Yewon duduk di ayunan dengan sebuah tas di pangkuannya dan juga sebuah koper di sisinya. Gadis itu mengayun-ayunkan ayunan perlahan dan menatap kakinya sendiri, menatap pasir yang ada di bawahnya. Wajah Yewon terlihat sedih dan bahkan gadis itu berkali-kali menarik napas berat. Dia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan air mata yang terus menerus mendesak untuk keluar.
“Tidak! Aku tidak boleh menangis!!,”ucap Yewon seraya menepuk-nepuk kedua belah pipinya.
“Seunghyun-a, apa yang harus aku lakukan?,”gumam Yewon seraya menatap ponselnya. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Di Seoul ini, orang yang dekat dengannya hanyalah Yunmi dan Seunghyun. Dia tidak mungkin menginap sementara di rumah Yunmi karena gadis itu tinggal bersama Jonghoon, kekasihnya. Sedangkan Seunghyun? Pria itu bahkan semalam sudah menolak untuk mengijinkannya tinggal di rumahnya. Dan sekarang Yewon bingung, dia benar-benar tidak tau harus pergi kemana. Ke Jepang kah? Sebuah pemikiran bodoh.
[C’mon C’mon Girl~~~]
Yewon terkesiap saat ponselnya berdering. Dia melihat nama Seunghyunnie tertera disana. Dia hanya bisa menggerutu kesal karena Seunghyun mengganti kontak nya seenaknya. Dia pun menjawab panggilan pria itu.
“Ya! Kapan kau mengganti namamu di daftar kontakku?,”tanya Yewon langsung.
[Hahahah… sadarkah?]
“Tskk… menyebalkan! Untuk apa menelponku?,”tanya Yewon.
[Seharusnya aku yang bertanya. Untuk apa kau duduk di ayunan dengan koper besar di sisimu dan tas di pangkuanmu?]
“Eh?,”Yewon langsung menolehkan kepalanya. Dia melihat Seunghyun tersenyum kepadanya dari kejauhan. Yewon pun kemudian memutus panggilan itu dan melihat Seunghyun yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
“Seunghyun-a~~~,”ucap Yewon manja.
“Apa? Diusirkah?,”tanya Seunghyun dan Yewon mengangguk dengan wajah cemberut.
“Tskk… Kurasa kau memang ditakdirkan untuk tinggal denganku. Kkaja!!,”ucap Seunghyun seraya menarik koper Yewon. Yewon pun berjalan mengikuti pria itu dan mensejajarkan langkahnya.
“Kau tau dari mana, Seunghyun-a?,”tanya Yewon.
“Aku tau dengan sendirinya. Tadi aku melihatmu. Untung saja kau duduk di sana siang hari, jika malam hari, kurasa aku akan mengira bahwa kau hantu,”ucap Seunghyun bercanda dan langsung mendapat pukulan di bahunya.
“Aku boleh menginap di rumahmu kah? Hanya sementara. Aku janji,”ucap Yewon.
“Tinggal saja selama kau mau. Bukankah kau kekasihku,huh?,”goda Seunghyun mengerling nakal.
“Di rumahmu ada berapa kamar?,”tanya Yewon menghiraukan ucapan Seunghyun sebelumnya.
“Ada dua. Kau tenang saja. Aku membeli apartemen itu karena terkadang adikku sering datang dan menginap,”jawab Seunghyun.
“Adik?! Laki-laki lah?,”tanya Yewon kaget.
“Iya, namanya Song Se Hyun,”jawab Seunghyun.
“Akan lebih baik jika sikapnya tidak seperti kau,”ucap Yewon dan Seunghyun tertawa.
“Maaf sekali, Jagi. Tapi sikap kami memang sama,”ucap Seunghyun.
“Aigoo~~ Kurasa kedua orang tua kalian pasti pusing membesarkan kalian,”ucap Yewon.
“Yup! Kau benar sekali,”ucap Seunghyun setuju.

“Yewon-a, mau es krim kah?,”tanya Seunghyun seraya menyodorkan sekotak es krim ke hadapan Yewon yang tengah termenung. Yewon menoleh dengan kaget dan tersenyum lalu menerima es krim itu.
“Terima kasih,”jawab Yewon seraya menyuap es krimnya. Seunghyun duduk di sisinya dan menyalakan tv. Pria itu terlihat bosan dan mengganti-ganti channel tv berkali-kali.
“Tidak ada acara yang bagus kah?,”tanya Yewon.
“Hem,”jawab Seunghyun masih terus memindah-mindahkan channel.
“Matikan saja kalau begitu,”usul Yewon dan Seunghyun menoleh menatapnya.
“Jika tv ini dimatikan kau pasti akan termenung lagi. Tadi saja baru aku tinggal sebentar kau sudah termenung,”ucap Seunghyun dan Yewon menggembungkan pipinya. Matanya menatap ke dalam mangkuk es krim, tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya.
“Apa kau mau kembali ke rumah Wonbin ahjussi?,”tanya Seunghyun setelah beberapa lama berada dalam kesunyian.
“Tidak. Ahjussi pasti butuh waktu untuk sendiri,”tolak Yewon lalu kembali memakan es krimnya.
“Kalau begitu jangan diam seperti itu. Lebih baik kau berteriak-teriak memarahiku dari pada diam begitu. Aku tidak suka melihatnya,”ucap Seunghyun dan Yewon mendelik menatapnya.
“Jadi kau senang mendapat omelanku?,”tanya Yewon.
“Sebenarnya tidak. Tapi… kurasa itu lebih baik dari pada melihatmu diam seribu bahasa dengan wajah sedih seperti itu,”jawab Seunghyun dan Yewon berdecak heran.
“Aku serius, jagi,”ucap Seunghyun.
“Ya ya.. terserah kau saja,”ucap Yewon tak acuh dan bangkit dari sofa menuju dapur.

=============================

Wonbin terdiam di meja makan. Makanan di hadapannya sama sekali tidak disentuh. Dia benar-benar bingung dengan dirinya. Seharusnya saat ini dia merenung memikirkan nasibnya yang sudah ditinggal Yoochan, tapi justru dia malah memikirkan Yewon. Rasanya penyesalan begitu besar menyergapnya setelah dia meminta gadis itu untuk pergi. Sebenarnya mudah saja jika meminta Yewon untuk kembali sekarang juga. Hanya saja… dia tidak tau nanti harus bersikap bagaimana. Dia tidak yakin bisa bersikap baik pada Yewon. Dia tidak ingin melampiaskan kekecewaannya pada Yewon karena Yoochan. Tapi jika dipikir-pikir, Yoochan tidak bersalah sama sekali. Gadis itu memang tidak tau tentang perasaannya. Dan Yewon… tentu saja gadis itu sama sekali tidak bisa disalahkan. Keegoisan dirinya lah yang patut disalahkan. Kenapa dia dengan begitu bodohnya meminta Yewon untuk pergi padahal dia seharusnya melindungi Yewon, bukan malah mengusirnya seperti tadi.
“Tskkkk… Anak itu sekarang ada dimana?,”gumam Wonbin seraya menatap ponselnya.
“Aku telpon kah? Atau tidak perlu?,”gumam Wonbin bingung.
“Tskkk… Kurasa pikiranku benar-benar kacau. Sebaiknya aku tidur,”ucap Wonbin lalu pergi dari dapur dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dan begitu dia merebahkan tubuhnya di kasur, ntah kenapa memori malam tadi langsung berkelebat di otaknya. Saat Yewon memeluknya, atau lebih tepatnya saat dia memeluk Yewon. Saat Yewon membelai rambutnya. Kehangatan dan sentuhan lembut itu tiba-tiba menjalari tubuhnya. Tubuh gemetar Yewon pun masih bisa dirasakannya, saat gadis itu dengan ragu menyapukan tangannya di rambutnya. Wonbin langsung mengumpat dan menutup kepalanya dengan bantal. Berusaha mengusir pikiran kacau yang semakin lama justru malah mengarah kepada Yewon, bukan kepada Yoochan.

“Yewon-a, kau dimana?,”malam itu akhirnya Wonbin memutuskan untuk menelpon Yewon.
[Aku di rumah temanku. Ada apa, ahjussi?]
“Pulanglah,”jawab Wonbin.
[Ne?]
“Kau akan aku jemput. Kau akan menungguku dimana?,”tanya Wonbin tanpa menghiraukan respon kaget yang Yewon berikan.
[Aku pulang sendiri saja]
“Tidak. Aku akan menjemputmu. Kau sekarang ada dimana?,”ucap Wonbin bersikeras.
[Jemput aku di taman dekat sekolah saja]
“Kau tinggal di rumah temanmu yang dekat sana? Tskkk… Kenapa sampai sejauh itu?,”protes Wonbin.
“Baiklah, kau jangan kemana-mana dulu. Nanti saat aku sampai, aku akan menghubungimu dan kau baru boleh keluar,”pesan Wonbin lalu menutup flip ponselnya. Dia kemudian menyambar kunci mobilnya yang terletak di meja kerjanya dan bergegas keluar.

“Seunghyun-a, Wonbin ahjussi menyuruhku pulang,”ucap Yewon saat Seunghyun baru keluar dari kamar.
“Apa?! Ya! Aku baru saja selesai membereskan kamar untukmu. Apa kau tidak melihat keringatku yang bercucuran? Ayolah!! Menginap saja disini untuk malam ini,”rajuk Seunghyun.
“Tidak bisa, Seunghyun-a. ahjussi sudah dalam perjalanan kesini. Aku akan menemuinya di taman saat dia sampai,”jawab Yewon lalu bergegas berdiri.
“Biar aku saja yang ambilkan koper dan tas mu,”ucap Seunghyun bergegas berdiri dan mengambilkan koper dan juga tas Yewon yang ada di kamar.
“Sekarang?,”tanya Seunghyun.
“Tidak. Aku harus menunggu telpon dari ahjussi terlebih dahulu,”jawab Yewon.
“Tskkk… Kau ini benar-benar seperti anaknya,”komentar Seunghyun dan Yewon langsung menatapnya tajam.
“Maaf! Maksudku… Tanggung jawabnya,”ralat Seunghyun.
“Jangan pernah katakan itu, Seunghyun-a. Aku bukan anak angkat Wonbin ahjussi,”ucap Yewon sedih.
“Tapi di mata hukum seperti itu, Yewon-a. Dan kurasa Wonbin ahjussi pun menganggap kau sebagai anaknya,”ucap Seunghyun.
“Yang benar saja!! Wonbin ahjussi terlalu muda untuk mempunyai anak seusiaku,”ucap Yewon kesal.
“Ya ya. Terserah kau saja,”ucap Seunghyun akhirnya memutuskan untuk mengalah.
[C’mon C’mon Girl~~]
“Yeoboseyo!!,”jawab Yewon.
[Aku sudah ada disini. Cepatlah! Dingin sekali!]
“Araseo!,”jawab Yewon lalu memutus sambungan dua arah itu.
“Seunghyun-a, aku pergi sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya. Annyeong!!!,”pamit Yewon dengan senyum merekah lalu pergi dari sana. Seunghyun hanya menghela napas pelan dan tersenyum kecut.
“Nasibmu menyedihkan sekali, Seunghyun-a,”ucapnya pada dirinya sendiri.

“Oh? Ahjussi? Kenapa?,”ucap Yewon kaget saat Wonbin langsung memeluknya.
“Ahjussi~~,”ucap Yewon lagi.
“Maafkan aku, Yewon-a,”ucap Wonbin di bahu Yewon. Yewon dapat merasakan napas pria itu di tengkuknya. Jantungnya langsung berdetak begitu kencang menyadari keintimannya dengan Wonbin.
“Kau tenang saja, ahjussi,”ucap Yewon seraya mendorong tubuh Wonbin perlahan.
“Kau baik-baik saja?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja! Aku kan baru pergi beberapa jam yang lalu,”jawab Yewon.
“Kau sudah makan malam?,”tanya Wonbin.
“Sudah. Kenapa? Ahjussi belum makan kah?,”Yewon balik bertanya.
“Aku belum makan sejak pagi tadi,”jawab Wonbin.
“Ya! Kenapa melakukan itu?! Tskk… kau seperti anak yang baru beranjak remaja saja, ahjussi. Bersikaplah dewasa! Masa kau tidak makan hanya karena patah hati,”sindir Yewon dan Wonbin tertawa perlahan.
“Kalau begitu temani aku makan,”ucap Wonbin.
“Ah… tidak! Kau harus makan denganku. Kkaja!,”ucap Wonbin seraya menarik tangan Yewon.
“Tidak! Yang benar saja! Aku tidak mau!,”tolak Yewon.
“Kenapa? Takut gemuk kah? Kau tidak akan gemuk secepat itu, Yewon-a,”ucap Wonbin seraya membuka pintu mobil untuk Yewon dan menyuruh gadis itu masuk. Dia berputar dan masuk ke dalam kursi kemudi.
Seunghyun yang sebenarnya mengantar Yewon –dari belakang—hanya bisa tersenyum kecut melihat pemandangan itu. Dia akhirnya tau kenapa Yewon begitu mencintai Wonbin. Wonbin memperlakukannya dengan baik. Bahkan dengan sangat baik. Pria itu terlihat begitu perhatian padanya,walau mungkin Yewon tidak menyadarinya.
“Ahjussi, aku tau bahwa kau juga mencintai, Yewon. Kau hanya belum menyadari hal itu,”ucap Seunghyun lalu kembali ke apartemennya.

================================

“Ahh~~ Yang benar saja. Aku tidak suka baju ini!,”keluh Yewon saat dia harus fitting baju untuk pementasan drama 2 minggu lagi.
“Kau jangan cerewet, Yewon-a,”ucap Nicole membantu Yewon merapikan bajunya.
“Tskkk… Aku tidak suka! Dadanan macam apa ini?,”sungut Yewon kesal.
“Kau cantik sekali, jagi,”ucap Seunghyun yang tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik tirai.
“Ya!! Tidak sopan!! Apa kau mencoba mengintip?!!,”omel Nicole yang langsung melempar sepatu tetapi Seunghyun dengan gesit menghindar.
“Tskkk… Noona, kau pemarah sekali,”ucap Seunghyun seraya mengembalikan sepatu Nicole yang tadi dilempar oleh gadis itu.
“Itu karena kau selalu bersikap seenaknya. Kau tidak sopan sekali. Untung saja Yewon sudah selesai berpakaian,”ucap Nicole masih dengan nada tinggi.
“Memang kau pikir aku pria seperti itu? Aku tau Yewon sudah selesai berpakaian, makanya aku menjulurkan kepalaku,”ucap Seunghyun membela diri.
“Tskkk… terserah kau sajalah,”ucap Nicole masih kesal.
“Baiklah baiklah.. aku akan pergi dari sini,”ucap Seunghyun memutuskan untuk mengalah.
“Jagi, aku tunggu di kelas,”ucap Seunghyun seraya mengerlingkan matanya jenaka.
“Apa kalian benar-benar berpacaran?,”tanya Nicole sesaat setelah kepergian Seunghyun.
“Tidak. Kami hanya berteman. Hanya saja… Seunghyun memang sudah terbiasa memanggilku seperti itu, jadi aku biarkan saja,”jawab Yewon.
“Apa kau menolak cintanya?,”tanya Nicole dan Yewon tersenyum.
“Hoa~~~ Seunghyun memang pria sejati. Aku terkadang kagum padanya,”puji Nicole.
“Kau tidak biasanya memuji dia, onnie,”ucap Yewon seraya tersenyum.
“Ada beberapa hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat sempurna, tapi sayangnya lebih banyak hal dalam dirinya yang membuatnya terlihat kacau,”ucap Nicole dan mereka berdua langsung tertawa.

“Wonbin-a, besok kau harus bertemu dengan Yoochun, ok?,”ucap Yoochan yang siang itu masuk ke dalam ruang kerja Wonbin. Wonbin langsung mengangkat wajahnya dari map yang sedang dibacanya dan tersenyum menatap Yoochan.
“Memang dia sudah kembali?,”tanya Wonbin.
“Akan kembali malam ini,”jawab Yoochan.
“Yoochan-a, katakan padaku dia pria seperti apa!,”pinta Wonbin. Yoochan duduk di kursi di hadapan Wonbin dan berpikir.
“Hmmm… Dia pria yang menyebalkan. Sangat dingin, keras kepala, egois, workaholic dan…,”jelas Yoochan seraya berpikir.
“Ya! Kenapa hanya sisi buruknya yang kau ingat? Sisi baiknya mana?,”tanya Wonbin.
“Hahhaha… Ntahlah, aku sendiri tidak tau apa sisi baiknya. Mungkin semua sisi buruknya adalah sesuatu yang membuatnya terlihat baik di mataku,”jawab Yoochan seraya tertawa.
“Kurasa kau benar-benar jatuh cinta padanya,”ucap Wonbin tulus dengan senyum di wajahnya.
“Ya, kurasa juga begitu. Apa lagi kau tau sendiri kan bahwa aku sudah 2 kali gagal menuju pelaminan,”ucap Yoochan menyetujui.
“Ya, karena Taecyeon maupun Joongki memang bukanlah untukmu,”komentar Wonbin dan Yoochan mengangguk.
“Dan kau sendiri, kapan kau akan menyusulku? Tidak sadarkah bahwa umurmu sudah kepala tiga?,”sindir Yoochan.
“Tidak dalam waktu dekat ini. Kurasa aku harus menunggu….. 2-7 tahun lagi,”ucap Wonbin.
“Ahhh~~ Aku tau siapa,”ucap Yoochan mengerling nakal.
“Kau mencintai anak angkatmu sendiri kah?,”tanya Yoochan.
“Ya! Dia bukan anak angkatku, Yoochan-a,”protes Wonbin.
“Ya, baiklah. Kau mencintai Yewon. Benarkan?,”tebak Yoochan.
“Ntahlah, aku sendiri masih belum tau,”jawab Wonbin.
“Yang benar saja! Akui saja lah! Untuk apa menutupinya!,”cecar Yoochan.
“Aku tidak menutupinya, Chan-a. Aku sendiri tidak tau,”ucap Wonbin membela diri.
“Lalu apa maksudnya dengan 2-7 tahun lagi? Bukankah itu tandanya kau menunggu Yewon untuk bisa kau nikahi,huh?,”tanya Yoochan.
“Itu seandainya kami memang berjodoh, Chan-a,”jelas Wonbin.
“Memang kau tidak pernah berpikir bahwa pertemuanmu dengan Yewon adalah sebuah takdir?,”tanya Yoochan dan Wonbin mengernyit.
“Pertemuanmu dengannya saja sudah merupakan takdir, Wonbin-a. Pada awalnya kau sama sekali tidak mengenalnya dan bahkan kau tidak tau bahwa dia ada di dunia ini. Tapi nyatanya, kau bertemu dengannya,”jelas Yoochan.
“Sekarang hanya kau saja yang perlu bertanya pada hatimu. Apakah kau mencintai Yewon atau tidak. Dan jika jawabannya iya, berusahalah untuk mengambil hatinya. Mungkin akan sedikit susah karena jarak umur kalian yang terpaut cukup jauh, hanya saja… jika memang berjodoh, tidak ada yang tidak mungkin kan?,”ucap Yoochan seraya tersenyum.
“Ya sudah, selamat melanjutkan pekerjaanmu! Kerjakan semua itu dengan benar dulu baru pikirkan perkataanku,”pesan Yoochan lalu pergi.
“Apakah aku… mencintai Yewon?,”gumam Wonbin seraya berpikir keras.
“Dan apakah mungkin Yewon mencintaiku?,”gumam Wonbin.
“Pertanyaan pertama, kemungkinan jawaban iya besar, tapi untuk yang kedua… kurasa itu mustahil,”ucap Wonbin mengambil kesimpulan dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.

=================TBC=================
Yewon memicingkan matanya dan menatap Wonbin yang kini tengah memasak di dapur sambil bersiul gembira. Gadis itu lalu meletakkan tas sekolahnya dan berjalan menghampiri Wonbin.
“Ahjussi…,”panggil Yewon dan Wonbin menoleh,tersenyum lebar menatapnya.
“Kau sudah pulang! Bagaimana ekskulnya?,”tanya Wonbin dengan nada yang tidak biasanya, sangat senang.
“Melelahkan,”jawab Yewon sekenanya. Dia kemudian duduk dan menatap punggung Wonbin yang bergerak kesana kemari dan siulan yang masih terdengar dari bibirnya.
“Ahjussi, apakah ada hal bagus yang terjadi?,”tanya Yewon akhirnya. Wonbin langsung memutar tubuhnya dan mengangguk dengan semangat.
“Hu’um. Yoochan akan datang malam ini. Dia akan makan malam disini,”jawab Wonbin.
“Apakah kau akan melamarnya malam ini?,”tanya Yewon setelah dengan susah payah menelan ludahnya.
“Tentu saja tidak. Aku belum menyiapkan apapun, Yewon-a. aku bahkan belum membeli cincin,”jawab Wonbin.
“Ahh… Dan kau harus membantuku memilihkan cincin,”ucap Wonbin kemudian seraya mengerlingkan matanya sebelum kembali melanjutkan acara memasaknya. Yewon hanya tersenyum kecut mendengarnya. Bagaimana mungkin? Yoochan pasti sudah mempunyai cincin dari kekasihnya kan? Atau lebih tepatnya calon suaminya.
“Ahjussi, apakah nanti akan ada makan malam spesial?,”tanya Yewon.
“Kenapa?,”Wonbin balik bertanya seraya mengaduk saus pasta buatannya lalu menyodorkan sesendok saus itu pada Yewon dan Yewon langsung mengacungkan ibu jarinya.
“Kalau seandainya nanti makan malam spesial, aku akan pergi,”jawab Yewon.
“Tskkk… Memang kau mau pergi kemana,huh?,”tanya Wonbin.
“Kau tenang saja, itu bukan makan malam spesial. Tentu saja aku akan membawa Yoochan ke restoran yang romantis jika memang ingin mengadakan acara makan malam spesial,”ucap Wonbin.
“Jadi, nona manis. Sebaiknya sekarang kau bergegas mandi dan bantu aku menghias serta menata semua makan ini. Dan ah… Kau harus membantuku memindahkan meja dan kursi makan ini ke balkon,”ucap Wonbin yang langsung membuat Yewon mengerucutkan bibirnya, tetapi pada akhirnya gadis itu menurut dan pergi menuju kamar mandi dengan kaki menghentak-hentak.
“Tskkk… Dasar gadis kecil,”ucap Wonbin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku benar-benar berharap bahwa aku punya tongkat sihir dan bisa memindahkan meja ini dengan sekali lambaian tangan,”ucap Yewon saat pada akhirnya dia harus membantu Wonbin mengeluarkan meja makan dan meletakkannya di balkon.
“Sudahlah,lakukan saja! Cepat angkat lagi! Kau ini benar-benar tidak bertenaga, Yewon-a,”sindir Wonbin dan dengan sukses membuat wajah gadis itu semakin terlipat.
“Aku mau pergi saja!,”ucap Yewon setelah selesai memindahkan meja dan pergi begitu saja.
“Ya!!!,”teriak Wonbin tetapi Yewon tidak menggubrisnya dan Yewon menutup pintu.
“Tsk.. anak itu menyebalkan sekali. Baiklah,aku akan mengerjakannya sendiri. Memang kau pikir aku tidak bisa?,”ucap Wonbin kesal.
“Awas saja kau saat pulang nanti. Akan kusuruh kau tidur di meja ini!,”ucap Wonbin kesal dan mulai memindahkan kursi makan. Lalu setelah itu menata semua makanan.
“Kuharap malam ini tidak akan hujan. Tuhan, kau kejam sekali jika kau memberikan hujan malam ini,”ucap Wonbin lalu mengeluarkan ponselnya dan mendial angka 1, yang langsung terhubung dengan nomor Yoochan.
“Chan-a, apakah sudah siap?,”tanya Wonbin.
“Disini sudah siap semuanya. Hanya saja satu kursi masih kosong,”ucap Wonbin tersenyum.
“Baiklah, aku tunggu. Jangan terlalu lama, Chan-a. nanti makanan lezat buatanku dingin,”pesan Wonbin.

====================================

“Jagi!!! Kenapa datang tiba-tiba? Sudah rindu padakukah?,”ucap Seunghyun sambil berlari dengan tangan terentang lebar saat melihat Yewon masuk ke dalam restoran. Pria itu tanpa malu-malu langsung memeluk Yewon dan mengecup pipi gadis itu. Yewon hanya menatapnya tajam dan menunjukkan ekspresi kesal.
“Araseo! Araseo! Jangan marah begitu. Duduklah dulu!,”ucap Seunghyun lalu menarik Yewon ke sudut ruangan dan menyuruh gadis itu duduk.
“Kau mau pesan apa? Maaf aku tidak bisa menemanimu, aku harus bekerja sampai jam 11 malam nanti,”ucap Seunghyun.
“Aku lapar…,”jawab Yewon.
“Baiklah. Aku akan dengan segera membawakanmu makanan,”ucap Seunghyun lalu pergi dari sana. Yewon menopang dagunya dengan sebelah tangannya dan menghembuskan napas perlahan.
“Hhh… Kuharap ahjussi akan baik-baik saja,”ucap Yewon lalu menatap layar ponselnya. Dia tersenyum lembut menatap wallpapernya. Itu adalah foto Wonbin. Foto yang dia ambil secara diam-diam saat pria itu sedang tidur.
“Kau lucu sekali, ahjussi,”gumam Yewon.
“Jagi, sebaiknya kau foto aku saja. Tidak perlu secara sembunyi-sembunyi kok,”ucap Seunghyun yang tiba-tiba sudah kembali dan meletakkan makanan di hadapan Yewon.
“YA!! Kenapa memotret tiba-tiba,huh?,”protes Seunghyun saat didengarnya suara jepretan kamera.
“Kau lebih tampan seperti ini dari pada saat bicara. Kau itu cerewet sekali,”ucap Yewon seraya menatap hasil jepretannya. Wajah Seunghyun benar-benar tampan. Seandainya saja dia bertemu dengan Seunghyun terlebih dahulu, mungkin dia akan mencintai pria ini.
“Aku mau lihat!,”ucap Seunghyun mencoba meraih ponsel Yewon tetapi Yewon dengan gesit memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
“Sudah sana cepat kembali bekerja! Aku mau makan,”ucap Yewon yang mulai mengambil makanan di hadapannya.
“Awas kau! Aku pasti akan membalasnya. Aku akan memotretmu secara diam-diam,”ancam Seunghyun sebelum pergi dari sana. Yewon hanya menggedikkan bahunya seolah tidak peduli dan menyantap makan malamnya.

“Bagaimana? Enak kah?,”tanya Wonbin saat Yoochan mencicipi masakannya.
“Selalu enak seperti biasanya,”jawab Yoochan dan Wonbin langsung tersenyum.
“Kurasa aku harus mencari suami sepertimu, Wonbin-a. kau tau sendiri kan kalau aku ini payah dalam urusan dapur?,”ucap Yoochan.
“Ya, tentu saja. Dari pada nanti kau membuat anak-anakmu mati kelaparan. Atau mungkin keracunan,”gurau Wonbin dan Yoochan mendelik padanya.
“Oiya, mana Yewon?,”tanya Yoochan saat menyadari bahwa dia tidak melihat sosok Yewon di manapun.
“Tidak tau, tadi dia pergi begitu saja,”jawab Wonbin.
“Apa kau mengusirnya?,”tanya Yoochan.
“Yang benar saja!! Aku bukan orang seperti itu, Chan-a,”protes Wonbin.
“Atau karena aku datang maka dari itu dia pergi?,”tanya Yoochan.
“Mungkin,”jawab Wonbin.
“Aku hanya bercanda, Chan-a,”ucap Wonbin saat melihat raut wajah kaget Yoochan.
“Aku tidak tau. Biarkan saja! Nanti juga dia akan kembali dengan sendirinya. Sekarang kau kenyangkan saja dulu perutmu!,”ucap Wonbin.
“Baiklah, nanti aku akan mengatakan sesuatu padamu,”ucap Yoochan yang langsung membuat Wonbin mengangkat kepalanya.
“Apa?,”tanya Wonbin tetapi Yoochan hanya menjawab dengan senyum misterius dan kembali melanjutkan makan malamnya.

============================

“Seunghyun-a, kurasa aku menunggumu saja,”ucap Yewon saat Seunghyun datang untuk membersihkan mejanya.
“Apa kau diusir oleh ahjussi itu?,”tanya Seunghyun khawatir.
“Tidak. Aku hanya tidak ingin pulang sekarang saja,”jawab Yewon.
“Apa yang terjadi?,”tanya Seunghyun.
“Aku menunggumu di taman ya!,”ucap Yewon menghiraukan pertanyaan Seunghyun dan pergi.
“Ya! Setidaknya jelaskan dulu!,”ucap Seunghyun seraya menarik tangan Yewon.
“Nanti saja, Seunghyun-a. sudahlah, cepat kembali bekerja!,”sergah Yewon lalu segera pergi.
“Tskkk.. Kurasa aku harus pergi sekarang,”ucap Seunghyun.
“Sajangnim!! Aku pulang ya! Potong saja gajiku!,”pamit Seunghyun lalu dengan segera melepas seragam kerjanya dan mengambil tasnya lalu bergegas menyusul Yewon.
“Tskkk… Cepat sekali dia,”ucap Seunghyun saat sudah tidak dilihatnya lagi sosok Yewon.
“Jagi, kau berjalan cepat sekali,”ucap Seunghyun saat akhirnya sampai di taman. Yewon langsung menoleh dan menunjukkan wajah shock,tetapi Seunghyun menghiraukannya dan duduk di ayunan di samping gadis itu.
“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih harus bekerja?,”tanya Yewon heran. Seunghyun menolehkan kepalanya dan tersenyum menatap Yewon.
“Kenapa? Mengkhawatirkanku?,”goda Seunghyun.
“Tskk… yang benar saja,”ucap Yewon kesal.
“Ya sudah, cepat jelaskan kenapa kau tidak ingin pulang?,”tanya Seunghyun.
“Yoochan onnie,”jawab Yewon dengan kepala menunduk menatap kakinya yang kini tengah memainkan pasir.
“Ada apa dengan Yoochan noona?,”tanya Seunghyun tidak mengerti.
“Yoochan onnie… ada di apartemen,”jawab Yewon.
“Ahh… Karena itu. Untuk apa?,”tanya Seunghyun.
“Makan malam dengan Wonbin ahjussi,”jawab Yewon.
“Lalu kau kabur dari sana karena tidak ingin mengganggu mereka? Begitu?,”tebak Seunghyun dan Yewon mengangguk.
“Tskkk… Bodoh! Seharusnya kau tetap disana dan memantau mereka,”ucap Seunghyun dan Yewon menoleh.
“Sudahlah, sekarang aku antar kau pulang!,”ucap Seunghyun seraya bangkit dan meraih tangan Yewon, tetapi Yewon menahannya.
“Kenapa?,”tanya Seunghyun.
“Aku tidak mau pulang. Aku akan menunggu telpon dari Wonbin ahjussi. Aku tidak mau mengganggu mereka,”ucap Yewon.
“hhhh… Baiklah. Kau ini benar-benar gadis yang membingungkan,”ucap Seunghyun lalu kembali duduk.

“Apa?!,”ucap Wonbin tidak percaya.
“Aku akan segera menikah, Wonbin-a,”ulang Yoochan. Wonbin bergeming. Dia benar-benar tidak tau harus merespon apa.
“Ahhh… Selamat! Dengan siapa?,”akhirnya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Dengan anak dari rekan kerja ayahku. Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal, Wonbin-a!,”ucap Yoochan merasa bersalah.
“Sebenarnya aku ingin mempertemukan kalian sejak dulu, hanya saja dia terlalu sibuk,”ucap Yoochan.
“Tapi dia janji bulan depan akan kembali kesini. Apakah kau bersedia bertemu dengannya?,”tanya Yoochan.
“Hm?”tanya Wonbin.
“Tskkkk… Kau ini sebenarnya mendengarkan aku atau tidak?,”ucap Yoochan dengan bibir mengerucut.
“Maaf… aku hanya….. mencemaskan Yewon,”kilah Wonbin.
“Ahh… Benar juga. Sudah jam 9 tapi dia belum kembali,”ucap Yoochan.
“Aku akan mencari Yewon,”ucap Wonbin.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang. Siapa tau nanti aku bertemu dengannya di jalan,”ucap Yoochan seraya menyampirkan tasnya.
“Ahh… Jangan lupa untuk bertemu dengan calon suamiku, Wonbin-a!,”ucap Yoochan mengerling jenaka dan Wonbin hanya tersenyum simpul.

============================

“Yewon-a, ayolah! Aku antar kau pulang!,”ucap Seunghyun saat melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Wonbin ahjussi belum menelponku,”ucap Yewon.
“Mungkin dia sudah tidur dan dia lupa. Ayolah, Yewon-a! ini sudah malam. Dingin sekali,”rajuk Seunghyun.
“Jika kau ingin pulang, kau pulang duluan saja,”ucap Yewon.
“Tskkk… Memang kau pikir aku pria seperti itu? Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis sendirian malam-malam,”ucap Seunghyun. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat. Seunghyun melepaskan jaketnya dan memberikan pada Yewon.
“Pakailah! Setidaknya badanmu tetap hangat,”ucap Seunghyun.
“Tidak usah. Kau saja,”tolak Yewon.
“Tskkk… Pakai saja!,”paksa Seunghyun.
“Kau menyebalkan!,”ucap Yewon kesal dan akhirnya memakai jaket yang disodorkan Seunghyun.
“Dan kau lebih menyebalkan karena terlalu keras kepala!,”balas Seunghyun. Yewon mendengus kesal. Dia rasanya ingin sekali meninju pria di sampingnya ini.
“Ayolah! Sekarang pulang. Kumohon jangan keras kepala, Yewon-a,”ucap Seunghyun mencoba membujuk Yewon untuk kesekian kalinya.
“Aku menginap di rumahmu saja,”ucap Yewon.
“Tskkk… Apa kau mau aku menerkammu,huh?,”tanya Seunghyun.
“Kau tidak mungkin berani,”ucap Yewon yakin.
“YA! Aku ini seorang pria, Yewon-a. dan ingat,aku mencintaimu. Dan cara itu tentunya cukup ampuh jika aku gunakan untuk menjeratmu,”ucap Seunghyun.
“Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin pulang, Seunghyun-a,”rajuk Yewon.
“Maaf, kali ini aku tidak bisa menuruti kemauanmu. Kau harus pulang. Kkaja!,”ucap Seunghyun tegas seraya menarik tangan Yewon.

“Ahjussi, aku pulang!,”ucap Yewon saat membuka pintu dan menutupnya dengan perlahan.
“Oh… Yewon-a, kemarilah!,”ucap Wonbin yang tengah duduk di lantai.
“Ahjussi, apa kau mabuk?,”tanya Yewon saat mendekat dan dilihatnya 5 botol soju yang sudah kosong.
“Tidak. Aku tidak mabuk. Kau tenang saja,”sangkal Wonbin.
“Ahjussi, sebenarnya apa yang sudah terjadi?,”tanya Yewon dan Wonbin tertawa. Yewon hanya menatapnya dengan tatapan kasihan.
“Jangan mengasihaniku, Yewon-a! aku memang sangat malang. Dan juga bodoh,”gumam Wonbin.
“Yoochan… Yoochan akan menikah, Yewon-a. tapi bukan denganku. Hahaha… dengan pria lain,”ucap Wonbin dengan suara yang semakin pelan dan terlihat air mata mengalir di pipi pria itu.
“Seharusnya… Aku mengungkapkan perasaanku lebih cepat, bukankah begitu?,”tanya Wonbin meminta pendapat Yewon tetapi Yewon hanya menatapnya.
“Jangan tatap aku seperti itu!!,”ucap Wonbin seraya menutup mata Yewon.
“Ahjussi, tidurlah!,”ucap Yewon lalu mencoba membantu Wonbin untuk berdiri.
“Tidur? Bagaimana mungkin aku bisa tidur, Yewon-a?”gumam Wonbin tetapi Yewon tetap menyeretnya ke kasur dan membaringkan tubuh Wonbin.
“Kau juga tidur disini! Kumohon!,”pinta Wonbin saat Yewon beranjak dari kasur.
“Aku ingin kau memelukku. Memberikan kalimat-kalimat penyemangat untukku,”ucap Wonbin.
“Ahjussi, kau sedang mabuk!”ucap Yewon.
“Walaupun seandainya aku memang mabuk, tapi itu benar-benar keinginanku, Yewon-a. ayolah!!,”ucap Wonbin.
“Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan melakukan apa-apa,”janji Wonbin. Yewon bergeming, menimbang-nimbang apakah dia harus menuruti keinginan Wonbin atau menjauh dari sana. Sebelum dia mendapatkan jawabannya, tubuhnya sudah bereaksi terlebih dahulu. Dia naik ke atas kasur dan Wonbin langsung menariknya hingga terbaring dan bersandar di bahu gadis itu dan memeluk pinggang Yewon.
“Biarkan aku tidur dalam posisi ini, Yewon-a,”pinta Wonbin seraya memejamkan matanya. Napas Wonbin terdengar semakin teratur dan Yewon dapat merasakan napas pria itu di tengkuknya. Yewon mengusap pelan rambut Wonbin.
“Ahjussi, seandainya saja kau memberiku kesempatan. Aku pasti aku bisa menjadi seperti Yoochan onnie,”ucap Yewon sedih.

“Maaf untuk yang semalam, Yewon-a,”ucap Wonbin pagi itu saat baru bangun.
“Tidak apa-apa,ahjussi,”ucap Yewon.
“Yewon-a.. ahh.. tidak..,”ucap Wonbin.
“Ada apa, ahjussi?,”tanya Yewon.
“Tidak apa-apa,”ucap Wonbin seraya tersenyum.
“Katakan saja jika ada yang ingin kau katakan,”ucap Yewon. Wonbin terdiam. Pria itu terlihat berpikir.
“Aku rasa… aku membutuhkan ketenangan untuk… beberapa waktu. Bisakah kau pergi dari sini untuk sementara?,”tanya Wonbin.
“Kau tenang saja. Aku akan memberikanmu uang untuk menyewa hotel,”ucap Wonbin.
“Tidak perlu, ahjussi. Aku bisa tinggal dengan temanku. Apa kau ingin aku pergi sekarang juga?,”tanya Yewon.
“Aku harus membereskan barang-barangku dulu,”ucap Yewon.
“Kau jangan salah paham, Yewon-a. aku tidak bermaksud untuk melepas tanggung jawabku sebagai walimu,”ucap Wonbin mencoba menjelaskan.
“Kau tenang saja, ahjussi. Aku mengerti,”ucap Yewon.
“Aku akan kembali kesini… Jika kau memintaku,”ucap Yewon seraya tersenyum.

============TBC============
“Seunghyun-a, kenapa kau ikut datang kesini?,”tanya Key kesal saat Seunghyun tiba-tiba masuk ke dalam ruang klubnya.
“Aku anggota baru,”jawab Seunghyun.
“APA?!,”teriak semua yang ada disana.
“Tidak! Tidak boleh! Kau jangan main-main, Seunghyun-a. cepat pergi!,”ucap Key mendorong tubuh Seunghyun tetapi pria itu tetap bergeming.
“Tskk… Aku dengan niat baik datang kesini. Bukankah kalian sedang kekurangan pemain? Jadi aku datang membantu,”ucap Seunghyun.
“Seunghyun-a, lebih baik kami double peran dari pada harus ada kau disini,”ucap Jonghoon.
“Ya! Kalian ini menyebalkan sekali! Aku berjanji akan serius! Sungguh!,”janji Seunghyun tetapi semua hanya saling pandang tidak percaya.
“Ya! Aku benar-benar akan bersungguh-sungguh. Aku janji! Ayolah! Percayalah! Ok?,”ucap Seunghyun lagi.

“Aku akan membagikan peran tiap pemain. Kita akan bermain drama Putri Tidur,”ucap Nicole.
“Ya! Bukankah itu terlalu kekanak-kanakkan?,”protes Seunghyun yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nicole.
“Jonghoon-a, kau menjadi pangerannya. Yewon-a, kau menjadi Putri Tidur. Yunmi-a, kau menjadi ratu jahat nya. Seunghyun-a, kau jadi prajurit,”ucap Nicole mulai membagikan peran.
“Ya! Apa-apaan itu? Kenapa Yewon yang menjadi Putri Tidur nya?,”protes Seunghyun.
“Karena bahasa korea dia tidak terlalu bagus dan ada baiknya dia mendapatkan peran dengan sedikit dialog,”jawab Nicole.
“Tapi bukankah nanti akan ada adegan ciuman,huh? Apakah Jonghoon harus menciumnya? Ya! Noona! Kau kejam sekali. Seharusnya Yunmi yang kau jadikan Putri Tidur nya. Apa kau tidak mengerti perasaannya,huh?,”protes Seunghyun lagi.
“Aku yakin mereka mengerti profesionalisme. Sudahlah, kau jangan banyak protes, Seunghyun-a. atau kudepak kau dari sini!,”ancam Nicole.
“Tskkk… tidak bisa dibiarkan,”ucap Seunghyun mencoba menyusun rencana. Mereka pun berlatih dengan dialog masing-masing sebelum memulainya. Yewon hanya diam saja. Suasana hatinya sedang buruk, bagaimana mungkin dia bisa menghapal?
“Jagya! Kau jangan sedih. Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan kau berciuman dengan pria lain,”ucap Seunghyun yang langsung merangkul Yewon. Yewon hanya diam saja. Wajah gadis itu tetap terlihat keruh. Seunghyun kemudian menatapnya dan menggenggam tangan Yewon.
“Lupakan hal itu untuk sejenak, Yewon-a. bukankah kau masuk klub untuk bersenang-senang,huh?,”ucap Seunghyun.
“Aku benar-benar tidak bisa berpikir,”ucap Yewon lalu duduk di lantai dan Seunghyun ikut duduk.
“Tskk… Berikan dialogmu! Biar aku bantu!,”ucap Seunghyun mengambil naskah dialog di tangan Yewon dan membacanya.
“Tskkk… Apa-apaan ini? Aku benar-benar tidak bisa terima jika kau berciuman dengan Jonghoon,”ucap Seunghyun kesal.
“Aku juga tidak mau. Aku akan merasa tidak enak pada Yunmi,”ucap Yewon.
“Baiklah! Ayo kita bekerja sama!,”ucap Seunghyun.
“Apa maksudmu?,”tanya Yewon bingung.
“Aku akan mengajukan diri untuk memerankan peran pangeran. Tapi karena semua pasti tidak akan setuju, jadi kau harus membantuku. Lagi pula, peranmu tidak mungkin digantikan oleh Yunmi. Jika peran kalian ditukar, akan menjadi masalah. Kau membaca Hangeul saja masih tidak becus,”ucap Seunghyun.
“Tapi aku juga tidak mau berciuman denganmu!,”ucap Yewon keras.
“Tskk… kurasa kau benar-benar tidak tau tekniknya,”ucap Seunghyun lalu dengan tiba-tiba memegang leher Yewon dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yewon. Dia kemudian mengarahkan tangannya ke dagu Yewon hingga gadis itu mendongak menatapnya. Dengan perlahan Seunghyun mendekat, Yewon yang takut hanya bisa memejamkan matanya, tetapi beberapa detik kemudian dia membuka matanya, dan melihat Seunghyun di hadapannya. Wajah mereka benar-benar dekat, tetapi dia tidak merasakan bibir pria itu menyentuh bibirnya. Dia kemudian melihat ke bawah dan melihat ibu jari pria itu tepat di atas bibirnya.
“Apa kau mengerti,huh?,”tanya Seunghyun seraya menjauh.
“Ahh… Jadi begitu triknya,”ucap Yewon paham.
“Tapi trik itu bisa dilakukan jika berciuman dalam keadaan duduk ataupun berdiri, jadi penonton tidak akan menyadarinya. Tapi masalahnya, adegan nanti adalah pangeran membangunkan Putri Tidur dengan sebuah kecupan. Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan cara seperti tadi, karena akan terlihat jelek jika tetap menggunakan cara itu,”jelas Seunghyun.
“Lalu?,”tanya Yewon bingung.
“Sekarang kau yang memutuskan. Kau ingin berciuman dengan Jonghoon dan membuat Yunmi sakit hati, atau memilih berciuman denganku,”jawab Seunghyun.
“Aku ingin dengan Wonbin ahjussi,”ucap Yewon yang langsung membuat Seunghyun mencubit pipinya.
“Aish!! Anak ini! Wonbin ahjussi tidak mungkin ikut bermain. Pilihanmu hanya dua itu. Pikirkanlah baik-baik. Kau tenang saja, aku pasti akan memberikan ciuman yang lembut dan menggairahkan,”ucap Seunghyun seraya mengerling jahil kemudian berdiri.
“Aku pergi!,”ucapnya keluar ruangan.
“Ya! Kau! Seenaknya saja!,”umpat Nicole kesal.
“Tskk… benar-benar pembawa masalah!!!,”teriak Nicole kesal.

=============================

“Ya! Berhentilah menunjukkan ekspresi itu! Aku benar-benar tidak suka!,”ucap Seunghyun kesal. Dia dan Yewon kini sedang berjalan menuju stasiun subway. Yewon lebih terbiasa naik subway dari pada bus, seperti di Jepang dulu dan Seunghyun mengikutinya, padahal rumah pria itu jelas-jelas hanya melewati beberapa tikungan dari sekolah. Benar-benar pria aneh.
“Kalau tidak suka kau pergi saja! Siapa suruh mengikutiku!,”ucap Yewon kesal.
“Tskk… Kau ini! Kau mau apa? Apa kau mau permen,huh?,”tanya Seunghyun.
“Memang kau pikir aku anak kecil yang akan langsung tersenyum jika disodorkan permen?,”tanya Yewon kesal.
“Memang kau pikir hanya anak kecil yang boleh makan permen?,”Seunghyun balas bertanya.
“Sudahlah. Ikut denganku. Aku tau tempat yang bagus,”ucap Seunghyun lalu menarik tangan Yewon.
“Ini! Aku berikan lollipop ini!,”Seunghyun menyodorkan sebatang lollipop pada Yewon, Yewon hanya menatapnya dengan kesal.
“Tskk… sudah terima saja!,”ucap Seunghyun memaksa dan memasukkan lollipop itu ke dalam mulut Yewon. Setelah dia membayar untuk lollipop itu, dia pun kembali menarik Yewon.
“Kau tau, makanan manis itu membantu saat sedih. Memang kau tidak pernah mendengar tentang hal itu,huh?,”tanya Seunghyun. Yewon tetap bergeming. Gadis itu berjalan seolah tanpa arwah di tubuhnya.
“Kumohon, Yewon-a. sampai kapan kau akan seperti ini? Ahjussi juga pasti akan khawatir jika melihatmu seperti ini,”ucap Seunghyun.
“Kau tenang saja. Di hadapannya aku akan selalu bersikap biasa. Untuk itu, tolong biarkan aku seperti ini sekarang,”ucap Yewon tenang tanpa ekspresi. Seunghyun menghela napasnya kesal, tetapi pada akhirnya pria itu menyerah. Dia tetap membiarkan Yewon seperti itu.
“Oh? Chan noona,”ucap Seunghyun tiba-tiba dan menghentikan langkahnya. Yewon pun menghentikan langkahnya. Dia menolehkan wajahnya, mengikuti arah pandang Seunghyun. Dia langsung terdiam melihat pemandangan di depannya. Dia melihat Yoochan sedang bersama seorang pria, bukan Wonbin. Kedua orang itu terlihat masuk ke dalam sebuah butik yang menjual baju pengantin.
“Woah… Apa Chan noona akan segera menikah?,”ucap Seunghyun refleks dan kemudian dia menutup mulutnya.

===========================

“Oh? Kau datang,”ucap Wonbin saat Yewon masuk. Yewon menatap pria itu, selama beberapa detik dia menatap pria itu dengan ekspresi sedih.
“Ahjussi, kau sudah kembali? Kemana Chan onnie?,”tanya Yewon ceria seperti biasanya dan melempar tasnya ke kasur.
“Dia bilang ada urusan. Memang kenapa?,”tanya Wonbin.
“Apakah kau akan segera menikah dengan Chan onnie, ahjussi?,”tanya Yewon.
“Ya! Apa kau gila! Aku belum memikirkan ke arah itu,”jawab Wonbin kembali menatap layar tv. Yewon terdiam. Kalau begitu… kenapa tadi dia melihat Chan onnie masuk ke butik itu? Apakah pria itu calon suaminya? Lalu bagaimana dengan Wonbin ahjussi?
“Ahjussi, memang kau sudah berapa lama berpacaran dengan Chan onnie?,”tanya Yewon. Wonbin menoleh menatapnya.
“Aku akan berpacaran dengannya, Yewon-a,”jawab Wonbin dengan senyum khasnya.
“Eh? Maksudmu?,”tanya Yewon bingung.
“Aku belum menyatakan cintaku. Mungkin segera. Tskkk… aku bingung memikirkan cara yang tepat,”ucap Wonbin seraya berpikir. Yewon hanya terdiam. Apakah… cinta Wonbin juga bertepuk sebelah tangan?
“Sebaiknya kau nyatakan secepatnya, ahjussi,”saran Yewon.
“Kenapa?,”tanya Wonbin.
“Tentu saja sebelum terlambat. Kau ini payah sekali, menyatakan perasaan saja tidak berani,”cibir Yewon.
“YA! Gadis kecil! Memang kau pikir menyatakan cinta diusia ini mudah,huh? Aku harus memikirkannya matang-matang. Kau tau? Aku ingin berpacaran dengan Yoochan dan pada akhirnya menikahi dia. Jadi tentu saja aku harus memikirkannya,”jelas Wonbin. Yewon hanya tersenyum sedih.
“Kau tenang saja, ahjussi. Aku akan selalu di sisimu,”ucap Yewon.
“Apa maksudmu?,”tanya Wonbin tidak mengerti tetapi Yewon hanya tersenyum.
“Aku lapar sekali, ahjussi,”ucap Yewon.
“Tskk… baiklah. Aku akan masak sekarang,”ucap Wonbin lalu bangun dan berjalan menuju dapur. Yewon menatap punggung Wonbin.
“Ahjussi, takdir benar-benar mempermainkan kita,”gumam Yewon sedih. Dia tidak habis pikir bahwa akan menghadapi kenyataan seperti ini. Dia mencintai pria yang mencintai wanita lain. Dan wanita yang dicintai pria itu juga mencintai pria lain.

“Park Yoo Chun!!! Yang benar saja! Kau akan pergi ke California lagi?,”omel Yoochan saat dilihatnya Yoochun sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Yoochun yang mendengar teriakan Yoochan hanya menoleh dan tersenyum.
“Ya, aku harus pergi. Besok pagi,”jawab Yoochun. Yoochan mengeructkan bibirnya dan duduk di kasur dengan tangan terlipat.
“Kau mau meninggalkan calon istrimu,huh? Berapa lama kau akan disana? Setahun?,”cibir Yoochan. Yoochun duduk di samping wanita itu dan menggenggam tangannya.
“Kau tenang saja. Aku pasti sudah kembali sebelum pernikahan kita,”ucap Yoochun menenangkan.
“Tiga bulan lagi maksudmu? Tskk… Yang benar saja,”ucap Yoochan kesal.
“Bukankah kewajiban kita untuk persiapan sudah selesai? Kita sudah fitting baju kan? Jadi yang lain biar para orang tua saja yang mengurusnya,”ucap Yoochun.
“Apa kau lupa,huh? Aku harus memperkenalkan calon suamiku pada sahabat baikku. Aku harus mengenalkan kau pada Wonbin,”ucap Yoochan.
“Kami bisa berkenalan saat pesta pernikahan,”ucap Yoochun santai.
“Tskk… terserah kau saja. Benar-benar percuma bicara denganmu,”ucap Yoochan kesal dan langsung berjalan menghentak keluar kamar.
“Aigoo~~ Dia marah lagi,”ucap Yoochun serba salah. Pria itupun kemudian ikut keluar kamar. Dia menuruni tangga dan mencari Yoochan, sampai akhirnya dia menemukan wanita itu duduk di sofa melihat ke luar melalui jendela dengan es krim di pangkuannya.
“Apa kau marah,huh?,”tanya Yoochun seraya menyentuh bahu Yoochan lembut dan mengecupnya.
“Kurasa kau sudah tau tanpa perlu aku menjawabnya,”ucap Yoochan kesal.
“Baiklah, bulan depan pasti aku kembali. Dan baiklah,siapkan pertemuan dengan Wonbin,”ucap Yoochun memutuskan untuk mengalah.
“Tidak perlu,”ucap Yoochan yang sudah terlanjur kesal seraya menyuap es krimnya.
“Aku serius, chan-a,”ucap Yoochun.
“Aku juga serius. Memang kau pikir aku bercanda? Sudah, cepat selesaikan acara beres-beresnya. Bukankah besok kau harus berangkat pagi?,”sindir Yoochan. Yoochun hanya bisa menghela napasnya dan kemudian pria itu memutuskan untuk pergi dari sana sebelum Yoochan benar-benar mengamuk.

==============================

Semua mata terpaku menatap Jonghoon dan juga Yewon. Jonghoon berlutut di samping Yewon yang tengah tidur. Pria itu menyentuh bahu Yewon perlahan dan semakin mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. Suasana disana benar-benar panas seolah-olah semua orang tengah menahan napas, terutama Yunmi. Gadis itu terlihat sedih bercampur kesal menatap adegan yang sebentar lagi akan terjadi di depannya. Dia tidak habis pikir bahwa dia akan melihat Jonghoon berciuman dengan gadis lain, dengan sahabatnya sendiri.
“Minggir!!!!!,”ucap Seunghyun yang tiba-tiba datang dan menarik kerah belakang baju Jonghoon lalu mendorong pria itu. Yewon yang saat itu sedang terpejam langsung membuka matanya.
“Seunghyun-ssi, apa yang kau lakukan?,”tanya Yewon heran.
“Tskk… Ya! Kau benar-benar lebih memilih untuk dicium oleh Jonghoon dan menyakiti hati Yunmi kah dari pada berciuman denganku demi kebaikan semua orang?,”tanya Seunghyun kecewa.
“Ya! Apa maksudmu, Seunghyun-a?,”tanya Nicole kesal dan langsung berjalan menghampiri Seunghyun.
“Noona, aku yang akan mengambil alih peran sebagai pangeran. Aku tidak peduli jika semua tidak setuju. Dan karena aku yakin kalian tidak mau membantuku, jadi aku akan berlatih sendiri. Ahh… tidak. Aku akan berlatih berdua dengan Yewon. Jadi mulai sekarang kami tidak akan latihan dengan kalian. Nanti kita akan berlatih bersama jika mendekati hari H,”jelas Seunghyun yang langsung membuat semua orang terpana.
“Kkaja!!,”Seunghyun langsung menarik tangan Yewon dan membawa gadis itu kabur.
“Tskk… Apakah anak itu menyukai Yewon?,”tanya Nicole.
“Kurasa begitu,”jawab Key.
“Aishh… Ya sudahlah, biarkan saja. Jika nanti mereka tidak berlatih dengan benar, aku pasti akan membunuh Seunghyun,”geram Nicole.
“Ya sudah, sekarang lanjutkan berlatih!,”perintah Nicole dan latihan pun kembali dimulai.

“Seunghyun-ssi, kau bercandakan?,”tanya Yewon saat akhirnya Seunghyun membawanya ke dalam kelas kosong.
“Tidak. Aku serius. Memang kenapa?,”jawab Seunghyun seraya duduk di atas meja dan menatap Yewon.
“Aku kembali kesana. Aku harus berlatih!,”ucap Yewon yang langsung memutar tubuhnya.
“Ya! Apa kau mau meninggalkanku,huh?,”tanya Seunghyun yang langsung membuat Yewon memutar bola matanya dan kembali berjalan. Seunghyun langsung turun dari atas meja dan secepat kilat menyusul Yewon lalu menarik tangan gadis itu. Yewon dengan kesal membalik tubuhnya.
“Kau harus membantuku,”ucap Seunghyun dengan tatapan memelas.
“Membantu apa?,”tanya Yewon dan Seunghyun menunjukkan naskah di tangannya.
“Tidak! Aku saja tidak bisa berakting, bagaimana mungkin aku membantumu?,”ucap Yewon tidak habis pikir dengan jalan pikiran Seunghyun.
“Ayolah! Kita kan partner!,”ucap Seunghyun manja dan bergelayut di lengan Yewon.
“Partnerku Jonghoon,”ucap Yewon kesal dan melepaskan lengannya dari tangan Seunghyun.
“Itu dulu. Sekarang kau partnerku. Sudahlah, ayo kita berlatih! Apa kau mau dibunuh oleh Nicole noona?,”tanya Seunghyun.
“Orang yang pasti akan dibunuh olehnya adalah kau, bukan aku!,”ucap Yewon kesal tapi kemudian gadis itu masuk ke dalam kelas dan Seunghyun tersenyum di belakangnya.
“Ayo langsung berlatih adengan ciuman!,”ucap Seunghyun semangat.
“Ya! Kau itu porno sekali! Seenaknya saja! Kau masih mempunyai banyak adegan sebelum itu!,”omel Yewon.
“Tskk.. semua adegan ini tidak penting. Sudahlah, kita coba kiss scene saja!,”rajuk Seunghyun tetapi pria itu langsung diam saat melihat tatapan tajam Yewon.
“Baiklah, aku akan menghapal dialog ini dulu,”ucap Seunghyun lalu duduk di atas meja dan membaca dialognya. Yewon sendiri kini hanya menatap keluar jendela.
“Mau menangiskah?,”tanya Seunghyun tiba-tiba yang langsung membuat Yewon menoleh.
“Aku tau seminggu terakhir kau pasti menahan tangis. Jadi sekarang menangislah. Aku tidak masalah,”ucap Seunghyun tanpa melepas pandangan dari naskah yang sedang dibacanya.
“Benarkah?,”tanya Yewon dengan suara bergetar. Seunghyun mengangkat kepalanya dan dia langsung kaget saat melihat wajah Yewon yang sudah berlinang air mata.
“Ya! Kau cepat sekali disuruh menangis,”gurau Seunghyun lalu menghampiri Yewon.
“Tskk… Bisa-bisa orang akan salah paham jika melihatnya. Bisa-bisa mereka mengira aku yang membuatmu menangis,”ucap Seunghyun lalu memeluk Yewon. Posisi Yewon yang saat itu duduk dan dia berdiri di depannya membuat tubuh Yewon terhalang. Seunghyun pun membiarkan Yewon menangis di dadanya.
“Begini lebih baik. Setidaknya mereka mengira kita sedang berpelukan,”ucap Seunghyun lembut dan mengusap rambut Yewon perlahan. Yewon pun melingkarkan tangannya di pinggang Seunghyun dan menangis semakin kencang.
“Tskk.. bisa-bisa bajuku basah oleh air matamu,”ucap Seunghyun mencoba bergurau, tetapi Yewon tetap saja menangis.
“Ya sudah, kau menangis saja. Aku akan diam,”ucap Seunghyun kemudian.
“Tapi kurasa posisi ini terlihat porno jika dilihat dari luar,”ucap Seunghyun lalu menjauhkan tubuhnya.
“Aishh~~ tapi kurasa kau tidak peduli. Ya sudahlah,”ucap Seunghyun lagi.
“Ya! Kau ini menyebalkan!!,”ucap Yewon kesal lalu berdiri dan berjalan, tetapi Seunghyun langsung menariknya hingga Yewon membentur dadanya. Dia kemudian kembali memeluk gadis itu. Yewon pun akhirnya balas memeluk Seunghyun dan menangis lagi di dada pria itu. Ntah kenapa setiap kali Seunghyun memeluknya, dia merasa nyaman dan bisa dengan leluasa menangis, menumpahkan seluruh kesedihannya di depan pria itu.
“Kakiku pegal, Yewon-a. sudahkah?”tanya Seunghyun setelah hampir satu jam mereka berdiri dan saling “berpelukan”. Yewon kemudian meregangkan pelukannya dan menghapus air matanya dengan bantuan Seunghyun.
“Wajahmu membesar, Yewon-a,”goda Seunghyun yang langsung mendapat pukulan di bahunya.
“Kau terlihat seperti badut dengan hidung dan pipi yang merah,”goda Seunghyun lagi dan akhirnya Yewon tertawa.
“Kau menyebalkan. Kau bahkan tidak sadar bahwa bajumu sudah basah,”ucap Yewon.
“Tsk… Kau tenang saja. Aku sudah mempersiapkan diri jadi aku memakai dua baju,”ucap Seunghyun seraya melepas hoodie nya dan menyisakan kaos. Mereka terdiam selama beberapa saat.
“Terima kasih, Seunghyun-a,”ucap Yewon.
“Terima kasih untuk apa? Aku kan melakukan semua itu dengan niat terselubung,”ucap Seunghyun dan Yewon tersenyum.
“Maaf!,”ucap Yewon.
“Maaf untuk apa? Karena kau tidak mungkin membalas perasaanku? Tenang saja. Aku tidak masalah,”ucap Seunghyun.
“Tapi jika nanti kau sudah bosan dan lelah dengan ahjussi itu, kau boleh datang padaku. Hatiku akan selalu terbuka untukmu,”ucap Seunghyun yang langsung membuat Yewon tertawa.
“Yang benar saja. Sudahlah, sekarang cepat lanjutkan latihannya. Kau sudah hapal belum?,”tanya Yewon.
“Tentu saja belum. Dari tadi kau memelukku. Mana mungkin aku bisa menghapal dialog?,”ucap Seunghyun seraya mengambil naskahnya yang terongok di meja.
“Ya sudah, cepat hapalkan! Untung aku hanya punya dialog satu kalimat,”ucap Yewon.

=================TBC=================