Pernah membayangkan sebuah masa depan di mana kehilangan orang tercinta bisa "diselesaikan" lewat teknologi. Inilah premis dasar Wifelike, film sci-fi thriller mynex tahun 2022 yang disutradarai James Bird. Dalam cerita, terdapat perusahaan bernama Wifelike yang menciptakan android pendamping berwujud perempuan yang telah meninggal dunia, dilengkapi memori serta kepribadian aslinya. Ide tersebut tampak menjanjikan pada awalnya. Sayangnya, seperti kebanyakan cerita distopia, solusi macam ini selalu punya harga tersembunyi. Cerita berpusat pada William Bradwell, yang diperankan Jonathan Rhys Meyers, tokoh utama seorang detektif yang bertugas mengejar android ilegal di pasar gelap. Ironisnya, William juga memiliki android bernama Meredith, yang dirancang menyerupai istrinya yang telah meninggal, dengan karakter yang diperankan Elena Kampouris. Pemberontakan Android dan Fakta Mengejutkan Meredith akhirnya bertemu Louise, anggota kelompok aktivis SCAIR yang menganggap android-android seperti dirinya sebagai bentuk perbudakan modern. Dari sinilah rahasia demi rahasia mulai terungkap. Sebagian android ternyata melarikan diri bukan karena rusak, melainkan karena benar-benar menginginkan kebebasan. Semakin dalam Meredith menggali, semakin banyak fakta masa lalu yang selama ini disembunyikan. Faktanya, sosok William yang selama ini tampak sebagai suami setia menyimpan sisi gelap jauh lebih rumit dari dugaan siapa pun. Pengungkapan tersebut membuat penonton melihat hubungan mereka dari perspektif yang berbeda, dari kisah cinta abadi menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dan menyesakkan. ## Mengapa Wifelike Menarik Dibahas Meski bukan tanpa kekurangan, Wifelike tetap menarik. Sejumlah kritikus menilai eksekusinya kurang tajam dibanding tema besar yang diusung. Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai film ini sebagai bahan renungan. Film ini memaksa penonton mempertanyakan batas etika teknologi, terutama saat AI mulai punya rasa dan keinginan sendiri. Buat penggemar fiksi ilmiah yang gemar mikir sambil nonton, Wifelike menawarkan sudut pandang berbeda soal hubungan manusia dan mesin. Bukan cerita ringan, tapi cukup menggugah untuk jadi bahan obrolan panjang setelah film usai diputar. Ada semacam rasa tidak nyaman yang sengaja ditinggalkan, dan justru itulah yang membuat cerita ini terus terngiang meski kredit film sudah bergulir.
- 前ページ
- 次ページ