlawannya pengacara, sedang di kejadian nyata, seorang polisi. Padahal aku kurang suka polisi. Apalagi sejak harus ngeluarin uang 1 juta buat ngeluarin motor yang ketabrak. Tapi bapak polisi yang satu ini bikin aku nangis. Dia sampai di pensiunkan dini loh. Dia itu seperti ikan yangelawan arus. Yoi, saat kejadian itu adalag saat saat kepatuhan. semua patuh pada penguasa, dan si bapak polisi ini malah melawan, ya bisa disamakan bapak polisi ini utramen lah. Tapi sayang e sayang, korban yang dibela kan masih hidup. karena masih hidup korban ini ketakutan banget sampai harus tunduk. bahkan jika korban meninggalpun keluarganya juga pasti tunduk. bukan krena jahat atau tidak tau diri. Aku ya kalau jadi korban juga begitu. kehilang kehormatan sudah sulit ditambah wajah, dan mungkin saja nyawa jika terus maju, lebih baik diam. Bukankah kita harus memilih yang sedikit mudaratnya.

Padahal ya Indonesia merdeka dan melawan penjajah itu karena pejuang berpikir, banyak mudarat untuk ku tapi berkat untuk cucu cucu ku.
hasilnya, berhasil.
seharusnya persoalan banyaknya mudarat ini dipikirjan sampai ke anak cucu 7 turunan. jadi bisa dilihat mana yang mudarat dan tidak.
Lalu jika disuruh memilih kira2 aku mau jadi bapak polisi atau ai gadis kuning itu? ya ku memilih yang sedikit mudaratnya lah. Aku menjadi bapak polisi. Otakku terlalu lemah dan tak akan pernah sanggup, apalagi dalam introgasi si gadis kuning di tuduh GERWANI, wihui... aku ya kalau dituduh pro PKI udah gentar kaki ini.

Sekian dulu ya.
Maaf ya aku menulis di blog jp. Aku hanya takut. Kan aku bukan Bapak Polisi.