Lihat postingan ini di Instagram

Adakah yang tau...? #OrangBali dibuatkan LONTAR YADNYA yang memaksa umatnya untuk memenuhi syarat2 upakara didalamnya.. dan sebenarnya itu hanyalah pesan PELESTARIAN ALAM.. #NakBali dipaksa membuat canang dan kelengkapan banten yang isi pokoknya bahan2 dari pohon KELAPA, BAMBU dan PISANG agar orang bali melestarikan dan menanam ketiga pohon itu.. Apalagi saat GALUNGAN, penggunaan kedua bahan itu sepertinya wajib ada.. Untuk apa...? Ya untuk menjaga debit air dalam tanah.. Baca : https://gamabali.com/makna-dan-pesan-dalam-penjor-galungan/ Sambungannya ritual NGENING KE BEJI.. nah, bila debit air kecil, maka pura beji akan ada tanpa SUMBER MATA AIR pancoran klebutan.. maka muncullah penggampangan dengan NUNAS TIRTA di PANCORAN PDAM 😆 atau berharap ke SUMUR BOR.. tapi ingat saat debit air menipis, semua hilang dan sia2.. disamping pesan menjaga mutu AIR SUNGAI lewat ritual di SAWAH.. coba telisik, pernah mencari bahan ritual ISIN TUKAD dan ISIN CARIK? Selain itu.. pohon BRINGIN, ANCAK, CANGING dll tentunya punya manfaat besar bagi kita.. begitu juga penggunaan HEWAN yang memaksa #UmatHindu melestarikan #HABITAT-nya mereka berupaya menjaga alam bali dengan balutan ritual.. bagi yang tidak paham tentu melihat kelengkapan #yadnya dibali itu ribet dan ruwet.. itu karena keterbatasan membaca pesan leluhur. #ecoreligion #GamaBali #HinduBali #filsafathindu

Sebuah kiriman dibagikan oleh subudi mahendradatta (@budimahend) pada