alvinissimoのブログ -3ページ目

alvinissimoのブログ

ブログの説明を入力します。

http://cdn2.thelineofbestfit.com/media/2014/grouper_ruins.jpg

Terkadang album yang dibuat secara simpel dan minimalis justru jauh lebih bagus dibanding album yang dibuat sangat mahal, dengan produksi kualitas tinggi, dan hal-hal lain.

Contoh kayak album Pink Moon milik Nick Drake yang dibuat hanya dengan sebuah gitar akustik dan sedikit sentuhan piano, namun hasilnya malah lebih bagus dari karya-karya Nick sebelumnya yang lebih rumit dengan orkestrasi dan semacamnya. Atau bandingkan review album lo-fi Guided By Voices seperti Bee Thousand dengan album mereka yang dibuat secara “benar.”

Ya, sesuatu yang simpel terkadang memang lebih indah dari yang ribet-ribet. Dan karya simpel yang menarik perhatian pada 2014 lalu adalah Ruins dari Grouper.

Album ini direkam sangat simpel. Hanya dengan piano dan perekam 4-track di sebuah rumah Aljezur, Portugal pada tahun 2011 silam. Grouper, yang merupakan proyek solo Liz Harris, merekam seluruh lagu di album tersebut dalam kondisi seperti yang digambarkan di atas, kecuali trek terakhir yang direkam pada 2004 silam.

Grouper merekam album ini benar-benar secara jujur. Nggak ada tambahan layer vokal, editan studio, dan hal lain. Hujan, suara katak, terdengar di beberapa lagu. Bahkan terdengar suara microwave di akhir lagu Labyrinth.

Grouper melakukan semua itu dengan sengaja. Bahkan menurut saya, unsur-unsur tersebut malah menambah kelam dan melankolis album ini. Setiap memutar Ruins, saya selalu merasa berada di ruangan yang sama dengan Liz Harris. Merasa ia ada di pojokan, bermain piano di depan jendela yang terbuka, dengan penerangan seadanya.

Vokal dan permainan piano Liz juga sangat menyentuh hati. Ia terdengar seperti seseorang yang sudah pasrah sekali dengan hidup. Mungkin ia merasa akan mati sebentar lagi. Namun, itulah unsur terbaik yang ada di ruins: kesedihan.

Kalau kamu beli (atau download) deluxe edition dari Ruins, disc 2 album tersebut berisi suara hujan yang direkam di Aljezur selama 48 menit. Dengarkan dua disc bersamaan, maka Ruins sukses jadi album tersedih sepanjang sejarah.

Yang bikin unik lagi, saya agak sulit mencari pembanding setimpal album Grouper satu ini. Seperti peribahasa sepak bola saja. Main bola itu simpel, tapi main simpel itu susah.