

Orang punya selera musik berbeda-beda. Juga dengan cara musik itu diproduksi. Ada yang suka suara lembut, benar-benar tak ada desis. Ada juga yang suka sound yang kasar, ada juga yang lebih suka musik live atau di-take secara live.
Ada juga yang nggak peduli bagaimana kualitas suaranya. Yang penting adalah jiwa di dalam musik sendiri. Ibaratnya mau direkam di atas gunung, dengan recorder seadanya, kalau emang musiknya bagus, ya, bagus-bagus aja.
Yap, musik semacam itu biasa disebut dengan lo-fi. Bukan genre, sih, tapi memang musik yang sengaja atau tak disengaja direkam dengan alat seadanya, jadi outputnya buruk. Contoh nyatanya adalah Guided By Voices, yang sering membuat album lo-fi.
Kalau kalian ngeliat last.fm gue, Guided By Voices adalah band yang paling sering gue dengar. Yap, band ini memang keren. Band inilah yang ngasih tau gue kalau lagu sebagus apapun, direkam dengan cara yang buruk pun tetap aja bagus.
Guided By Voices (selanjutnya disingkat GBV) dengan sengaja merekam lagunya secara lo-fi. Band-band semacam mereka memang terkadang mencari atmosfer atau sesuatu yang beda dengan merekam secara lo-fi.
Perkenalan gue dengan GBV adalah gara-gara band lokal bernama Sajama Cut. Sang vokalis, Marcel Thee, kagum berat dengan GBV. Gue penasaran, gue pun mendengarkan GBV.
Gue pun salah dengerin lagu GBV. Yang gue denger malah GBV saat mereka udah nggak lo-fi. Salah satu lagu GBV pertama yang gue denger adalah Hold On Hope. (yang gue yakin banget, misalnya lagu ini diciptain sama Gallagher bros, pasti udah ngehits.)
Kesan pertama gue adalah “Oke, band ini bagus. Cuma ya gitu aja.” Kesan tersebut berubah setelah gue mendengarkan salah satu album mereka yang paling terkenal, Bee Thousand.
Kaget bukan kepalang denger album ini, apalagi gue kenalan sama GBV “hi-fi” duluan. Kuping ini belum bersahabat dengan lo-fi dan semacamnya. Jujur, gue bingung. Di satu sisi gue pengen ganti dengerin yang lain aja, tapi sisi lain bilang album ini cukup menarik.
Perlahan tapi pasti, gue hanyut dengan album tersebut. Kayak buah durian aja, luarnya berduri tapi dalamnya manis. Dibalik segala jeleknya kualitas audio album-album GBV, kita akan menemukan songwriting Bob Pollard, Tobin Sprout, yang manis banget. Lo nggak bakal bisa menemukan melodi khas Bob di album manapun. Kalau disuruh bikin list 10 songwriter terbaik, Bob mungkin gue masukin ke 3 teratas.
Dan di album ini, lo nggak bakal tau apa yang lo dapatkan di tiap lagunya. Bisa saja folk manis, bisa indie rock, atau lagu berdurasi pendek dengan banyak tape hiss dan noise. Begitu juga album Alien Lanes dan Under the Bushes Under the Stars.
Secara pribadi, GBV juga membuka kuping gue untuk mendengarkan band semacam Pavement, Built To Spill, hingga Sebadoh. Kalau nggak dengerin mereka, mungkin gue masih ngedengerin musik-musik membosankan seperti Avenged Sevenfold, Slipknot, dan MCR.
Kalau disuruh milih antara Under the Bushes Under the Stars, Alien Lanes, atau Bee Thousand, cukup sulit juga karena tiga album itu menemani masa-masa gue awal kuliah. Dan mendengarkan mereka bikin gue ngerasa paling hip se-kampus!
Tambahan: Julian Casablancas ngefans banget sama GBV.