Yewon duduk di ayunan dengan sebuah tas di pangkuannya dan juga sebuah koper di sisinya. Gadis itu mengayun-ayunkan ayunan perlahan dan menatap kakinya sendiri, menatap pasir yang ada di bawahnya. Wajah Yewon terlihat sedih dan bahkan gadis itu berkali-kali menarik napas berat. Dia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan air mata yang terus menerus mendesak untuk keluar.
“Tidak! Aku tidak boleh menangis!!,”ucap Yewon seraya menepuk-nepuk kedua belah pipinya.
“Seunghyun-a, apa yang harus aku lakukan?,”gumam Yewon seraya menatap ponselnya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Di Seoul ini, orang yang dekat dengannya hanyalah Yunmi dan Seunghyun. Dia tidak mungkin menginap sementara di rumah Yunmi karena gadis itu tinggal bersama Jonghoon, kekasihnya. Sedangkan Seunghyun? Pria itu bahkan semalam sudah menolak untuk mengijinkannya tinggal di rumahnya. Dan sekarang Yewon bingung, dia benar-benar tidak tau harus pergi kemana. Ke Jepang kah? Sebuah pemikiran bodoh.
[C’mon C’mon Girl~~~]
Yewon terkesiap saat ponselnya berdering. Dia melihat nama Seunghyunnie tertera disana. Dia hanya bisa menggerutu kesal karena Seunghyun mengganti kontak nya seenaknya. Dia pun menjawab panggilan pria itu.
“Ya! Kapan kau mengganti namamu di daftar kontakku?,”tanya Yewon langsung.
[Hahahah… sadarkah?]
“Tskk… menyebalkan! Untuk apa menelponku?,”tanya Yewon.
[Seharusnya aku yang bertanya. Untuk apa kau duduk di ayunan dengan koper besar di sisimu dan tas di pangkuanmu?]
“Eh?,”Yewon langsung menolehkan kepalanya. Dia melihat Seunghyun tersenyum kepadanya dari kejauhan. Yewon pun kemudian memutus panggilan itu dan melihat Seunghyun yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
“Seunghyun-a~~~,”ucap Yewon manja.
“Apa? Diusirkah?,”tanya Seunghyun dan Yewon mengangguk dengan wajah cemberut.
“Tskk… Kurasa kau memang ditakdirkan untuk tinggal denganku. Kkaja!!,”ucap Seunghyun seraya menarik koper Yewon. Yewon pun berjalan mengikuti pria itu dan mensejajarkan langkahnya.
“Kau tau dari mana, Seunghyun-a?,”tanya Yewon.
“Aku tau dengan sendirinya. Tadi aku melihatmu. Untung saja kau duduk di sana siang hari, jika malam hari, kurasa aku akan mengira bahwa kau hantu,”ucap Seunghyun bercanda dan langsung mendapat pukulan di bahunya.
“Aku boleh menginap di rumahmu kah? Hanya sementara. Aku janji,”ucap Yewon.
“Tinggal saja selama kau mau. Bukankah kau kekasihku,huh?,”goda Seunghyun mengerling nakal.
“Di rumahmu ada berapa kamar?,”tanya Yewon menghiraukan ucapan Seunghyun sebelumnya.
“Ada dua. Kau tenang saja. Aku membeli apartemen itu karena terkadang adikku sering datang dan menginap,”jawab Seunghyun.
“Adik?! Laki-laki lah?,”tanya Yewon kaget.
“Iya, namanya Song Se Hyun,”jawab Seunghyun.
“Akan lebih baik jika sikapnya tidak seperti kau,”ucap Yewon dan Seunghyun tertawa.
“Maaf sekali, Jagi. Tapi sikap kami memang sama,”ucap Seunghyun.
“Aigoo~~ Kurasa kedua orang tua kalian pasti pusing membesarkan kalian,”ucap Yewon.
“Yup! Kau benar sekali,”ucap Seunghyun setuju.
“Yewon-a, mau es krim kah?,”tanya Seunghyun seraya menyodorkan sekotak es krim ke hadapan Yewon yang tengah termenung. Yewon menoleh dengan kaget dan tersenyum lalu menerima es krim itu.
“Terima kasih,”jawab Yewon seraya menyuap es krimnya. Seunghyun duduk di sisinya dan menyalakan tv. Pria itu terlihat bosan dan mengganti-ganti channel tv berkali-kali.
“Tidak ada acara yang bagus kah?,”tanya Yewon.
“Hem,”jawab Seunghyun masih terus memindah-mindahkan channel.
“Matikan saja kalau begitu,”usul Yewon dan Seunghyun menoleh menatapnya.
“Jika tv ini dimatikan kau pasti akan termenung lagi. Tadi saja baru aku tinggal sebentar kau sudah termenung,”ucap Seunghyun dan Yewon menggembungkan pipinya. Matanya menatap ke dalam mangkuk es krim, tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya.
“Apa kau mau kembali ke rumah Wonbin ahjussi?,”tanya Seunghyun setelah beberapa lama berada dalam kesunyian.
“Tidak. Ahjussi pasti butuh waktu untuk sendiri,”tolak Yewon lalu kembali memakan es krimnya.
“Kalau begitu jangan diam seperti itu. Lebih baik kau berteriak-teriak memarahiku dari pada diam begitu. Aku tidak suka melihatnya,”ucap Seunghyun dan Yewon mendelik menatapnya.
“Jadi kau senang mendapat omelanku?,”tanya Yewon.
“Sebenarnya tidak. Tapi… kurasa itu lebih baik dari pada melihatmu diam seribu bahasa dengan wajah sedih seperti itu,”jawab Seunghyun dan Yewon berdecak heran.
“Aku serius, jagi,”ucap Seunghyun.
“Ya ya.. terserah kau saja,”ucap Yewon tak acuh dan bangkit dari sofa menuju dapur.
=============================
Wonbin terdiam di meja makan. Makanan di hadapannya sama sekali tidak disentuh. Dia benar-benar bingung dengan dirinya. Seharusnya saat ini dia merenung memikirkan nasibnya yang sudah ditinggal Yoochan, tapi justru dia malah memikirkan Yewon. Rasanya penyesalan begitu besar menyergapnya setelah dia meminta gadis itu untuk pergi. Sebenarnya mudah saja jika meminta Yewon untuk kembali sekarang juga. Hanya saja… dia tidak tau nanti harus bersikap bagaimana. Dia tidak yakin bisa bersikap baik pada Yewon. Dia tidak ingin melampiaskan kekecewaannya pada Yewon karena Yoochan. Tapi jika dipikir-pikir, Yoochan tidak bersalah sama sekali. Gadis itu memang tidak tau tentang perasaannya. Dan Yewon… tentu saja gadis itu sama sekali tidak bisa disalahkan. Keegoisan dirinya lah yang patut disalahkan. Kenapa dia dengan begitu bodohnya meminta Yewon untuk pergi padahal dia seharusnya melindungi Yewon, bukan malah mengusirnya seperti tadi.
“Tskkkk… Anak itu sekarang ada dimana?,”gumam Wonbin seraya menatap ponselnya.
“Aku telpon kah? Atau tidak perlu?,”gumam Wonbin bingung.
“Tskkk… Kurasa pikiranku benar-benar kacau. Sebaiknya aku tidur,”ucap Wonbin lalu pergi dari dapur dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dan begitu dia merebahkan tubuhnya di kasur, ntah kenapa memori malam tadi langsung berkelebat di otaknya. Saat Yewon memeluknya, atau lebih tepatnya saat dia memeluk Yewon. Saat Yewon membelai rambutnya. Kehangatan dan sentuhan lembut itu tiba-tiba menjalari tubuhnya. Tubuh gemetar Yewon pun masih bisa dirasakannya, saat gadis itu dengan ragu menyapukan tangannya di rambutnya. Wonbin langsung mengumpat dan menutup kepalanya dengan bantal. Berusaha mengusir pikiran kacau yang semakin lama justru malah mengarah kepada Yewon, bukan kepada Yoochan.
“Yewon-a, kau dimana?,”malam itu akhirnya Wonbin memutuskan untuk menelpon Yewon.
[Aku di rumah temanku. Ada apa, ahjussi?]
“Pulanglah,”jawab Wonbin.
[Ne?]
“Kau akan aku jemput. Kau akan menungguku dimana?,”tanya Wonbin tanpa menghiraukan respon kaget yang Yewon berikan.
[Aku pulang sendiri saja]
“Tidak. Aku akan menjemputmu. Kau sekarang ada dimana?,”ucap Wonbin bersikeras.
[Jemput aku di taman dekat sekolah saja]
“Kau tinggal di rumah temanmu yang dekat sana? Tskkk… Kenapa sampai sejauh itu?,”protes Wonbin.
“Baiklah, kau jangan kemana-mana dulu. Nanti saat aku sampai, aku akan menghubungimu dan kau baru boleh keluar,”pesan Wonbin lalu menutup flip ponselnya. Dia kemudian menyambar kunci mobilnya yang terletak di meja kerjanya dan bergegas keluar.
“Seunghyun-a, Wonbin ahjussi menyuruhku pulang,”ucap Yewon saat Seunghyun baru keluar dari kamar.
“Apa?! Ya! Aku baru saja selesai membereskan kamar untukmu. Apa kau tidak melihat keringatku yang bercucuran? Ayolah!! Menginap saja disini untuk malam ini,”rajuk Seunghyun.
“Tidak bisa, Seunghyun-a. ahjussi sudah dalam perjalanan kesini. Aku akan menemuinya di taman saat dia sampai,”jawab Yewon lalu bergegas berdiri.
“Biar aku saja yang ambilkan koper dan tas mu,”ucap Seunghyun bergegas berdiri dan mengambilkan koper dan juga tas Yewon yang ada di kamar.
“Sekarang?,”tanya Seunghyun.
“Tidak. Aku harus menunggu telpon dari ahjussi terlebih dahulu,”jawab Yewon.
“Tskkk… Kau ini benar-benar seperti anaknya,”komentar Seunghyun dan Yewon langsung menatapnya tajam.
“Maaf! Maksudku… Tanggung jawabnya,”ralat Seunghyun.
“Jangan pernah katakan itu, Seunghyun-a. Aku bukan anak angkat Wonbin ahjussi,”ucap Yewon sedih.
“Tapi di mata hukum seperti itu, Yewon-a. Dan kurasa Wonbin ahjussi pun menganggap kau sebagai anaknya,”ucap Seunghyun.
“Yang benar saja!! Wonbin ahjussi terlalu muda untuk mempunyai anak seusiaku,”ucap Yewon kesal.
“Ya ya. Terserah kau saja,”ucap Seunghyun akhirnya memutuskan untuk mengalah.
[C’mon C’mon Girl~~]
“Yeoboseyo!!,”jawab Yewon.
[Aku sudah ada disini. Cepatlah! Dingin sekali!]
“Araseo!,”jawab Yewon lalu memutus sambungan dua arah itu.
“Seunghyun-a, aku pergi sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya. Annyeong!!!,”pamit Yewon dengan senyum merekah lalu pergi dari sana. Seunghyun hanya menghela napas pelan dan tersenyum kecut.
“Nasibmu menyedihkan sekali, Seunghyun-a,”ucapnya pada dirinya sendiri.
“Oh? Ahjussi? Kenapa?,”ucap Yewon kaget saat Wonbin langsung memeluknya.
“Ahjussi~~,”ucap Yewon lagi.
“Maafkan aku, Yewon-a,”ucap Wonbin di bahu Yewon. Yewon dapat merasakan napas pria itu di tengkuknya. Jantungnya langsung berdetak begitu kencang menyadari keintimannya dengan Wonbin.
“Kau tenang saja, ahjussi,”ucap Yewon seraya mendorong tubuh Wonbin perlahan.
“Kau baik-baik saja?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja! Aku kan baru pergi beberapa jam yang lalu,”jawab Yewon.
“Kau sudah makan malam?,”tanya Wonbin.
“Sudah. Kenapa? Ahjussi belum makan kah?,”Yewon balik bertanya.
“Aku belum makan sejak pagi tadi,”jawab Wonbin.
“Ya! Kenapa melakukan itu?! Tskk… kau seperti anak yang baru beranjak remaja saja, ahjussi. Bersikaplah dewasa! Masa kau tidak makan hanya karena patah hati,”sindir Yewon dan Wonbin tertawa perlahan.
“Kalau begitu temani aku makan,”ucap Wonbin.
“Ah… tidak! Kau harus makan denganku. Kkaja!,”ucap Wonbin seraya menarik tangan Yewon.
“Tidak! Yang benar saja! Aku tidak mau!,”tolak Yewon.
“Kenapa? Takut gemuk kah? Kau tidak akan gemuk secepat itu, Yewon-a,”ucap Wonbin seraya membuka pintu mobil untuk Yewon dan menyuruh gadis itu masuk. Dia berputar dan masuk ke dalam kursi kemudi.
Seunghyun yang sebenarnya mengantar Yewon –dari belakang—hanya bisa tersenyum kecut melihat pemandangan itu. Dia akhirnya tau kenapa Yewon begitu mencintai Wonbin. Wonbin memperlakukannya dengan baik. Bahkan dengan sangat baik. Pria itu terlihat begitu perhatian padanya,walau mungkin Yewon tidak menyadarinya.
“Ahjussi, aku tau bahwa kau juga mencintai, Yewon. Kau hanya belum menyadari hal itu,”ucap Seunghyun lalu kembali ke apartemennya.
================================
“Ahh~~ Yang benar saja. Aku tidak suka baju ini!,”keluh Yewon saat dia harus fitting baju untuk pementasan drama 2 minggu lagi.
“Kau jangan cerewet, Yewon-a,”ucap Nicole membantu Yewon merapikan bajunya.
“Tskkk… Aku tidak suka! Dadanan macam apa ini?,”sungut Yewon kesal.
“Kau cantik sekali, jagi,”ucap Seunghyun yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik tirai.
“Ya!! Tidak sopan!! Apa kau mencoba mengintip?!!,”omel Nicole yang langsung melempar sepatu tetapi Seunghyun dengan gesit menghindar.
“Tskkk… Noona, kau pemarah sekali,”ucap Seunghyun seraya mengembalikan sepatu Nicole yang tadi dilempar oleh gadis itu.
“Itu karena kau selalu bersikap seenaknya. Kau tidak sopan sekali. Untung saja Yewon sudah selesai berpakaian,”ucap Nicole masih dengan nada tinggi.
“Memang kau pikir aku pria seperti itu? Aku tau Yewon sudah selesai berpakaian, makanya aku menjulurkan kepalaku,”ucap Seunghyun membela diri.
“Tskkk… terserah kau sajalah,”ucap Nicole masih kesal.
“Baiklah baiklah.. aku akan pergi dari sini,”ucap Seunghyun memutuskan untuk mengalah.
“Jagi, aku tunggu di kelas,”ucap Seunghyun seraya mengerlingkan matanya jenaka.
“Apa kalian benar-benar berpacaran?,”tanya Nicole sesaat setelah kepergian Seunghyun.
“Tidak. Kami hanya berteman. Hanya saja… Seunghyun memang sudah terbiasa memanggilku seperti itu, jadi aku biarkan saja,”jawab Yewon.
“Apa kau menolak cintanya?,”tanya Nicole dan Yewon tersenyum.
“Hoa~~~ Seunghyun memang pria sejati. Aku terkadang kagum padanya,”puji Nicole.
“Kau tidak biasanya memuji dia, onnie,”ucap Yewon seraya tersenyum.
“Ada beberapa hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat sempurna, tapi sayangnya lebih banyak hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat kacau,”ucap Nicole dan mereka berdua langsung tertawa.
“Wonbin-a, besok kau harus bertemu dengan Yoochun, ok?,”ucap Yoochan yang siang itu masuk ke dalam ruang kerja Wonbin. Wonbin langsung mengangkat wajahnya dari map yang sedang dibacanya dan tersenyum menatap Yoochan.
“Memang dia sudah kembali?,”tanya Wonbin.
“Akan kembali malam ini,”jawab Yoochan.
“Yoochan-a, katakan padaku dia pria seperti apa!,”pinta Wonbin. Yoochan duduk di kursi di hadapan Wonbin dan berpikir.
“Hmmm… Dia pria yang menyebalkan. Sangat dingin, keras kepala, egois, workaholic dan…,”jelas Yoochan seraya berpikir.
“Ya! Kenapa hanya sisi buruknya yang kau ingat? Sisi baiknya mana?,”tanya Wonbin.
“Hahhaha… Ntahlah, aku sendiri tidak tau apa sisi baiknya. Mungkin semua sisi buruknya adalah sesuatu yang membuatnya terlihat baik di mataku,”jawab Yoochan seraya tertawa.
“Kurasa kau benar-benar jatuh cinta padanya,”ucap Wonbin tulus dengan senyum di wajahnya.
“Ya, kurasa juga begitu. Apa lagi kau tau sendiri kan bahwa aku sudah 2 kali gagal menuju pelaminan,”ucap Yoochan menyetujui.
“Ya, karena Taecyeon maupun Joongki memang bukanlah untukmu,”komentar Wonbin dan Yoochan mengangguk.
“Dan kau sendiri, kapan kau akan menyusulku? Tidak sadarkah bahwa umurmu sudah kepala tiga?,”sindir Yoochan.
“Tidak dalam waktu dekat ini. Kurasa aku harus menunggu….. 2-7 tahun lagi,”ucap Wonbin.
“Ahhh~~ Aku tau siapa,”ucap Yoochan mengerling nakal.
“Kau mencintai anak angkatmu sendiri kah?,”tanya Yoochan.
“Ya! Dia bukan anak angkatku, Yoochan-a,”protes Wonbin.
“Ya, baiklah. Kau mencintai Yewon. Benarkan?,”tebak Yoochan.
“Ntahlah, aku sendiri masih belum tau,”jawab Wonbin.
“Yang benar saja! Akui saja lah! Untuk apa menutupinya!,”cecar Yoochan.
“Aku tidak menutupinya, Chan-a. Aku sendiri tidak tau,”ucap Wonbin membela diri.
“Lalu apa maksudnya dengan 2-7 tahun lagi? Bukankah itu tandanya kau menunggu Yewon untuk bisa kau nikahi,huh?,”tanya Yoochan.
“Itu seandainya kami memang berjodoh, Chan-a,”jelas Wonbin.
“Memang kau tidak pernah berpikir bahwa pertemuanmu dengan Yewon adalah sebuah takdir?,”tanya Yoochan dan Wonbin mengernyit.
“Pertemuanmu dengannya saja sudah merupakan takdir, Wonbin-a. Pada awalnya kau sama sekali tidak mengenalnya dan bahkan kau tidak tau bahwa dia ada di dunia ini. Tapi nyatanya, kau bertemu dengannya,”jelas Yoochan.
“Sekarang hanya kau saja yang perlu bertanya pada hatimu. Apakah kau mencintai Yewon atau tidak. Dan jika jawabannya iya, berusahalah untuk mengambil hatinya. Mungkin akan sedikit susah karena jarak umur kalian yang terpaut cukup jauh, hanya saja… jika memang berjodoh, tidak ada yang tidak mungkin kan?,”ucap Yoochan seraya tersenyum.
“Ya sudah, selamat melanjutkan pekerjaanmu! Kerjakan semua itu dengan benar dulu baru pikirkan perkataanku,”pesan Yoochan lalu pergi.
“Apakah aku… mencintai Yewon?,”gumam Wonbin seraya berpikir keras.
“Dan apakah mungkin Yewon mencintaiku?,”gumam Wonbin.
“Pertanyaan pertama, kemungkinan jawaban iya besar, tapi untuk yang kedua… kurasa itu mustahil,”ucap Wonbin mengambil kesimpulan dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
=================TBC=================
“Tidak! Aku tidak boleh menangis!!,”ucap Yewon seraya menepuk-nepuk kedua belah pipinya.
“Seunghyun-a, apa yang harus aku lakukan?,”gumam Yewon seraya menatap ponselnya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Di Seoul ini, orang yang dekat dengannya hanyalah Yunmi dan Seunghyun. Dia tidak mungkin menginap sementara di rumah Yunmi karena gadis itu tinggal bersama Jonghoon, kekasihnya. Sedangkan Seunghyun? Pria itu bahkan semalam sudah menolak untuk mengijinkannya tinggal di rumahnya. Dan sekarang Yewon bingung, dia benar-benar tidak tau harus pergi kemana. Ke Jepang kah? Sebuah pemikiran bodoh.
[C’mon C’mon Girl~~~]
Yewon terkesiap saat ponselnya berdering. Dia melihat nama Seunghyunnie tertera disana. Dia hanya bisa menggerutu kesal karena Seunghyun mengganti kontak nya seenaknya. Dia pun menjawab panggilan pria itu.
“Ya! Kapan kau mengganti namamu di daftar kontakku?,”tanya Yewon langsung.
[Hahahah… sadarkah?]
“Tskk… menyebalkan! Untuk apa menelponku?,”tanya Yewon.
[Seharusnya aku yang bertanya. Untuk apa kau duduk di ayunan dengan koper besar di sisimu dan tas di pangkuanmu?]
“Eh?,”Yewon langsung menolehkan kepalanya. Dia melihat Seunghyun tersenyum kepadanya dari kejauhan. Yewon pun kemudian memutus panggilan itu dan melihat Seunghyun yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
“Seunghyun-a~~~,”ucap Yewon manja.
“Apa? Diusirkah?,”tanya Seunghyun dan Yewon mengangguk dengan wajah cemberut.
“Tskk… Kurasa kau memang ditakdirkan untuk tinggal denganku. Kkaja!!,”ucap Seunghyun seraya menarik koper Yewon. Yewon pun berjalan mengikuti pria itu dan mensejajarkan langkahnya.
“Kau tau dari mana, Seunghyun-a?,”tanya Yewon.
“Aku tau dengan sendirinya. Tadi aku melihatmu. Untung saja kau duduk di sana siang hari, jika malam hari, kurasa aku akan mengira bahwa kau hantu,”ucap Seunghyun bercanda dan langsung mendapat pukulan di bahunya.
“Aku boleh menginap di rumahmu kah? Hanya sementara. Aku janji,”ucap Yewon.
“Tinggal saja selama kau mau. Bukankah kau kekasihku,huh?,”goda Seunghyun mengerling nakal.
“Di rumahmu ada berapa kamar?,”tanya Yewon menghiraukan ucapan Seunghyun sebelumnya.
“Ada dua. Kau tenang saja. Aku membeli apartemen itu karena terkadang adikku sering datang dan menginap,”jawab Seunghyun.
“Adik?! Laki-laki lah?,”tanya Yewon kaget.
“Iya, namanya Song Se Hyun,”jawab Seunghyun.
“Akan lebih baik jika sikapnya tidak seperti kau,”ucap Yewon dan Seunghyun tertawa.
“Maaf sekali, Jagi. Tapi sikap kami memang sama,”ucap Seunghyun.
“Aigoo~~ Kurasa kedua orang tua kalian pasti pusing membesarkan kalian,”ucap Yewon.
“Yup! Kau benar sekali,”ucap Seunghyun setuju.
“Yewon-a, mau es krim kah?,”tanya Seunghyun seraya menyodorkan sekotak es krim ke hadapan Yewon yang tengah termenung. Yewon menoleh dengan kaget dan tersenyum lalu menerima es krim itu.
“Terima kasih,”jawab Yewon seraya menyuap es krimnya. Seunghyun duduk di sisinya dan menyalakan tv. Pria itu terlihat bosan dan mengganti-ganti channel tv berkali-kali.
“Tidak ada acara yang bagus kah?,”tanya Yewon.
“Hem,”jawab Seunghyun masih terus memindah-mindahkan channel.
“Matikan saja kalau begitu,”usul Yewon dan Seunghyun menoleh menatapnya.
“Jika tv ini dimatikan kau pasti akan termenung lagi. Tadi saja baru aku tinggal sebentar kau sudah termenung,”ucap Seunghyun dan Yewon menggembungkan pipinya. Matanya menatap ke dalam mangkuk es krim, tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya.
“Apa kau mau kembali ke rumah Wonbin ahjussi?,”tanya Seunghyun setelah beberapa lama berada dalam kesunyian.
“Tidak. Ahjussi pasti butuh waktu untuk sendiri,”tolak Yewon lalu kembali memakan es krimnya.
“Kalau begitu jangan diam seperti itu. Lebih baik kau berteriak-teriak memarahiku dari pada diam begitu. Aku tidak suka melihatnya,”ucap Seunghyun dan Yewon mendelik menatapnya.
“Jadi kau senang mendapat omelanku?,”tanya Yewon.
“Sebenarnya tidak. Tapi… kurasa itu lebih baik dari pada melihatmu diam seribu bahasa dengan wajah sedih seperti itu,”jawab Seunghyun dan Yewon berdecak heran.
“Aku serius, jagi,”ucap Seunghyun.
“Ya ya.. terserah kau saja,”ucap Yewon tak acuh dan bangkit dari sofa menuju dapur.
=============================
Wonbin terdiam di meja makan. Makanan di hadapannya sama sekali tidak disentuh. Dia benar-benar bingung dengan dirinya. Seharusnya saat ini dia merenung memikirkan nasibnya yang sudah ditinggal Yoochan, tapi justru dia malah memikirkan Yewon. Rasanya penyesalan begitu besar menyergapnya setelah dia meminta gadis itu untuk pergi. Sebenarnya mudah saja jika meminta Yewon untuk kembali sekarang juga. Hanya saja… dia tidak tau nanti harus bersikap bagaimana. Dia tidak yakin bisa bersikap baik pada Yewon. Dia tidak ingin melampiaskan kekecewaannya pada Yewon karena Yoochan. Tapi jika dipikir-pikir, Yoochan tidak bersalah sama sekali. Gadis itu memang tidak tau tentang perasaannya. Dan Yewon… tentu saja gadis itu sama sekali tidak bisa disalahkan. Keegoisan dirinya lah yang patut disalahkan. Kenapa dia dengan begitu bodohnya meminta Yewon untuk pergi padahal dia seharusnya melindungi Yewon, bukan malah mengusirnya seperti tadi.
“Tskkkk… Anak itu sekarang ada dimana?,”gumam Wonbin seraya menatap ponselnya.
“Aku telpon kah? Atau tidak perlu?,”gumam Wonbin bingung.
“Tskkk… Kurasa pikiranku benar-benar kacau. Sebaiknya aku tidur,”ucap Wonbin lalu pergi dari dapur dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dan begitu dia merebahkan tubuhnya di kasur, ntah kenapa memori malam tadi langsung berkelebat di otaknya. Saat Yewon memeluknya, atau lebih tepatnya saat dia memeluk Yewon. Saat Yewon membelai rambutnya. Kehangatan dan sentuhan lembut itu tiba-tiba menjalari tubuhnya. Tubuh gemetar Yewon pun masih bisa dirasakannya, saat gadis itu dengan ragu menyapukan tangannya di rambutnya. Wonbin langsung mengumpat dan menutup kepalanya dengan bantal. Berusaha mengusir pikiran kacau yang semakin lama justru malah mengarah kepada Yewon, bukan kepada Yoochan.
“Yewon-a, kau dimana?,”malam itu akhirnya Wonbin memutuskan untuk menelpon Yewon.
[Aku di rumah temanku. Ada apa, ahjussi?]
“Pulanglah,”jawab Wonbin.
[Ne?]
“Kau akan aku jemput. Kau akan menungguku dimana?,”tanya Wonbin tanpa menghiraukan respon kaget yang Yewon berikan.
[Aku pulang sendiri saja]
“Tidak. Aku akan menjemputmu. Kau sekarang ada dimana?,”ucap Wonbin bersikeras.
[Jemput aku di taman dekat sekolah saja]
“Kau tinggal di rumah temanmu yang dekat sana? Tskkk… Kenapa sampai sejauh itu?,”protes Wonbin.
“Baiklah, kau jangan kemana-mana dulu. Nanti saat aku sampai, aku akan menghubungimu dan kau baru boleh keluar,”pesan Wonbin lalu menutup flip ponselnya. Dia kemudian menyambar kunci mobilnya yang terletak di meja kerjanya dan bergegas keluar.
“Seunghyun-a, Wonbin ahjussi menyuruhku pulang,”ucap Yewon saat Seunghyun baru keluar dari kamar.
“Apa?! Ya! Aku baru saja selesai membereskan kamar untukmu. Apa kau tidak melihat keringatku yang bercucuran? Ayolah!! Menginap saja disini untuk malam ini,”rajuk Seunghyun.
“Tidak bisa, Seunghyun-a. ahjussi sudah dalam perjalanan kesini. Aku akan menemuinya di taman saat dia sampai,”jawab Yewon lalu bergegas berdiri.
“Biar aku saja yang ambilkan koper dan tas mu,”ucap Seunghyun bergegas berdiri dan mengambilkan koper dan juga tas Yewon yang ada di kamar.
“Sekarang?,”tanya Seunghyun.
“Tidak. Aku harus menunggu telpon dari ahjussi terlebih dahulu,”jawab Yewon.
“Tskkk… Kau ini benar-benar seperti anaknya,”komentar Seunghyun dan Yewon langsung menatapnya tajam.
“Maaf! Maksudku… Tanggung jawabnya,”ralat Seunghyun.
“Jangan pernah katakan itu, Seunghyun-a. Aku bukan anak angkat Wonbin ahjussi,”ucap Yewon sedih.
“Tapi di mata hukum seperti itu, Yewon-a. Dan kurasa Wonbin ahjussi pun menganggap kau sebagai anaknya,”ucap Seunghyun.
“Yang benar saja!! Wonbin ahjussi terlalu muda untuk mempunyai anak seusiaku,”ucap Yewon kesal.
“Ya ya. Terserah kau saja,”ucap Seunghyun akhirnya memutuskan untuk mengalah.
[C’mon C’mon Girl~~]
“Yeoboseyo!!,”jawab Yewon.
[Aku sudah ada disini. Cepatlah! Dingin sekali!]
“Araseo!,”jawab Yewon lalu memutus sambungan dua arah itu.
“Seunghyun-a, aku pergi sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya. Annyeong!!!,”pamit Yewon dengan senyum merekah lalu pergi dari sana. Seunghyun hanya menghela napas pelan dan tersenyum kecut.
“Nasibmu menyedihkan sekali, Seunghyun-a,”ucapnya pada dirinya sendiri.
“Oh? Ahjussi? Kenapa?,”ucap Yewon kaget saat Wonbin langsung memeluknya.
“Ahjussi~~,”ucap Yewon lagi.
“Maafkan aku, Yewon-a,”ucap Wonbin di bahu Yewon. Yewon dapat merasakan napas pria itu di tengkuknya. Jantungnya langsung berdetak begitu kencang menyadari keintimannya dengan Wonbin.
“Kau tenang saja, ahjussi,”ucap Yewon seraya mendorong tubuh Wonbin perlahan.
“Kau baik-baik saja?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja! Aku kan baru pergi beberapa jam yang lalu,”jawab Yewon.
“Kau sudah makan malam?,”tanya Wonbin.
“Sudah. Kenapa? Ahjussi belum makan kah?,”Yewon balik bertanya.
“Aku belum makan sejak pagi tadi,”jawab Wonbin.
“Ya! Kenapa melakukan itu?! Tskk… kau seperti anak yang baru beranjak remaja saja, ahjussi. Bersikaplah dewasa! Masa kau tidak makan hanya karena patah hati,”sindir Yewon dan Wonbin tertawa perlahan.
“Kalau begitu temani aku makan,”ucap Wonbin.
“Ah… tidak! Kau harus makan denganku. Kkaja!,”ucap Wonbin seraya menarik tangan Yewon.
“Tidak! Yang benar saja! Aku tidak mau!,”tolak Yewon.
“Kenapa? Takut gemuk kah? Kau tidak akan gemuk secepat itu, Yewon-a,”ucap Wonbin seraya membuka pintu mobil untuk Yewon dan menyuruh gadis itu masuk. Dia berputar dan masuk ke dalam kursi kemudi.
Seunghyun yang sebenarnya mengantar Yewon –dari belakang—hanya bisa tersenyum kecut melihat pemandangan itu. Dia akhirnya tau kenapa Yewon begitu mencintai Wonbin. Wonbin memperlakukannya dengan baik. Bahkan dengan sangat baik. Pria itu terlihat begitu perhatian padanya,walau mungkin Yewon tidak menyadarinya.
“Ahjussi, aku tau bahwa kau juga mencintai, Yewon. Kau hanya belum menyadari hal itu,”ucap Seunghyun lalu kembali ke apartemennya.
================================
“Ahh~~ Yang benar saja. Aku tidak suka baju ini!,”keluh Yewon saat dia harus fitting baju untuk pementasan drama 2 minggu lagi.
“Kau jangan cerewet, Yewon-a,”ucap Nicole membantu Yewon merapikan bajunya.
“Tskkk… Aku tidak suka! Dadanan macam apa ini?,”sungut Yewon kesal.
“Kau cantik sekali, jagi,”ucap Seunghyun yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik tirai.
“Ya!! Tidak sopan!! Apa kau mencoba mengintip?!!,”omel Nicole yang langsung melempar sepatu tetapi Seunghyun dengan gesit menghindar.
“Tskkk… Noona, kau pemarah sekali,”ucap Seunghyun seraya mengembalikan sepatu Nicole yang tadi dilempar oleh gadis itu.
“Itu karena kau selalu bersikap seenaknya. Kau tidak sopan sekali. Untung saja Yewon sudah selesai berpakaian,”ucap Nicole masih dengan nada tinggi.
“Memang kau pikir aku pria seperti itu? Aku tau Yewon sudah selesai berpakaian, makanya aku menjulurkan kepalaku,”ucap Seunghyun membela diri.
“Tskkk… terserah kau sajalah,”ucap Nicole masih kesal.
“Baiklah baiklah.. aku akan pergi dari sini,”ucap Seunghyun memutuskan untuk mengalah.
“Jagi, aku tunggu di kelas,”ucap Seunghyun seraya mengerlingkan matanya jenaka.
“Apa kalian benar-benar berpacaran?,”tanya Nicole sesaat setelah kepergian Seunghyun.
“Tidak. Kami hanya berteman. Hanya saja… Seunghyun memang sudah terbiasa memanggilku seperti itu, jadi aku biarkan saja,”jawab Yewon.
“Apa kau menolak cintanya?,”tanya Nicole dan Yewon tersenyum.
“Hoa~~~ Seunghyun memang pria sejati. Aku terkadang kagum padanya,”puji Nicole.
“Kau tidak biasanya memuji dia, onnie,”ucap Yewon seraya tersenyum.
“Ada beberapa hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat sempurna, tapi sayangnya lebih banyak hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat kacau,”ucap Nicole dan mereka berdua langsung tertawa.
“Wonbin-a, besok kau harus bertemu dengan Yoochun, ok?,”ucap Yoochan yang siang itu masuk ke dalam ruang kerja Wonbin. Wonbin langsung mengangkat wajahnya dari map yang sedang dibacanya dan tersenyum menatap Yoochan.
“Memang dia sudah kembali?,”tanya Wonbin.
“Akan kembali malam ini,”jawab Yoochan.
“Yoochan-a, katakan padaku dia pria seperti apa!,”pinta Wonbin. Yoochan duduk di kursi di hadapan Wonbin dan berpikir.
“Hmmm… Dia pria yang menyebalkan. Sangat dingin, keras kepala, egois, workaholic dan…,”jelas Yoochan seraya berpikir.
“Ya! Kenapa hanya sisi buruknya yang kau ingat? Sisi baiknya mana?,”tanya Wonbin.
“Hahhaha… Ntahlah, aku sendiri tidak tau apa sisi baiknya. Mungkin semua sisi buruknya adalah sesuatu yang membuatnya terlihat baik di mataku,”jawab Yoochan seraya tertawa.
“Kurasa kau benar-benar jatuh cinta padanya,”ucap Wonbin tulus dengan senyum di wajahnya.
“Ya, kurasa juga begitu. Apa lagi kau tau sendiri kan bahwa aku sudah 2 kali gagal menuju pelaminan,”ucap Yoochan menyetujui.
“Ya, karena Taecyeon maupun Joongki memang bukanlah untukmu,”komentar Wonbin dan Yoochan mengangguk.
“Dan kau sendiri, kapan kau akan menyusulku? Tidak sadarkah bahwa umurmu sudah kepala tiga?,”sindir Yoochan.
“Tidak dalam waktu dekat ini. Kurasa aku harus menunggu….. 2-7 tahun lagi,”ucap Wonbin.
“Ahhh~~ Aku tau siapa,”ucap Yoochan mengerling nakal.
“Kau mencintai anak angkatmu sendiri kah?,”tanya Yoochan.
“Ya! Dia bukan anak angkatku, Yoochan-a,”protes Wonbin.
“Ya, baiklah. Kau mencintai Yewon. Benarkan?,”tebak Yoochan.
“Ntahlah, aku sendiri masih belum tau,”jawab Wonbin.
“Yang benar saja! Akui saja lah! Untuk apa menutupinya!,”cecar Yoochan.
“Aku tidak menutupinya, Chan-a. Aku sendiri tidak tau,”ucap Wonbin membela diri.
“Lalu apa maksudnya dengan 2-7 tahun lagi? Bukankah itu tandanya kau menunggu Yewon untuk bisa kau nikahi,huh?,”tanya Yoochan.
“Itu seandainya kami memang berjodoh, Chan-a,”jelas Wonbin.
“Memang kau tidak pernah berpikir bahwa pertemuanmu dengan Yewon adalah sebuah takdir?,”tanya Yoochan dan Wonbin mengernyit.
“Pertemuanmu dengannya saja sudah merupakan takdir, Wonbin-a. Pada awalnya kau sama sekali tidak mengenalnya dan bahkan kau tidak tau bahwa dia ada di dunia ini. Tapi nyatanya, kau bertemu dengannya,”jelas Yoochan.
“Sekarang hanya kau saja yang perlu bertanya pada hatimu. Apakah kau mencintai Yewon atau tidak. Dan jika jawabannya iya, berusahalah untuk mengambil hatinya. Mungkin akan sedikit susah karena jarak umur kalian yang terpaut cukup jauh, hanya saja… jika memang berjodoh, tidak ada yang tidak mungkin kan?,”ucap Yoochan seraya tersenyum.
“Ya sudah, selamat melanjutkan pekerjaanmu! Kerjakan semua itu dengan benar dulu baru pikirkan perkataanku,”pesan Yoochan lalu pergi.
“Apakah aku… mencintai Yewon?,”gumam Wonbin seraya berpikir keras.
“Dan apakah mungkin Yewon mencintaiku?,”gumam Wonbin.
“Pertanyaan pertama, kemungkinan jawaban iya besar, tapi untuk yang kedua… kurasa itu mustahil,”ucap Wonbin mengambil kesimpulan dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
=================TBC=================