Tatacchiのブログ

Tatacchiのブログ

ブログの説明を入力します。

Amebaでブログを始めよう!
Penurunan permukaan tanah merupakan salah satu fenomena perubahan posisi permukaan bumi secara vertikal di samping terjadi fenomena uplift. Penurunan permukaan tanah ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga peristiwa ini terjadi secara terus menerus. Daerah yang mengalami penurunan permukaan tanah dapat merasakan dampak buruk dari penurunan permukaan tanah itu sendiri. Penurunan permukaan tanah tidak merata di setiap daerah. Peristiwa ini dapat menyebabkan genangan – genangan air di mana – mana. Banjir di beberapa titik – titik tertentu juga merupakan salah satu dampak dari penurunan permukaan tanah. Penurunan permukaan tanah ini dapat merusak sistem drainase dan air tidak dapat mengalir karena ketidak stabilan permukaan tanah. Kemungkinan besar di beberapa tempat yang mengalami penurunan permukaan tanah akan mengalami kerusakan sistem drainase dan genangan – genangan air yang menyebabkan banjir.
Penurunan permukaan tanah disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya konsolidasi alami, penggunaan air tanah, pembebanan permukaan air tanah dan tektonik. Ada yang menyebutkan karena ekstraksi air tanah yang cukup banyak sehingga lapisan antara tanah bagian atas dengan bawah tidak kuat. Ada yang menyebut karena banyaknya pembangunan menggunakan beton, dan sebagainya. Menurut saya, alasan yang paling masuk akal adalah ekstraksi air tanah yang terlalu banyak sehingga menyebabkan penurunan permukaan tanah. Ini di dukung dengan fakta bahwa kebutuhan air tanah oleh masyarakat terutama di Jakarta memang sangat banyak, berbanding dengan jumlah penduduk di Jakarta. Ditambah dengan banyaknya populasi warga Jakarta yang membuat tanah itu seperti “menopang beban” warga di Jakarta. Sejak awal abad ke-20, penduduk Jakarta memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan kebutuhan air minum,. Namun seiring waktu, kebutuhan air meningkat, sehingga pemanfaatan air tanah pun juga meningkat. Tidak hanya untuk kebutuhan pokok sehari – hari saja, namun kebutuhan industri pabrik juga memakai air tanah. Peningkatan pemanfaatan inilah yang menjadikan faktor penyebab penurunan permukaan tanah di Jakarta. Peningkatan pemanfaatan air tanah di Jakarta terjadi karena beberapa faktor, yaitu urbanisasi dan padatnya penduduk Jakarta, serta aktivitas industri.
Jenis tanah di Jakarta sebagian besar adalah tanah lempung. Tanah lempung berbeda dan tidak sepadat jenis tanah yang lain, seperti tanah merah. Tanah lempung hanya dapat menyerap air hingga kadar tertentu. Jika misalnya terjadi hujan selama empat hari, maka tanah lempung dapat jenuh dan tidak bisa menyerap air lagi. Penyerapan yang tidak sempurna ini dapat menyebabkan genangan – genangan yang berujung dengan adanya banijr. Hal ini diperparah dengan banyaknya pembangunan dengan beton dan aspal. Turunnya permukaan tanah menyebabkan air mudah sekali tertampung di Jakarta. Pemprov DKI Jakarta sudah mengusahakan pompa – pompa untuk mengatasi banjir di Jakarta. Pompa – pompa ini seharusnya diaktifkan ketika musim hujan datang.
Penurunan tanah di kawasan pesisir pantai utara Jakarta juga mengakibatkan banjir rob. Dari hasil catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta terdapat dua puluh enam titik rawan banjir rob di Jakarta Utara. Beberapa kawasan diantaranya adalah Penjaringan, Pluit, Tanjung Priok, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja dan Kelapa Gading. Muara Baru di kelurahan Penjaringan merupakan daerah dengan penurunan permukaan tanah terparah di Jakarta. Seorang warga yang berasal dari Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, yaitu Yanto (28 tahun) menyebutkan bahwa air laut terus meninggi. Jika sedang pasang, air laut yang berjarak dua meter dari rumah sederhananya, nyaris meluber ke jalan. Daerah yang berada dibawah permukaan air laut juga terjadi di kelurahan Mangga Dua, kecamatan Sawah Besar. Kawasan Mangga Dua ini merupakan kawasan yang rentan terhadap banjir. Pada Februari lalu, setelah hujan turun beberapa hari, kawasan tersebut terendam banjir. Arus lalu lintas dari Salemba dan Ancol yang melalui daerah itu pun terputus.
Contohnya lainnya lagi gedung peninggalan kolonial Belanda, Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (Olveh), yang menjadi saksi bisu terjadinya penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta Utara. Lantai dasar gedung yang berusia Sembilan puluh empat tahun, kini berada Sembilan puluh lima sentimeter di bawah permukaan jalan. Gedung itu dibangun tahun 1921. Saat ini lantai dasarnya sudah turun sampai Sembilan puluh lima sentimeter. Sebagai kesimpulan, setiap tahun setidaknya penurunan permukaan tanah menurun sebanyak satu sentimeter. Olveh dulunya merupakan kantor asuransi milik pemerintah kolonial berdiri di Jalan Jembatan Batu, Pinangsia. Saat gedung tua itu direstorasi, tim pekerja bangunan JOTRC yang menemukan fakta lantai gedung pernah berkali-kali ditinggikan. Dari pembongkaran oleh pekerja diketahui gedung mengalami penurunan tanah hingga 95 sentimeter. Peninggian bangunan ini, seperti halnya bangunan dan rumah-rumah di sekitarnya, untuk mencegah banjir.
Penurunan muka tanah banyak memberi dampak negatif secara langsung di sekitar wilayah terdampak, seperti menyebabkan banjir dan rob (tidal flooding) di daerah pantai (coastal zone), kerusakan pada gedung-gedung dan rumah-rumah, serta infrastruktur seperti jembatan dan jalan, bahkan dapat menyebabkan meledaknya pipa gas. Penurunan permukaan tanah juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial di masyarakat. Contohnya seperti berkurangnya kualitas hidup dan lingkungan (kondisi sanitasi dan kesehatan) di wilayah terdampak. Selain itu, penurunan permukaan tanah juga berdampak pada kondisi ekonomi yang menyebabkan kerugian yang tidak langsung seperti berkurangnya pendapatan, hambatan dalam berbisnis, dan juga hilangnya mata pencaharian bagi sebagian orang.
Pemprov DKI sudah mengupayakan beberapa cara untuk menanggulangi dampak penurunan permukaan. Contohnya penambahan resapan air di permukaan tanah, mengganti penggunaan air tanah dengan mengolah air dari permukaan tanah, membangun konstruksi bawah tanah / gorong – gorong untuk menahan penurunan, menambah kolam penampungan air hujan sebagai pengganti air tanah. Adanya penyuluhan untuk masyarakat juga diperlukan supaya masyarakat mengganti penggunaan air tanah dengan sumber alternatif lain. Contohnya air danau, kolam penampungan air hujan, sungai, lahan basah, dll.

Sources :
http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Penurunan_Tanah_DKI_Jakarta
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/02/setiap-tahun-permukaan-tanah-di-jakarta-turun-18-sentimeter
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160405110412-20-121749/berkejaran-dengan-ancaman-penurunan-tanah/
http://news.detik.com/berita/3065028/ini-penyebab-penurunan-permukaan-tanah-di-jakarta
http://en.ncicd.com/2013/08/post-2-2/