shin ji kyoのブログ

shin ji kyoのブログ

ブログの説明を入力します。

Amebaでブログを始めよう!
Tittle : OVER (Ji-Hwan Couple)
Author : My My My
Rated : PG 13
Type : Twoshoot (1-1)
Genre : Romance
Cast : - Choi MinHwan
- Jung Il Wo
- Ri EunHye (Ji~) (OCs)

A/N: Dengan segala kemungkinan yang ada(?) author siap dihujat tanpa pamrih
V~,~V

Hepi ridiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing


Over’ By _Eddie Shin ft. Kayoko_

I Don’t want to let you go
I really don’t want to see you go
But its time for us to say goodbye
I hate to say its over now



Sorot matanya tajam menatap pria mature di hadapannya. Marah?? Tidak, justru gadis itu tak tahu apa yang dirasakan hatinya sekarang. Dua sisi berbeda dalam hatinya selalu berperang memenangkan situasi dan presepsi yang berbeda.
"Jadi kau tetap akan pergi ?"
"ne~, kau bisa mengerti kan eunhye-ah, kuharap kau mau menungguku"
"entahlah,1 tahun masa pacaran kita belum tentu menjamin aku mau menunggumu”
“wae ? ..kau ra.....”
“yah, , , aku ragu. Aku takut jika yang terjadi itu sebaliknya. Aku takut kau yang melupakanku"
"tidak akan, jika kau mau berjanji untuk menungguku, aku akan melakukannya juga." ujar pria itu dengan senyum khasnya. Sementara gadis bernama eunhye itu hanya bisa diam tanpa ekspresi mendengarkan pria itu berbicara.
"Australi tidak jauh, kau tidak perlu takut aku tidak kembali." yakin pria itu memegang bahu eunhye.
"baiklah, aku harus pergi, pesawatku take off 30 menit lagi, jaga dirimu eunhye-ah, jalga" pria itu berpamitan sambil mengecup pipi eunhye. Tidak ada reaksi sama sekali dari gadis itu ketika menatap kepergian pria yang sudah mencintainya 1 tahun terakhir ini. Sedih, ini terlalu menyedihkan bagi eunhye untuk sekarang ini. ketika ia benar benar membutuhkan sosok pria itu untuk membantu menyembuhkan penyakitnya. oh...tidak, ‘kebiasaanya’.

I Don't want to let you go
I really don't want to feel so cold
But it's hard for me to say goodbye
I hate to say it's over now



_3 years later_

"mwo?? jangan memandangku seperti itu. kau tahu, tatapan matamu itu menakutkan"
"issh~"desis eunhye. Sosok pria tampan disampingnya hanya membulatkan mata sekedar mencari jawaban atas tatapan tajam yang diberikan kekasihnya.
"kau benar menyayangiku ??" tanya Eunhye merebahkan kepalanya ke bahu pria tampan disampingnya itu."bagaimana jika aku tidak merasakan hal seperti itu terhadapmu,"
"wae? Apa kau masih memkirkan tentang Minhwan?? Tsk,aku akan tetap menyayangimu, itu sebabnya aku berada disampingmu sekarang ini" *nosebleeen bii~ T^T


Flashback


Eunhye POV

Puas!!!. Tapi aku masih ingin melakukannya lagi hahahah.
Sambil terus memakan coklat crispy bar, langkahku sedikit melambat ketika menyusuri jalanan di pinggiran sungai han. Targetku selanjutnya. Bukan hanya karena keramaian yang aku dapati di tepian sungai han ini tapi Sekaligus kutemukan target untuk sasaranku berikutnya. YES!!
Sreett~
Orang itu. Seseorang dengan sesuatu yang begitu menarik perhatianku tampaknya sangat menikmati aktivitasnya memotret beberapa sisi keindahan sungai han. Sekarang saatnya. Dengan sigap kuambil ponsel berbandul emoticon smile berwarna kuning dari saku belakang celananya dan segera pergi. Tapi kurasa keberuntunganku sedang tidak baik. Ia tiba tiba saja sudah mencengkeram pergelanganku hingga memutarnya kebelakang. Membuatku kini tertahan ditubuhnya oleh lengannya kekar yang menahan leherku.
"kau tidak bisa melakukannya padaku anak nakal, kau pikir aku tidak tahu” ia berbisik pelan. Nafasku memburu ketakutan diiringi bulir keringat yang mengucur deras melalui pori pori wajahku. Aku takut pria ini melakukan hal kejam terhadapku. Pelecehan seksual!!!! Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa *Plaaak=,=
"Lepaskan aku!!"
" Tidak akan. kau pikir segampang itu huh?. Anak nakal sepertimu sebaiknya kuserahkan ke kantor polisi"
"andweee~ jangan macam macam. Memangnya apa salahku huh" pria itu menggantung tanganku kehadapan wajahnya. Seolah menyadarkanku akan barang miliknya yang sudah berpindah tangan.
"Lalu ini apa huh??. Ini milikku, tapi kenapa bisa ada ditanganmu. Kau mencurinya" ujarnya. Skak mat!!! Kali ini aku sudah tertangkap basah. Tidak mungkin bisa mengelak. Tapi aku harus meawan. Yah~ melawan. Aku takut jika dia serius akan membawaku ke kantor polisi. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk bisa lepas dari cengkramannya. Sayang, jelas tidak mungkin tubuhku yang kurus kering menyisakan tulang ini bisa melawan tenaganya yang lebih besar dariku.
"LEPASKAAN!!" aku memberontak. Semua orang yang berlalu lalang mengalihkan perhatiannya. Memandang aneh kerahku dan pria tampan tak berperasaan itu.uups~. Diseretnya tubuhku menjauh dari keramaian.

"keluarkan semua" ujarnya.
"apa?!!?. . . .Memangnya apa yang harus kukeluarkan" dia melepas lengannya yang sedari tadi menahan leher beserta cengkramannya di tanganku. Direbutnya ponsel flip top miliknya dari genggamanku.
"barang barang itu bukan milikmu, cepat keluarkan atau aku yang akan mengeluarkannya sendiri secara paksa" pria itu berkacak pinggang. Memberikan sorot mata tajam kearahku.
"kau!! Aku tidak punya urusan denganmu" sengitku, lalu beranjak pergi. Na’as!! aku kalah cepat darinya. Ia buru buru menahan lenganku.. Tangannya menyelinap ke saku belakang celanaku dan mengambil sesuatu. Dasarr messuuuuum !!!!
"kalung ini bukan milikmu" ujarnya. Ia merogoh saku kemejaku yang terbuka. Hanya berfungsi sebagai outfit melapisi kaosku.
"ponsel ini sangat mahal, pintar sekali kau memilih barang curianmu, hqeh" ejeknya. Ia beralih ke saku depan celanaku dan merogohnya.
"mwo?? Sampai tali bra bermotif lollipop seperti ini kau curi juga??? Ck. .ck. . Payah"
"apa urusanmu, cepat kembalikan" aku memekik meminta semua barang itu kembali. Ia meraba raba seluruh tubuhku mencoba mencari apa masih ada barang lain yang kusembunyikan.
"buka sepatumu"
"apa apa'an kau ini, kau pikir kau siapa berani memerintahku seperti itu!!" bentakku emosi. Ia tak bergeming dan malah berjongkok. Ia segera melepas sneaker kesayanganku dan melemparnya begitu saja sembarangan. rrawwwarrr
"ya~ lepaskan" aku meronta memukul mukul punggungnya tanpa ampun.
"bagaimana bisa kau menyimpan mug sekecil ini disepatumu (author brasa aneh pas nulis =.=a) ck. . .ck pintar sekali. Ukuran sepatumu pasti lebih besar dari ukuran kakimu"

"puas, kau huh?? Bawa pulang saja barang barang itu, aku tidak butuh"
aku memutar tubuhku untuk segera pulang. Jangan harap kali ini dia bisa menahanku lebih lama. Emosi, marah bercampur ketakutan sudah bercampur jadi satu dalam diriku.
Seettt~
Pria itu melepas topi dikepalaku. Mengakibatkan rambut sebahuku jatuh tergerai.
"ada 30ribu won di dalam topimu, kenapa kau menyimpannya sendiri huh, curang sekali" ia mengambil lembaran won dari dalam topiku dan memandangku dengan tatapan tajam.
"m. . Mwo?!! Kau. . . Jadi kau wanita"
"IYA!! KAU HERAN?? Tidak usah menatapku seperti itu." ketusku.
"terimakasih sudah menuduhku sebagai pencuri, aku memang mengambil barang barang mereka tapi aku hanya meminjamnya. MEMINJAMNYA!!!" ketusku. Ia hanya membuka mulutnya seperti orang linglung. Aku segera pergi dari hadapannya. Menyebalkan. Untung saja aku bisa menahan diri, kalau tidak,.,,.,.Rraaaaaawrrrrrrrr *catwomen beraksi
"hey. . .tunggu"


oooooooOOOOOooooooo


"Raan~ kumohon, bantu aku agar bisa sembuh,, "
"membantumu??? Bagaimana caranya menyembuhkan cleptomaniamu???” Ran sedikit menekankan kalimatnya..
“setidaknya kau harus berusaha menahan dirimu sendiri. Akn sangat sulit jika orang lain yang harus memaksamu berhenti" tandas Ran.
"jangan menyebutku cleptomania, aku tak suka =,="
"lalu apa? Pencuri. . . Hahaaha, kurasa itu lebih menyakitkan " candanya sembari menepuk bahuku pelan.
"tsk, lalu aku harus bagaimana, aku tidak ingin mencuri lagi. Sungguh, aku benar benar malu. kemarin seorang pria menangkap basah aksiku"
"mwo?" Ran terlonjak dari kursi didepan komputer dan menghampiriku di ranjang.
"kau tertangkap basah? Bagaimana bisa? dia melaporkanmu ke polisi?" Ran memberondongku dengan berbagai pertanyaan.
"panjang, aku malas menceritakannya padamu, kerja otakmu lambat sekali" cibirku. Ran memutar bola matanya menatapku jengkel.
"kali ini kau beruntung, jika kejadian itu terulang lagi, bisa bisa kau dijebloskan ke penjara"
"kau menakutiku??"
"tidak, apa untungnya" Ran memasang wajah mengejek. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Ran. Sekarang aku memang beruntung karena pria itu tidak sampai melapor ke polisi, tapi untuk berikut dan berikutnya. Jika aku masih melakukannya. Eerrrrrr~ ,.,.,.pintu penjara begitu jelas melayang di benakku.
"Ran, kau jadi pergi ke toko buku hari ini?? Kenapa Mir belum menjemputmu"
"aku pergi sendiri, dia sedang ada praktikum di kampusnya"
"ahh. . .kalau begitu biarkan aku menemanimu pergi. Janji! kali ini aku tidak akan memintamu mentraktir es krim"
"geez~ ,,,,, maniak es krim!. aku masih bisa pergi sendiri. Aku tidak ingin kau menjadikan toko buku itu targetmu berikutnya. "
"aniyo~ aku tidak akan melakukannya Ran, aku pasti bisa menahan diri, janji! biarkan aku menemanimu" janjiku, entah untuk yang keberapa kalinya sambil memohon, mengoyak lengannya. Sesaat Ran mengangkat alis sembari mengangguk setuju.

oooooooOOOOOooooooo


Side POV

Aku melihatnya lagi. Gadis itu, aku bertemu dengannya lagi dengan penampilannya yang berbeda. Meski aku bisa mengenali posturnya dengan tatanan rambut tergerai tanpa topi itu.
Ia meraih satu buku dari rak.
‘Memangnya buku apa yang bisa dibaca oleh anak nakal seperti dia’
Gadus itu hanya membuka lembar demi lembar secara acak. sebentar kemudian kulihat ia menyelipkan bukunya ke balik punggung.
"kembalikan eunhye-ah, kau sudah berjanji tidak akan melakukannya bukan!!?" tegur seorang gadis cantik berbicara dari arah belakang punggungnya.

"tsk, kau selalu saja bisa menebak =,=" gerutu gadis yang tadi dipanggil eunhye oleh temannya itu. Jadi namanya eunhye.

"cepat kembalikan atau aku marah padamu"

"Ne ne. . . .cerewet sekali" gadis yang tadi memperingatkan eunhye kini beranjak menyusuri dua rak berikutnya meninggalkan eunhye sendiri. Aku mendekat kearahnya.

"haii…. akhirnya Kita bisa bertemu lagi" sapaku enteng. Dia terkejut dan segera memutar tubuhnya hendak pergi.
"mau kemana anak nakal, kau mau mencuri lagi ya, ck. . Ck. . .ck, kau tahu kan satpam yang berjaga di pintu masuk??" aku menahan bahunya memutar kearahku.

"untuk apa kau kemari, sengaja ingin membuntutiku huh?? Kau belum puas membuatku malu tempo hari. Tsk aku malas berurusan denganmu"

"Tunggu, kau menginginkan benda ini kan" kataku sambil menggantung bandul ponsel berbentuk smile. Air wajahnya berubah. Matanya begitu memperlihatkan jika dirinya memang tertarik dengan benda ini. Tapi gadis manis itu segera merubah mimik wajahnya berubah garang. Sedikit garang. Seperti gengsi jika ia benar benar menginginkan benda ini. Tunggu,,.,.,aku menyebutnya manis???. Hahahah,.,. apa aku sudah gila=,=. Tanpa pikir panjang kuberikan bandul ponsel itu padanya. Ia menatapku bingung sembari menggenggamnya.

"Eunhye-ah, kajja kita pulang, aku sudah mendapatkan buku. . .nya" ujar suara gadis yang tadi memergoki Eunhye. Dia memotong kalimatnya saat melihatku menggenggam tangan temannya.

"ah. . .Ran kau sudah selesai?? Kajja kita pulang" ajaknya.

"dia. . .temanmu?"

"ah ani. . Aku tidak mengenalnya, sudahlah lebih baik kita pulang saja" ujarnya seraya mendorong tubuh temannya untuk segera pergi.

‘jadi namamu eunhye?’


"heii. . .namaku Jung Il Woo, kau Eunhye kan" panggilku dengan nada tinggi meskipun ia tak merespon sama sekali panggilanku. Sadar jika ini masih ada didalam toko buku, semua mata memandang kearahku seolah menyuruh untuk membungkam mulutku rapat rapat.

_Flashback End_


Minhwan POV

Kuperiksa sekali lagi koper diatas ranjangku dan merapikan isinya. Besok pagi pagi sekali aku harus bertolak ke seoul setelah selesai menuntaskan masa studyku di australia. Aku merindukan seoul, aku merindukan semua yang ada disana, tak terkecuali kekasihku.

"aku menepati janjiku eunhye-ah, aku akan kembali ke seoul dan bertemu denganmu" batinku. Tak lepas memandang layar ponsel. Menampakan diriku dengan bibir mengerucut sebal dan eunhye disampingku.
Minhwan POV END



Author POV

Semua berjalan seperti air. Mengalir begitu saja tanpa direncanakan.terjadi tanpa prediksi yang pasti namun beginilah kenyataanya. Pria bernama jung il woo yang dikenal eunhye setahun setelah kepergian minhwan itu, kini menjadi kekasihnya tanpa bisa disangkal. Terlalu banyak kenangan yang ditorehkan il woo dalam kilasan hidup seorang Ri Eunhye. Perjuangan il woo selama ini demi menemani dan membantu eunhye menghilangkan kebiasaan buruknya sudah membuat gadis itu jatuh hati. Tidak menyangkal jika hatinya juga menginginkan lebih dari sosok seorang Jung Il woo. Lebih dari sekedar teman baginya.

Chu~

"YAA~ ini tempat umum, kenapa menciumku tiba tiba!!" protes eunhye seraya melayangkan tinjunya.

"tidak ada larangan disini untuk melakukannya. Tetanggamu juga tidak akan ada yang memperhatikan kita" ujar pria itu dengan tatapan menggoda. membuat eunhye salah tingkah.

"sekali lagi kau melakukannya, kau akan tahu . . ."

"eunhye-ah" sebuah suara berseru memanggil namanya membuat kalimatnya terhenti. Terkejut. Sadar akan siapa sosok yang ditangkap oleh retina matanya di seberang jalan. memperhatikan dengan seksama pria yang kembali mengusik hatinya. Sekali lagi gadis itu menajamkan penglihatannya, memastikan apa yang dilihatnya adalah benar. Yah, pria itu, ‘kekasihnya’ telah kembali.

"Minan!!" serunya. Minhwan tersenyum menampakkan eye smile' yang menjadi khasnya berjalan mendekat. Dipeluknya tubuh gadis kurus itu. Postur tubuhnya yang lebih pendek tak sedikitpun menghalangi niatnya untuk mengecup pipi eunhye. Kekasihnya.

"Aigoo~ aku sangat merindukanmu noona, bagaimana keadaanmu, apa baik baik saja?" tanya minhwan antusias, membuat gadis itu hanya bisa berdiri mematung. Ia tidak tahu harus berbuat apa ketika dua namja yang telah mengisi hidupnya kini berada dalam satu tempat yang sama. Dengan ‘posisi’ yang sama. Tapi Minhwan seolah tidak menyadari sosok Jung il woo disana.

"Sebaiknya aku pulang eunhye-ah" il woo berpamitan. Menyadari akan kebekuan yang merasuki tubuh eunhye. Gadis itu hanya bisa mengangguk kaku seperti robot seolah tersihir oleh keadaan.

Author POV END


Minhwan POV

"siapa pria itu?? Aku baru melihatnya"

"dia. . . Namanya jung il woo, dia temanku"

"teman??" tanyaku sangsi sambil mengerutkan keningku.

"ah yaaa, itu pasti temanmu,, kenapa aku jadi berpikir itu kekasihmu, babo haha, kalian akrab sekali kelihatannya" potongku cepat. Cih, teman?? Apa berciuman ditempat umum seperti tadi bisa dikatakan teman. Jangan kira aku tidak melihatnya eunhye-ah.

Tidak ada teman yang berani mencium temannya seperti yang kalian lakukan tadi jika tanpa hubungan yang spesial. Kau membohongiku!! Apa kau berniat mengkhianatiku ri eunhye?? Aku kembali untuk menepati janjiku.

"nan bogoshippeo ji~ kau lama tidak memberi kabar padaku akhir akhir ini. Memangnya kau tidak rindu padaku huh??"

"ahaha. . . kedatanganmu benar benar membuatku terkejut minan, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya" eunhye tertawa garing. Aku sadar, dia pasti shock melihatku tiba tiba sudah berada di seoul sekarang ini.

"kejutaan.,,.,.,.,.,." tawaku lepas dan kembali memeluknya. Berusaha mencairkan kebekuan. Berusaha bersikap biasa biasa saja seolah tidak ada hal aneh yang sebenarnya ingin sekali kuketahui.

"aku lapar, kajja kita masuk, ahjuhmma pasti sudah memasak makanan, sebentar lagi kan makan malam" ujarku semangat. Aku menarik tangan eunhye untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu jawaban.


Eunhye POV

Voila! Lihat hidupku sekarang. Dua orang itu kini hadir bersamaan masuk dalam kehidupanku. Membuatku bertambah bingung dan terperangkap oleh permainan cintaku sendiri. Bingung dengan perasaanku yang sebenarnya. Aku terlanjur mencintai il woo ketika aku masih berstatus sebagai kekasihnya. Saat itu aku takut minhwan melupakanku. Tidak lagi mencintaiku sekembalinya dari Australia. Membuatku memilih menyelamatkan perasaanku sendiri dari rasa sakit hati. Membiarkan perasaanku mencintai dan dicintai orang lain. Dan sekarang minhwan benar benar kembali dengan penampilan yang sedikit lebih dewasa dari tiga tahun yang lalu.

Ia semakin tampan. Choi Minhwanku.

"ji~ waeyo?? Kenapa hanya diam sejak tadi, kau tidak senang aku mengajakmu ke taman ini?" minhwan mmengayun ayunkan tangannya didepan wajahku. Membuatku sedikit terkejut.

"ah aniyo. . . hanya merasa kedinginan saja" bohongku. Minhwan tersenyum. Aku sangat suka melihat senyumnya seperti ini. Matanya yang menyipit selalu bisa membuatku gemas.

"Minanie. . .apa yang membawamu mau kembali kesini?, ahjuhssi dan ahjuhmma kan tinggal disana"

"dirimu" jawab minhwan cepat.

"nde??"

"aku kembali karena dirimu ji, aku menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan kembali kesini, kau juga kan" tanyanya. Kali ini aku merasa tersudut dengan pertanyaannya.

"Jika aku melupakanmu. . . Bagaimana??"

"aku pasti akan langsung menikahimu" tawanya. Aku mendesis memukul lengannya.
“sebelum orang lain memilikimu” ia melanjutkan kalimatnya. Aku tertegun beberapa saat. Berharap kata-atanya barusan tidak bermaksud apa apa. Dia tidak tahu. Dia tidak mengenal il woo, terlebih hubungan kami.

"tunggu disini, kau mau kubelikan es krim?? Aku segera kembali" belum sempat aku menjawab minhwan sudah melesat menghampiri penjual es krim di ujung pintu taman. semakin miris menyaksikan ini semua. aku tak tega untuk menyakiti minhwan meski perasaanku sudah berubah terhadapnya. Il woo berhasil membuatku mencintainya, rela menemaniku berjuang keras melawan ‘penyakit’ yang mereka bilang cleptomania itu.

Langkahku berhenti disamping seorang wanita cantik. Terlihat sekali ia sedang sibuk berbicara serius dengan seseorang melalui ponselnya. Tanganku mengarah ke pinggangnya dan menyentuh benda logam tipis yang melingkar ditubuh rampingnya.

"jangan memulainya lagi, kau sudah berjanji untuk tidak mencuri lagi kan??" bisik seseorang seraya menangkis tanganku secara tiba-tiba dan mencengkeramnya. Membatalkan aksiku.

"aah maaf nona, apa itu uang koinmu, sepertinya kau menjatuhkannya tadi" tunjuknya ke rerumputan. Mengalihakn perhatian wanita itu kebawah. Membuatnya membungkuk dan memungut sesuatu apa yang disebutnya koin tadi.

"ah Ne. . gomawo" ujar wanita itu lalu bergeser sedikit menjauh dari tempatnya semula.

"oppa~" seruku.

"wae, ini sudah malam,kenapa berjalan sendirian disini" tanya il woo masih terus memegang tanganku.

"ani, aku bersama minan, dia sedang beli es krim. ."

"jii~ es krim untukmu" minhwan berjalan cepat kearahku. "oh, kau ada disini juga??"

"minan, kau makan sendiri saja es krimnya, sepertinya aku sudah kenyang" kataku beralasan. Konyol!! Bahkan aku saja belummakan malam. Ekspresinya berubah dingin dan kaku ketika aku menolak pemberiannya.

"maaf sudah mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi" il woo yang menyadari perubahan suasana diantara kami bertiga langsung mencoba menjauh. Kutarik tangannya sebelum ia pergi.

"tunggu oppa!"

"oppa?? Ji~ ...Kau memanggilnya oppa?? Apa hubungan kalian sedekat itu?" desak minan. Wajahnya seolah menghakimiku meminta jawaban jujur.

"Dia. . . Sudah kubilang dia temanku min. . ."

"aku kekasihnya!" potong il woo cepat sebelum kalimatku tuntas. Tiba tiba saja tenggorokanku seperti tercekat.
'Ini bukan waktu yang tepat Jung il woo, kenapa kau mengatakannya sekarang. Aku butuh waktu untuk ini' batinku. Tubuhku membeku, tidak, minan juga. Ia sama diamnya denganku menatapku dan il woo secara bergantian.

"eoh" hanya itu tanggapannya. Bibirku menganga melihat ekspresi minhwan yang datar datar saja. Kupikir dia akan marah atau bahkan melayangkan bogemnya. Sekilas ia melirik kearah tangan kami yang masih bergandengan. lalu kemudian ia tersenyum seolah tidak ada apa apa.

"ji~ aku mau pulang sekarang, kau mau ikut bersamaku atau tidak"

"minan. . .noe gwenchanayo??" tanyaku hati hati. Lagi lagi ia hanya tersenyum tanpa berkata YA atau TIDAK.

"ah arraseo,.,.,.sebaiknya aku pulang sendiri saja. jalga,," minhwan melambaikan tangannya sebelum akhirnya berjalan menjauhi kami. Menyisakan pertanyaan yang bergelut didalam benakku. Bukan itu respon yang ingin kudapatkan. Lebih dari itu. Aku ingin respon yang menunjukkan jika ia benar benar marah!!. Atau,.,.,membiarkanku melakukannya. Menyakiti hatinya demi orang lain.


"oppa"

"hmm"

". . ."

"dia baik baik saja, kau lihat kan" ujar il woo berusaha membuatku tenang. Tanganku masih menggenggam erat meremas tangannya. Aku menangis seketika. Lagi lagi tidak tahu harus berbuat apa.

"kau menyesal melakukan ini semua?" tanyanya. Aku menggeleng lemah sambil terus membiarkan air mataku mengalir emmbasahi pipiku.

"apa kau pikir ini waktu yang tepat untuk mengatakan padanya. Aku hanya merasa kurang siap oppa. Perasaanku terhadap minan memang sudah luntur, tapi aku tak tega jika harus meninggalkannya seperti ini"

"Aku egois sekali. , . mianhae oppa. Aku hanya takut untuk sakit hati"

"jika kau sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, kau juga harus siap untuk merasakan sakit hati hye, sepertinya itu terlihat lebih adil " il woo meraih bahuku yang masih bergetar dan memeluknya. Arah pandangku masih lurus menatap kedepan. Menyelami bekas jejak langkah minhwan yang sudah menghilang.


To Be Continue__