Pengarang : Bonni Rambatan
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Plot Point
Jumlah halaman: 197 hal.
Desain sampul: Teguh Pandirian, Bonni Rambatan
Pranala luar: http://www.cosplaytheseries.com/

Pada awalnya, saya memilih buku ini tanpa ada pretensi apa pun. I mean, buku bertema Korea dan Jepang tengah nge-hitsekarang, jadi wajar saja kalau buku seperti ini--yang menggunaka aksara Asia di sampulnya--turut mengisi rak di toko buku. Namun, apa yang saya pikirkan ternyata salah. Lebih dari itu, buku ini--kalau mau jujur--benar-benar melebihi ekspetasi saya. Cosplay The Series ini sebenarnya merupakan "fan-made web series" (begitulah yang disebut di situs web mereka), tetapi kini, serial itu sudah mulai merambah ke berbagai bidang. Apabila ada yang tertarik untuk melihat lebih jauh, silakan klik tautan yang tersedia di atas. Terlepas dari hal itu, saya akan menyoroti karya sastra ini saja.
Sinopsis
Oke, sekarang, mari kita masuk ke sinopsis. Cosplay The Series bercerita mengenai hari-hari dari para anggota Q-Cosushinkai Cosplay Club, klub cosplay SMA Harapan Bangsa, yang sedang berada dalam dilema karena klub mereka terancam bubar. Adapun tokoh utama dari novel ini--yang benar-benar utama, omong-omong--adalah Annisa, seorang cewek yang baru saja bergabung dengan klub, tapi harus merasa kecewa karena menghadapi kenyataan bahwa ekskul favoritnya nyaris berantakan. Kenapa saya bilang benar-benar utama adalah karena Annisa memperoleh fokus lebih besar dibandingkan karakter lain, sementara dalam serial ini, karakternya saya rasa tidak dapat terpisahkan. Adapun karakter lain adalah (ini saya ambil dari sinopsis back cover): Vincent-senpai, Sang Pendiri dengan wajah bishonen-nya, Ocha Sang Ketua dengan kipas kertas dan keceriaannya, Agnesya Sang Lolita dengan renda dan akseosri-aksesori lainnya, Eka sang komikus, dan Bagas Sang Ksatria Baja. Kesemua orang ini pada mulanya menikmati "perlindungan" dari sang Kepala Sekolah, Ibu Kartini. Namun, atas alasan yang tidak jelas, tiba-tiba Ibu Kartini memutuskan untuk membubarkan klub itu. Akhirnya, Ocha sang ketua pun mengajukan tawaran: dalam tiga puluh hari, mereka harus membuat sebuah event yang dapat membuktikan mereka masih layak untuk dipertahankan.
Kira-kira begitulah garis besar ceritanya. Sekarang, kita masuk ke penilaian.
Pembahasan
This work--unexpetedly--great. Memang, konfliknya sendiri sederhana, dan bahkan bisa dibilang cukup simpel. Namun, yang simpel adalah konflik yang berkaitan dengan alur, dan bukannya yang berkaitan dengan karakter. Itu karena konflik yang terkait dengan karakter dibahas dengan cukup mendalam di sini, membuat karakter dalam buku menjadi semakin kuat. In fact, buku ini mungkin merupakan karya yang (para) karakternya paling kuat yang pernah saya baca. Itulah kenapa saya berkata bahwa (para) karakter dalam buku ini tidak tepisahkan; elemen-elemen dalam buku nyaris sebagian besar didedikasikan bagi pengembangan karakter. Dalam novel ini sendiri, baru tiga karakter yang diulas latar belakangnya, yakni Ocha, Bagas, dan Agnesya. Belum Vincent-senpai yang sejak awal latar belakangnya di-foreshade. Belum juga apabila ada penambahan karakter lain. Intinya, Bonni Rambatan sang pengarang sukses membangun karakterisasi di sini, dengan membuat latar belakang yang cukup mengena dan--tentu saja--ciri khas dari setiap karakter. Ada Nesya yang menyukai aksesori Loita. Ada Bando yang muram dan hening. Ada Yogi sang penyedia barang-barang bajakan. Sekali lagi, ciri khas dari tiap karakter ini membantu mempermudah melakukan identifikasi tokoh. Memang, perlu penyesuaian untuk mengingat karakter yang jumahnya cukup banyak, tapi saya terbantu dengan rasio kemunculan karakter yang cukup masuk akal.
Berikutnya, deskripsi dan narasi. Deskripsi dalam buku ini cukup baik; setidaknya cukup detail. Enak dibaca, tapi tidak berbunga-bunga, dan juga lumayan pas penempatannya. Kemudian, untuk narasi, surprisingly fabulous. Ada beberapa frasa dan istilah yang bagus di sini, dengan beperpaduan antara gaya bahasa ngepop dan juga gaya bahasa nyastra. Selain itu, tentu saja, ada beberapa istilah khusus-penggemar-Jepang (baca: otaku), yang (sayangnya) tidak ada penjelasan atau bahkan sekadar catatan kaki. Cukup unik dan atraktif, tapi tidak begitu reader friendly. Satu hal lagi, beberapa bagian tampak terlalu telling, sehingga terkadang muncul kesan membosankan. Namun, tidak begitu bermasalah bagi saya.
Berikutnya, alur, konflik, dan adegan. Seperti yang saya katakan, alur dan konflik dalam cerita ini sederhana: hanya perjuangan para Q-Cosushinkai Cosplay Club (disebut pula dengan Q-Club) untuk mencegah klub mereka bubar. Very focused matter, indeed. Namun, subalur dan subkonfliknyalah yang menjadi daya tarik, yang secara implisit maupun eksplisit memberikan berbagai amanat seperti "mendeklarasikan kedewasaan" dan juga "membuka pandangan" (untuk lebih jelasnya, silakan baca sendiri di bukunya). Alurnya sendiri menggunakan campuran alur maju dan flashback, dengan transisi yang tidak membingungkan. Berikutnya, adegan-adegan dirancang dengan cukup tertata, sehingga menghasilkan alur yang terintegrasi dengan cukup baik. Akan tetapi, kelemahan dari cerita ini adalah temponya yang agak terlalu cepat, sehingga terkesan melompat. Not to mention the typos dan juga bahasa asing yang tidak ditulis miring, yang mana cukup banyak saya jumpai di sini. Untuk ending, well, karena ini katanya merupakan serial, maka kita tunggu saja kabar baiknya. Setidaknya, epilognya memberikan kesan menutup.
Kemudian, untuk sampul. Saya jarang mengomentari sampul, tapi sampul buku ini cukup worthy untuk dikomentari. Terkesan simpel, dengan menggunakan warna pink dominan, dan dengan gambar seorang gadis mengenakan Lolita fashion. Harus saya akui, cukup eye-catching. Dan ilustrasi bagian dalamya,well, cukup bagus. Hanya saja, saya kurang setuju apabila website serial ini mengklaim bahwa ini adalah light novel, karena gaya bahasa dalam buku ini belum dapat memenuhi standar LN.
Penilaian? Cosplay The Series: Cosplay dan Kebanggan Mereka bisa saya katakan bukan sekadar teenlit atau fiksi young adult biasa yang dapat kamu temukan di toko buku. Aside of nuansa kultur pop Jepang yang kental (dan juga upaya pesan glocalisation, tentunya), buku ini membawa berbagai pelajaran yang terbungkus dalam balutan karakterisasi yang apik. Kalau kamu penyuka budaya Jepang dan atau sedang mencari buku dengan deep characterization, dan yang "membuatmu berpikir" , maka buku ini amat direkomendasikan. Finally, saya harus setuju dengan petikan di halaman 181 buku ini: "Cosplay bukanlah sekadar cosplay."
Happy reading!
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Plot Point
Jumlah halaman: 197 hal.
Desain sampul: Teguh Pandirian, Bonni Rambatan
Pranala luar: http://www.cosplaytheseries.com/

Pada awalnya, saya memilih buku ini tanpa ada pretensi apa pun. I mean, buku bertema Korea dan Jepang tengah nge-hitsekarang, jadi wajar saja kalau buku seperti ini--yang menggunaka aksara Asia di sampulnya--turut mengisi rak di toko buku. Namun, apa yang saya pikirkan ternyata salah. Lebih dari itu, buku ini--kalau mau jujur--benar-benar melebihi ekspetasi saya. Cosplay The Series ini sebenarnya merupakan "fan-made web series" (begitulah yang disebut di situs web mereka), tetapi kini, serial itu sudah mulai merambah ke berbagai bidang. Apabila ada yang tertarik untuk melihat lebih jauh, silakan klik tautan yang tersedia di atas. Terlepas dari hal itu, saya akan menyoroti karya sastra ini saja.
Sinopsis
Oke, sekarang, mari kita masuk ke sinopsis. Cosplay The Series bercerita mengenai hari-hari dari para anggota Q-Cosushinkai Cosplay Club, klub cosplay SMA Harapan Bangsa, yang sedang berada dalam dilema karena klub mereka terancam bubar. Adapun tokoh utama dari novel ini--yang benar-benar utama, omong-omong--adalah Annisa, seorang cewek yang baru saja bergabung dengan klub, tapi harus merasa kecewa karena menghadapi kenyataan bahwa ekskul favoritnya nyaris berantakan. Kenapa saya bilang benar-benar utama adalah karena Annisa memperoleh fokus lebih besar dibandingkan karakter lain, sementara dalam serial ini, karakternya saya rasa tidak dapat terpisahkan. Adapun karakter lain adalah (ini saya ambil dari sinopsis back cover): Vincent-senpai, Sang Pendiri dengan wajah bishonen-nya, Ocha Sang Ketua dengan kipas kertas dan keceriaannya, Agnesya Sang Lolita dengan renda dan akseosri-aksesori lainnya, Eka sang komikus, dan Bagas Sang Ksatria Baja. Kesemua orang ini pada mulanya menikmati "perlindungan" dari sang Kepala Sekolah, Ibu Kartini. Namun, atas alasan yang tidak jelas, tiba-tiba Ibu Kartini memutuskan untuk membubarkan klub itu. Akhirnya, Ocha sang ketua pun mengajukan tawaran: dalam tiga puluh hari, mereka harus membuat sebuah event yang dapat membuktikan mereka masih layak untuk dipertahankan.
Kira-kira begitulah garis besar ceritanya. Sekarang, kita masuk ke penilaian.
Pembahasan
This work--unexpetedly--great. Memang, konfliknya sendiri sederhana, dan bahkan bisa dibilang cukup simpel. Namun, yang simpel adalah konflik yang berkaitan dengan alur, dan bukannya yang berkaitan dengan karakter. Itu karena konflik yang terkait dengan karakter dibahas dengan cukup mendalam di sini, membuat karakter dalam buku menjadi semakin kuat. In fact, buku ini mungkin merupakan karya yang (para) karakternya paling kuat yang pernah saya baca. Itulah kenapa saya berkata bahwa (para) karakter dalam buku ini tidak tepisahkan; elemen-elemen dalam buku nyaris sebagian besar didedikasikan bagi pengembangan karakter. Dalam novel ini sendiri, baru tiga karakter yang diulas latar belakangnya, yakni Ocha, Bagas, dan Agnesya. Belum Vincent-senpai yang sejak awal latar belakangnya di-foreshade. Belum juga apabila ada penambahan karakter lain. Intinya, Bonni Rambatan sang pengarang sukses membangun karakterisasi di sini, dengan membuat latar belakang yang cukup mengena dan--tentu saja--ciri khas dari setiap karakter. Ada Nesya yang menyukai aksesori Loita. Ada Bando yang muram dan hening. Ada Yogi sang penyedia barang-barang bajakan. Sekali lagi, ciri khas dari tiap karakter ini membantu mempermudah melakukan identifikasi tokoh. Memang, perlu penyesuaian untuk mengingat karakter yang jumahnya cukup banyak, tapi saya terbantu dengan rasio kemunculan karakter yang cukup masuk akal.
Berikutnya, deskripsi dan narasi. Deskripsi dalam buku ini cukup baik; setidaknya cukup detail. Enak dibaca, tapi tidak berbunga-bunga, dan juga lumayan pas penempatannya. Kemudian, untuk narasi, surprisingly fabulous. Ada beberapa frasa dan istilah yang bagus di sini, dengan beperpaduan antara gaya bahasa ngepop dan juga gaya bahasa nyastra. Selain itu, tentu saja, ada beberapa istilah khusus-penggemar-Jepang (baca: otaku), yang (sayangnya) tidak ada penjelasan atau bahkan sekadar catatan kaki. Cukup unik dan atraktif, tapi tidak begitu reader friendly. Satu hal lagi, beberapa bagian tampak terlalu telling, sehingga terkadang muncul kesan membosankan. Namun, tidak begitu bermasalah bagi saya.
Berikutnya, alur, konflik, dan adegan. Seperti yang saya katakan, alur dan konflik dalam cerita ini sederhana: hanya perjuangan para Q-Cosushinkai Cosplay Club (disebut pula dengan Q-Club) untuk mencegah klub mereka bubar. Very focused matter, indeed. Namun, subalur dan subkonfliknyalah yang menjadi daya tarik, yang secara implisit maupun eksplisit memberikan berbagai amanat seperti "mendeklarasikan kedewasaan" dan juga "membuka pandangan" (untuk lebih jelasnya, silakan baca sendiri di bukunya). Alurnya sendiri menggunakan campuran alur maju dan flashback, dengan transisi yang tidak membingungkan. Berikutnya, adegan-adegan dirancang dengan cukup tertata, sehingga menghasilkan alur yang terintegrasi dengan cukup baik. Akan tetapi, kelemahan dari cerita ini adalah temponya yang agak terlalu cepat, sehingga terkesan melompat. Not to mention the typos dan juga bahasa asing yang tidak ditulis miring, yang mana cukup banyak saya jumpai di sini. Untuk ending, well, karena ini katanya merupakan serial, maka kita tunggu saja kabar baiknya. Setidaknya, epilognya memberikan kesan menutup.
Kemudian, untuk sampul. Saya jarang mengomentari sampul, tapi sampul buku ini cukup worthy untuk dikomentari. Terkesan simpel, dengan menggunakan warna pink dominan, dan dengan gambar seorang gadis mengenakan Lolita fashion. Harus saya akui, cukup eye-catching. Dan ilustrasi bagian dalamya,well, cukup bagus. Hanya saja, saya kurang setuju apabila website serial ini mengklaim bahwa ini adalah light novel, karena gaya bahasa dalam buku ini belum dapat memenuhi standar LN.
Penilaian? Cosplay The Series: Cosplay dan Kebanggan Mereka bisa saya katakan bukan sekadar teenlit atau fiksi young adult biasa yang dapat kamu temukan di toko buku. Aside of nuansa kultur pop Jepang yang kental (dan juga upaya pesan glocalisation, tentunya), buku ini membawa berbagai pelajaran yang terbungkus dalam balutan karakterisasi yang apik. Kalau kamu penyuka budaya Jepang dan atau sedang mencari buku dengan deep characterization, dan yang "membuatmu berpikir" , maka buku ini amat direkomendasikan. Finally, saya harus setuju dengan petikan di halaman 181 buku ini: "Cosplay bukanlah sekadar cosplay."
Happy reading!