Bagian 20
Malamnya, Yanling menghubungi ibunya di Indonesia.
Panggilan masuk...
Yanling
"Halo," jawab ibu Yanling dari seberang.
"Ibu?"
"Yanling, bagaimana kabarmu?"
Yanling menahan air matanya karena rindunyang mendalam kepada ibunya. "Ibu, au sudah lulus, aku mendapatkan nilai A dalam ujian tesis dan bulan depan aku akan wisuda!" ujar Yanling senang.
"Benarkah? Syukurlah, Anakku. Ibu senang mendengarnya. Apakah Ibu harus ke Cina?"
"Tidak usah, Bu. Disini masih awal musim semi dan masih dingin. Aku sudah menyuruh Kakek Wang dan Nenek Wang untuk mendampingiku wisuda."
"Baiklah, kalau begitu. Segera kembali ke Indonesia setelah kau wisuda. Keluarga besar sudah menunggu kedatanganmu," ujar ibu Yanling.
Yanling tidak bisa berkata-kata lagi dan segera menutup panggilan. Ia mulai menangis di ruang tamu dan rupanya Luhan mendengar percakapan mereka. Ia turun kebawah untuk menemui Yanling yang menangis.
Luhan duduk di samping Yanling sambil mencoba untuk membelai rambut Yanling yang berwarna coklat dan tebal itu.
"Kau boleh pulang ke negaramu setelah wisuda," ujar Luhan.
Yanling yang mendengar pernyataan itu segera menatap Luhan. "Benarkah?"
"Ya. Kau sudah bukan tahananku lagi. Aku mengerti rasanya tidak bertemu keluarga selama bertahun-tahun."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku tahu perasaan itu saat berada di Korea Selatan."
"Terima kasih banyak, Luhan."
Luhan menatap Yanling dengan sedih. "Berjanjilah kepadaku untuk selalu menghubungiku, Yanling. Kami semua akan merindukanmu disini."
Yanling mengambil tangan Luhan yang membelai rambutnya. "Aku berjanji akan selalu menghubungimu," ujar Yanling sambil menggenggam erat tangan Luhan.
"Kau bisa segera pesan pesawatmu untuk pulang. Aku akan menanggung biayanya."
"Terima kasih, Luhan. Tetapi aku memiliki tabungan sendiri." ujar Yanling.
"Kumohon, ijinkan aku melakukan sesuatu agar membuatmu bahagia di terakhir aku melihatmu."
Luhan menatap mata Yanling dalam.
"Baiklah, Luhan." ujar Yanling sambil tersenyum. "Terima kasih telah menerimaku disini."
"Aku berharap kau tinggal lebih lama berada disini,"
Yanling hanya tersenyum tipis kepada Luhan. Malam itu membuat malam yang terasa sendu dimana hari-hari yang akan datang akan terasa sepi tanpa Yanling.
Sebulan kemudian...
Hari wisuda yang telah dinanti Yanling telah tiba. Ia telah mengirimkan undangan kepada keluarga Wang untuk mewakili ibunya. Para asisten sangat senang dengan hari wisuda tersebut, mereka tidak tahu jika Yanling sebentar lagi akan kembali ke Indonesia dimana Luhan belum memberitahu mereka.
Sebelum berangkat, ternyata Hanyu menuju rumah keluarga Wang bersama Fangzhou untuk menggantikan mereka. Mereka ingin mencari tahu tentang rumah Luhan yang sebenarnya.
Hingga saat di kampus, Yanling sama sekali tidak menemukan Kakek dan Nenek Wang.
"Mencariku?" tanya Hanyu yang sudah berpakaian rapi.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Yanling balik.
"Tentu saja menggantikan kakek dan nenekmu. Kau tega sekali membiarkan orang tua untuk menunggu acara ini sampai sore."
"Aku tidak mengundangmu, Hanyu."
"Tentu saja kau mengundangku, Yanling." ujar Hanyu sambil menunjukkan undangan kepada Yanling. "Atas nama Ming Yanling, kau mengundang kami."
Yanling merasa muak dengan Hanyu dan segera meninggalkan mereka berdua menuju belakang panggung.
Setelah acara wisuda selesai, Yanling diam-diam segera menuju mobil untuk segera pulang tanpa sepengetahuan Hanyu.
~~~~~
Hari kepulangan Yanling untuk kembali ke Indonesia telah tiba. Yanling segera membereskan pakaiannnya dan hendak menuju bandara. Ia menuju kamar Luhan untuk berpamitan dan disana terlihat Luhan sedang duduk sambil memandangi bunga Udumbara.
"Luhan, aku pergi sekarang. Terima kasih telah membantuku selama ini." ujar Yanling.
Luhan membalikkan badan dan berdiri menghadap Yanling. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dan dengan hati yang sangat terpaksa, ia harus merelakan Yanling pergi.
Malam itu Luhan mengantarkan Yanling menuju bandara tanpa Axe karena tidak ingin para asistennya tahu.
Setibanya di bandara, Luhan sama sekali tidak turun dan hanya bisa melihat Yanling menjauh darinya diantara kerumunan orang dan gelapnya malam yang hanya disinari lampu bandara.
Para asisten mencari keberadaan Luhan dan Yanling. Mereka menduga bahwa Luhan dan Yanling sedang kencan bersama karena salah satu mobil Luhan tidak ada.
Saat Luhan sampai dirumah, mereka heran karena hanya Luhan saja yang pulang.
"Luhan, dimana Yanling?" tanya Yuanqi.
"Aku mengantarkannya pulang," jawab Luhan.
"Ke Mentougou?" tanya Lumiere.
"Bukan, Indonesia. Aku mengantarkannya ke bandara baru saja." ujar Luhan.
"Ke Indonesia?" mereka semua terkejut dengan pengakuan Luhan.
"Kenapa, Luhan?" tanya Laogao.
"Tugasnya sudah selesai disini," ujar Luhan sambil segera menuju kamarnya agar mereka tidak bertanya lagi. Ia membanting pintu kamarnya dan mengacak-ngacak kamarnya. Hatinya terasa sangat sakit ketika Yanling harus kembali ke Indonesia dan ia tidak bisa menyusulnya. Ia berteriak sekeras-kerasnya didalam kamar hingga para asisten yang masih berada di lantai 1 mendengarnya.
"Apakah itu berarti.." ujar Plumette.
"Kita tidak akan kembali seperti semula." timpal Webster.
"Dan mungkin gadis itu bukan yang kita maksudkan." ujar Madame.
"Mungkin gadis itu terlalu baik untuk menjadi istri Luhan." ujar Crane.
Sementara itu, di kamar yang gelap, Luhan berbicara sendiri kepada bunga Udumbara yang masih berada di dalam kristal yang indah.
"Kenapa kau tidak segera mekar? Kenapa kau tidak mengatakan jika dia adalah gadis itu? Akulah satu-satunya yang mengalami ini semua. Akulah pemilik takdirku. Aku tidak pernah membutuhkan siapapun di dalam hidupku. Aku sudah terlambat untuk mempelajari tentang kebenaran. Aku tidak akan pernah merasakan rasa sakit. Aku menutup mataku tetapi gadis itu masih disana, sesuatu yang lebih daripada yang bisa kutanggung."
Luhan mengamati foto-foto mereka berdua di ponselnya. Ia mengamati wajah Yanling yang tersenyum riang tanpa merasa takut dengan wajahnya. Wajah seorang gadis yang telah merubah hidupnya dan kelakuannya.
"Aku mengamuk melawan cobaan cinta, aku mengutuk cahaya-cahaya yang pudar. Meskipun Yanling telah terbang jauh dari yang dapat kuraih, aku yakin dia tidak akan meninggalkanku."
Luhan masih melihat foto-foto Yanling yang ada dalam gallery fotonya dan mengingat semua kenangan yang ada selama di rumahnya. Rasa sakit itu justru semakin membuat Luhan tersiksa dan ia membanting ponsel miliknya ke lantai.
"Sekarang kutahu Yanling tak akan meninggalkanku, meskipun ia pergi jauh. Dia masih akan menenangkanku, menyakitiku, merubahku dan semuanya yang akan terjadi. Aku akan menghabiskan waktu di dalam rumahku ini, menunggu pintu terbuka. Aku membodohi diriku sendiri bahwa ia akan membuka pintu itu dan hidup bersamaku selamanya."
~~~~
Setibanya di Indonesia, Yanling sangat senang dimana keluarga besarnya menjemput dirinya. Ia pulang membawa ijazah dan sertifikat kelulusan magisternya. Tentu saja orang pertama yang dicari Yanling adalah ibunya. Ia segera memeluk ibunya yang lama tidak ditemuinya.
"Aku sangat merindukanmu, Ibu." ujar Yanling sambil meneteskan air mata.
"Ibu lebih merindukanmu disini, Yanling." ujar ibu Yanling.
Hari-hari yang cerah membuat Yanling menghabiskan waktu untuk berbagi cerita kepada keluarganya saat berada di Cina.
Tiga bulan lamanya Yanling sudah meninggalkan Cina dan hal itu membuat Luhan semakin bersedih dan putus asa.
Sementara di Mentougou, Hanyu masih berusaha mencari keberadaan Luhan.
Yuanqi segera mengirimkan pesan kepada Yanling tentang kondisi Luhan. Ia mengirimkan foto Luhan yang semakin lesu dan kehilangan semangat.
Yanling sedih melihat berita tersebut dan ia berniat untuk kembali ke Cina lagi.
"Kenapa kau buru-buru ingin kembali ke Cina?" tanya ibu Yanling.
"Ibu, temanku di Haidian sedang sakit dan kupikir aku harus menjenguknya sebentar kesana."
"Kapan kau akan kerja?" tanya ibu Yanling.
"Kupikir aku bisa melamar kerja disana," ujar Yanling. "Ibu, ikutlah denganku. Beijing masih musim panas."
Ibu Yanling hanya mengikuti permintaan anak semata wayangnya tersebut untuk pergi ke Cina.
Sementara di Mentougou beberapa minggu kemudian...
"Baiklah semuanya, Yanling mengirimkan pesan bahwa ia sudah di Indonesia. Ini tandanya bahwa kita harus segera menemukan tersangka si buruk rupa tersebut dan setelah tertangkap, kita akan menbunuhnya. Setelah itu, Yanling akan menikah denganku!" seru Hanyu.
Para warga segera bergegas menuju Haidian dan kali ini Hanyu kembali ke pasar merah tempat terakhir ia mencari Yanling. Hanyu mengingat tempat yang ditunjukkan oleh kakek Wang dan rupanya jalan tikus itu memang ada. Mereka segera berjalan menuju jalan itu untuk mncari rumah Luhan. Sementara Yanling dan ibunya sudah sampai di Beijing dan hendak menuju rumah Luhan.
Fangzhou mengamati rumah-rumah yang ada disekeliling mereka dan matanya kemudian tertuju pada mobil Lamborghini berwarna putih yang dulu pernah dilihatnya.
"Hanyu," cegah Fangzhou.
"Ada apa?" tanya Hanyu.
"Aku pernah melihat mobil ini saat kita mengejar Yanling."
"Kau yakin?" Hanyu mengamati rumah yang sangat besar, mewah dan seperti istana tersebut.
"Ya, aku bahkan sempat mencatat nomor plat mobilnya." ujar Fangzhou.
"Baiklah semuanya! Kita akan dobrak pagar ini bersama-sama dan ikuti aku!" seru Hanyu.
Mereka semua bersorak untuk kemenangan dan teriakan mereka tersebut membuat para asisten terganggu. Lumiere melihat dari balik gorden dan terkejut ketika banyak warga yang berusaha menghancurkan pagar rumah Luhan.
"Astaga! Siapa mereka? Darimana asalnya?" teriak Lumiere panik.
Para asisten lain ikut mengintip dan terkejut ketika pagar depan sudah terbuka karena mereka menghancurkannya.
Hanyu masuk pertama dan berada di depan pintu rumah Luhan.
"Hai, Pria Buruk Rupa! Keluar dari rumah atau kami akan membakar rumahmu! Kau sudah menculik salah satu warga kami!" teriak Hanyu.
Tidak ada jawaban dari dalam karena mereka semua mengganjal pintu dengan barang-barang berat.
Laogao segera berlari menemui Luhan yang berada di kamarnya. "Han! Orang-orang akan mengancurkan rumah! Apa yang harus kita lakukan? Mereka mengira kau telah menculik Yanling!"
Luhan masih lesu dan pandangannya kosong ke luar. "Biarkan saja mereka masuk," ujar Luhan putus asa.
"Kau gila? Luhan, kita tidak bisa tinggal diam begitu saja!" ujar Laogao panik.
Di lantai bawah, warga semakin keras untuk mendobrak pintu dan Lumiere memberikan arahan untuk bersembunyi sambil mengenakan topeng hewan mereka. Ia memberikan ide untuk apa yang akan mereka lakukan jika pintu berhasil mereka dobrak.
Alhasil, tak lama kemudian pintu telah berhasil mereka dobrak. Warga sangat kebingungan saat tidak ada seorangpun disana sampai salah seorang warga tidak sengaja menginjak kaki Webster.
"Aduh!" teriak Webster.
Mereka semua terkejut dengan penampilan Webster yang mengenakan topeng hewan.
"Dia! Pasti salah satu komplotannya!" teriak warga yang hendak memukul Webster.
"Semuanya! Serang mereka!" teriak Webster sambil melarikan diri.
Malam itu terjadi peperangan antara para asisten Luhan dan warga Mentougou. Sedangkan Hanyu, segera mencari keberadaan Luhan. Ia mencari hingga naik ke lantai 3 dan tepat di depan kamar Luhan dengan pintu kamar terbuka, Hanyu berhasil menemukan Luhan yang duduk menghadap luar.
"Kau disini rupanya, Buruk Rupa." ujar Hanyu.
Luhan sama sekali tidak mempedulikan Hanyu dan masih terfikusnpada pandangannya yang kosong.
"Hei! Apa kau mendengarku? Kau tuli?" tanya Hanyu sambil mendekat Luhan dan membawa pemukul baseball. "Kau apakan Yanling selama ini, dasar penculik gadis!"
BUK!!!
Sebuah pukulan keras menghantam punggung Luhan dan seketika Luhan tersungkur di lantai.
"Lawanlah aku, Buruk Rupa! Aku disini atas nama Yanling ingin menyelesaikanmu!" Ujar Hanyu sambil mengangkat Luhan untuk berdiri.
Luhan dapat melihat jelas wajah Hanyu, seseorang yang dikenalnya. "Hanyu?"
"Ha! Tentu saja kau mengenal seorang aktor ini! Kau pikir kau bisa merebut Yanling dariku? Sebentar lagi dia akan menikah denganku!" ujar Hanyu.
Taksi yang mengantar Yanling dan ibunya telah tiba di rumah Luhan. Saat Yanling turun, ia terkejut ketika pagar rumah sudah terbuka dan seperti ada bekas dihancurkan. Dari luar, Yanling dapat melihat keadaan rumah yang sangat ramai. Ia segera menurunkan koper dan menghandeng ibunya untuk masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Yanling ketika orang-orang saling perang di ruang tamu. Yanling mencari tempat untuk ibunya agar tidak terkena benturan benda dan ia segera menuju kamar Luhan di lantai 3.
"Yanling! Kau kembali!" teriak Madame senang.
"Yanling?!" mereka semua melihat Yanling yang segera menuju lantai 3. Mengetahui Yanling kembali membuat mereka semangat untuk melawan mereka.
"Ibu, ada yang harus kulakukan dan kuharap ibu bisa nyaman berada di kamar ini. Dulu kamar ini adalah kamarku." ujar Yanling sambil menutup pintu dan menuju kamar Luhan.
Ia terkejut ketika Hanyu berdiri di depan Luhan yang tersungkur.
"Hanyu!" panggil Yanling.
Luhan dan Hanyu menoleh ke sumber suara dan disana berdiri seorang gadis yang mereka cintai. "Hentikan, Hanyu!" ujar Yanling sambil mendekati mereka.
"Yanling, kau kembali." ujar Luhan sambil tersenyum.
Yanling mendekati Luhan dan berusaha menolongnya. "Tentu saja aku kembali. Yuanqi mengirimkan fotomu bahwa kau sedang sakit sehingga aku kembali."
Melihat mereka berdua bersama membuat Hanyu cemburu dan dengan kasar menarik Yanling untuk menjauh dari Luhan.
"Yanling! Apa yang kau lakukan dengan penculik buruk rupa ini?! Kau tidak perlu menolongnya!" ujar Hanyu dengan lantang.
Mendengar ucapan Hanyu dan perlakuan kasar Hanyu terhadap Yanling membuat Luhan naik pitam. Ia berusaha berdiri dan membangkitkan semangatnya karena Yanling sudah kembali.
Luhan mengambil sesuatu yang dapat digunakan untuk memukul Hanyu dari belakang hingga ia menemukan sebuah payung yanga da di dalam kamarnya dan memukulkan kepada Hanyu.
"Maafkan aku, teman lama." ujar Luhan sambil mengangkat payungnya.
BUK!!!
Sebuah hantaman keras mengenai pundak kiri Hanyu hingga ia terjatuh. "Argh!" teriak Hanyu. Ia segera membalas dengan memukul keras perut Luhan.
"Tidak!" teriak Yanling yang melihat Luhan dipukul oleh Hanyu.
Luhan merasakan pukulan yang keras tersebut menehnai daerah perutnya yang masih sakit namun berusaha menahannya. Ia mendekati Hanyu dan menarik kerah kemejanya. "Dengar, Hanyu. Apakah kau tidak mengenaliku? Aku adalah Luhan, seniormu! Kau tidak ingat kita pernah bersama saat syuting? Kau tidak ingat?" ujar Luhan dengan nada menggertak Hanyu.
"Luhan? Kaukah Luhan?" tanya Hanyu.
"Aku bisa saja memberitakan kejadian ini kepada media untuk menurunkan ratingmu sebagai aktor Cina, atau kau pergi dari sini!" ancam Luhan.
"Ba-baiklah! Aku akan pergi!" ujar Hanyu sambil segera menjauh dari Luhan.
"Pergi dari rumahku!" teriak Luhan.
Hanyu segera pergi meninggalkan rumah Luhan dan mengajak semua warga untuk pergi.
"Horeee!" para asisten bersorak kemenangan atas perlawanan mereka.
Sementara Luhan masih menahan sakit dan perlahan ia terduduk di lantai. Yanling segera menghampiri Luhan yang merintih kesakitan.
"Luhan, bertahanlah! Kami akan membawamu ke rumah sakit." uajr Yanling sambil memangku kepala Luhan di pahanya.
"Yanling, aku senang kau kembali." ujar Luhan sambil terbata.
"Luhan, kumohon bertahanlah sebentar. Aku akan memanggil mereka untuk segera membawamu." ujar Yanling.
"Tidak perlu, Yanling. Setidaknya aku bisa melihatmu pada terakhir kalinya." ujar Luhan sambil menyentuh pipi Yanling dan menyeka air matanya.
Perlahan Luhan memejamkan mata dan tak sadarkan diri di pangkuan Yanling. "Luhan!" panggil Yanling sekali lagi.
Mendengar Yanling berteriak membuat para asisten segera menuju kamar Luhan. Mereka melihat Yanling menangis dan Luhan yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Luhan, jangan tinggalkan aku." ujar Yanling sambil terisak. "Wo ai ni, Luhanㅡaku mencintaimu, Luhan," ujar Yanling sambil mendekati wajah Luhan dan perlahan mencium bibirnya.
Yanling tersadar bahwa para asisten berada di depan pintu. Ia kemudian menyuruh mereka untuk segera mengantar Luhan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Yuanqi mencegah Yanling untuk ikut karena Yanling baru saja pulang. Mengetahui keributan yang terjadi membuat ibu Yanling penasaran.
"Apa yang terjadi? Siapa mereka dan siapa dia?" tanya ibu Yanling penasaran.
Yanling akhirnya bercerita semuanya kepada ibunya di kamar selagi menunggu mereka kembali dari rumah sakit.
"Jadi, kau berada di rumah ini?" tanya ibu Yanling.
"Ya, aku tinggal bersama mereka pada tahun terakhir aku kuliah. Itulah alasan kenapa aku tidak pulang pada musim panas. Luhan yang mengurungku disini."
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, Ibu. Mereka adalah orang-orang yang baik." ujar Yanling.
Di rumah sakit...
Para asisten segera membawa Luhan ke IGD dan disana Luhan segera mendapatkan pelayanan darurat. Seorang dokter terkejut ketika melihat wajah mereka yang penuh luka, terutama wajah Luhan. Ia segera membawa Luhan ke ruangan agar bisa mendapatkan perawatan lebih baik.
"Dia masih baik-baik saja dan malam ini juga akan segera kami oindah ke kamar inap," ujar dokter tersebut.
Para asisten tidak pulang dan setia menunggu Luhan di rumah sakit. Mereka berharap Luhan baik-baik saja dan masih tetap hidup karena mereka bersaksi atas ucapan cinta Yanling kepada Luhan.
Keesokan paginya, dokter datang ke ruangan Luhan dan ia terkejut dengan orang-orang yang berwajah sangat buruk rupa ada di ruangan tersebut, termasuk Luhan. Ia menyentuh satu per satu wajah mereka dan memastikan jika luka itu sudah kering.
"Kalian perlu kuberikan obat untuk menghilangkan luka ini. Siang nanti kalian semua akan kuobati, baru pasien ini karena ia memiliki luka cukup parah." ujar seorang dokter.
Benar apa yang diucapkannya, seharian penuh dokter tersebut mengobati mereka dengan mengelupas luka dengan obat agar cepat mengering dan tidak meninggalkan bekas luka.
Saat melihat ke cermin, mereka senang bukan main karena wajah mereka kembali seperti sedia kala dan tanpa ada bekas apapun. Luhan pun dengan pengobatan cukup lama akhirnya dapat kembali seperti sedia kala.
"Dia bisa pulang lusa agar perutnya bisa pulih kembali." ujar dokter tersebut.
Luhan mulai membuka matanya dan berusaha untuk berbicara kepada para asisten. Ia terkejut ketika para asisten telah kembali seperti sedia kala.
"Tebak apa yang akan kami tunjukkan kepadamu?" tanya Laogao. Ia segera mengambil sebuah cermin kecil dari bedak Plumette dan menunjukkan kepada Luhan.
Luhan tidak percaya apa yang dilihatnya. Wajahnya yang tampan kembali seperti sedia kala dan tidak ada bekas apapun.
"Dimana Yanling?" tanya Luhan.
"Ia masih di rumah bersama ibunya." jawab Yuanqi.
"Ibunya? Dia membawa ibunya kemari?"
"Ya. Tentu saja. Mungkin dia ingin memperkenalmu pada ibunya." goda Lumiere.
"Bawa Yanling kemari bersama ibunya. Aku ingin dia meihatku sekarang." ujar Luhan senang.
"Siap!" uajr Axe dengan senang dan segera menuju rumah untuk menjemput Yanling dan ibunya.
"Haruskah aku mengirim fotomu sekarang kepada Yanling?" tanya Plumette.
"Jangan, biarkan dia melihatku secara langsung. Sebuah kejutan untuknya," ujar Luhan.
Sesampainya di rumah, Axe segera memberitahu Yanling dan ibunya untuk ke rumah sakit. Axe sengaja mengenakan topeng hewan miliknya agar Yanling tidak curig kepadanya. Setelah bersiap, Yanling dan ibunya segera menuju rumah sakit dengan diantar Axe. Yanling merasa lega ketika Luhan baik-baik saja.
Axe segera mengajak mereka untuk ke kamar Luhan setelah mereka tiba di rumah sakit. Yanling mengetuk pintu dan perlahan membukanya. Ia terkejut ketika banyak orang asing yang tak dikenalnya ada di kamar itu.
"Oh, maaf. Aku salah kamar." ujar Yanling.
"Tidak, kau tidak salah kamar. Ini adalah mereka, Yanling. Dan jika kau tidak lupa kepada Axe yang selalu mengantarmu." ujar Axe sambil membuka topengnya.
Ia mendorong Yanling untuk berjalan menuju tempat tidur. Mereka menutupi tempat tidur dan saat Yanling mulai dekat, mereka membubarkan diri agar Yanling bertemu Luhan.
"Kau masih ingat aku?" tanya Luhan.
Yanling hanya berdiri terpaku melihat seorang pria tampan yang berbaring di tempat tidur. "Yanling, ini aku, Luhan." ujar Luhan.
Yanling perlahan mendekati Luhan untuk mastikannya. Luhan kemudian bernyanyi lagu miliknya yang berjudul Your Song untuk mengingatkan Yanling kembali dan meyakinkan bahwa itu adalah dirinya. Pada bait terakhir, Luhan meraih rambut Yanling dan membelainya kembali dengan tangannya. "Babe, it's your song. Babe, it's your songㅡSayang, ini adalah lagumu. Sayang, ini adalah lagumu."
Yanking memperhatikan bentuk mata Luhan dan warna mata yang pernah dilihatnya hingga ia mengenali itu adalah Luhan.
"Luhan! Ini kau!" ujar Yanling sambil memeluk Luhan dan dibalas oleh Luhan.
Para asisten dan ibu Yanling sangat senang melihat pemandangan yang ada di depan mereka meskipun ibu Yanling tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
"Mama, wo shi LuhanㅡIbu, aku Luhan." ujar Luhan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada ibu Yanling.
Yanling mendampingi ibunya untuk berbicara kepada Luhan. Luhan meraih tangan ibu Yanling dan segera mencium tangannya.
"Jika kau tidak keberatan, ijinkan aku akan melamar anakmu yang bernama Yanling ini," ujar Luhan.
Yanling terkejut dengan pernyataan Luhan. Ia tersipu malu untuk menerjemahkan kepada ibunya.
"Apa yang dia bilang?" tanya ibu Yanling.
Yanling hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik pundak ibunya. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan membisikkan apa yang dimaksud Luhan. Tanpa berpikir panjang, ibu Yanling mengatakan setuju kepada Luhan.
"Apa yang ibumu katakan?" tanya Luhan.
Yanling duduk kembali sambil mendekat Luhan dan menatapnya dengan tersenyum.
"Ibuku setuju," ujar Yanling.
"Benarkah? Terima kasih, Ibu!" ujar Luhan sambil membungkukkan badan.
Para asisten juga sangat senang dengan persetujuan ibu Yanling.
"Terima kasih, Ibu." ujar mereka serentak sambil ikut menbungkukkan badan.
Luhan kembali menatap Yanling dalam dan menyentuh pipinya. "Yanling, tolong turunkan pegangan tempat tidur, aku ingin ke buang air," ujar Luhan.
Yanling hanya tertawa dengan permintaan Luhan dan segera menurunkan tempat pegangan tangan. Luhan perlahan berusaha untuk berdiri dengan Yanking yang memeganginya agar tidak jatuh.
Namun Luhan tidak melangkahkan kaki menuju kamar mandi melainkan ia melangkah maju kearah Yanling dan mendekatkan bibirnya ke bibir Yanling. Luhan mencium Yanling dan Yanling membalas ciuman Luhan. Disaksikan semuanya, cinta mereka akhirnya bersatu.
Yuanqi segera membawa Chen menjauh tanla mengeluarka suara agar tidak melihat Luhan dan Yanling yang sedang berciuman tersebut.
~~~~
Beberapa bulan kemudian, Luhan telah mempersiapkan pernikahannya dengan Yanling.
Yanling mengenakan busana pengantin yang mewah dan indah. Ia terlihat snagat cantik dengan gaun tersebut. Luhan sengaja memasuki kamar Yanling untuk melihat pengantin wanitanya tersebut bersama Laogao dan Lumiere. Yanling melihat Luhan sangat tampan dengan jas yang dikenakannya. Ia juga membawa bunga Udumbara yang berada di dalam kristal.
Luhan medekati Yanling dan meletakkan bunga Udumbara tersebut di meja dekat Yanling. Ia kemudian membuka kristal tersebut dan saat itu juga seisi ruangan beraroma sangat wangi dengan bunga kecil berwarna putih tersebut.
"Bunganya telah mekar!" seru Laogao.
Luhan mendekati Yanling dan meletakkan dahinya ke dahi Yanling. "Ternyata bunga itu benar, akan mekar 3000 tahun kemudian ketika aku menemukan cinta sejatiku dan tahun ini mungkin adalah tahun ke-3000 dari bunga itu." ujar Luhan.
Yanling hanya tertawa dan tersipu malu dengan pernyataan Luhan. "Luhan, berjanjilah untuk kembali bekerja setelah kita menikah," pinta Yanling.
"Tentu saja, istriku. Aku juga akan mengumumkan kepada seluruh orang dan penggemarku siapa istriku ini," ujar Luhan sambil mengangkat dagu Yanling dan menciumnya sebelum resepsi pernikahan dimulai.
Malamnya, Yanling menghubungi ibunya di Indonesia.
Panggilan masuk...
Yanling
"Halo," jawab ibu Yanling dari seberang.
"Ibu?"
"Yanling, bagaimana kabarmu?"
Yanling menahan air matanya karena rindunyang mendalam kepada ibunya. "Ibu, au sudah lulus, aku mendapatkan nilai A dalam ujian tesis dan bulan depan aku akan wisuda!" ujar Yanling senang.
"Benarkah? Syukurlah, Anakku. Ibu senang mendengarnya. Apakah Ibu harus ke Cina?"
"Tidak usah, Bu. Disini masih awal musim semi dan masih dingin. Aku sudah menyuruh Kakek Wang dan Nenek Wang untuk mendampingiku wisuda."
"Baiklah, kalau begitu. Segera kembali ke Indonesia setelah kau wisuda. Keluarga besar sudah menunggu kedatanganmu," ujar ibu Yanling.
Yanling tidak bisa berkata-kata lagi dan segera menutup panggilan. Ia mulai menangis di ruang tamu dan rupanya Luhan mendengar percakapan mereka. Ia turun kebawah untuk menemui Yanling yang menangis.
Luhan duduk di samping Yanling sambil mencoba untuk membelai rambut Yanling yang berwarna coklat dan tebal itu.
"Kau boleh pulang ke negaramu setelah wisuda," ujar Luhan.
Yanling yang mendengar pernyataan itu segera menatap Luhan. "Benarkah?"
"Ya. Kau sudah bukan tahananku lagi. Aku mengerti rasanya tidak bertemu keluarga selama bertahun-tahun."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku tahu perasaan itu saat berada di Korea Selatan."
"Terima kasih banyak, Luhan."
Luhan menatap Yanling dengan sedih. "Berjanjilah kepadaku untuk selalu menghubungiku, Yanling. Kami semua akan merindukanmu disini."
Yanling mengambil tangan Luhan yang membelai rambutnya. "Aku berjanji akan selalu menghubungimu," ujar Yanling sambil menggenggam erat tangan Luhan.
"Kau bisa segera pesan pesawatmu untuk pulang. Aku akan menanggung biayanya."
"Terima kasih, Luhan. Tetapi aku memiliki tabungan sendiri." ujar Yanling.
"Kumohon, ijinkan aku melakukan sesuatu agar membuatmu bahagia di terakhir aku melihatmu."
Luhan menatap mata Yanling dalam.
"Baiklah, Luhan." ujar Yanling sambil tersenyum. "Terima kasih telah menerimaku disini."
"Aku berharap kau tinggal lebih lama berada disini,"
Yanling hanya tersenyum tipis kepada Luhan. Malam itu membuat malam yang terasa sendu dimana hari-hari yang akan datang akan terasa sepi tanpa Yanling.
Sebulan kemudian...
Hari wisuda yang telah dinanti Yanling telah tiba. Ia telah mengirimkan undangan kepada keluarga Wang untuk mewakili ibunya. Para asisten sangat senang dengan hari wisuda tersebut, mereka tidak tahu jika Yanling sebentar lagi akan kembali ke Indonesia dimana Luhan belum memberitahu mereka.
Sebelum berangkat, ternyata Hanyu menuju rumah keluarga Wang bersama Fangzhou untuk menggantikan mereka. Mereka ingin mencari tahu tentang rumah Luhan yang sebenarnya.
Hingga saat di kampus, Yanling sama sekali tidak menemukan Kakek dan Nenek Wang.
"Mencariku?" tanya Hanyu yang sudah berpakaian rapi.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Yanling balik.
"Tentu saja menggantikan kakek dan nenekmu. Kau tega sekali membiarkan orang tua untuk menunggu acara ini sampai sore."
"Aku tidak mengundangmu, Hanyu."
"Tentu saja kau mengundangku, Yanling." ujar Hanyu sambil menunjukkan undangan kepada Yanling. "Atas nama Ming Yanling, kau mengundang kami."
Yanling merasa muak dengan Hanyu dan segera meninggalkan mereka berdua menuju belakang panggung.
Setelah acara wisuda selesai, Yanling diam-diam segera menuju mobil untuk segera pulang tanpa sepengetahuan Hanyu.
~~~~~
Hari kepulangan Yanling untuk kembali ke Indonesia telah tiba. Yanling segera membereskan pakaiannnya dan hendak menuju bandara. Ia menuju kamar Luhan untuk berpamitan dan disana terlihat Luhan sedang duduk sambil memandangi bunga Udumbara.
"Luhan, aku pergi sekarang. Terima kasih telah membantuku selama ini." ujar Yanling.
Luhan membalikkan badan dan berdiri menghadap Yanling. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dan dengan hati yang sangat terpaksa, ia harus merelakan Yanling pergi.
Malam itu Luhan mengantarkan Yanling menuju bandara tanpa Axe karena tidak ingin para asistennya tahu.
Setibanya di bandara, Luhan sama sekali tidak turun dan hanya bisa melihat Yanling menjauh darinya diantara kerumunan orang dan gelapnya malam yang hanya disinari lampu bandara.
Para asisten mencari keberadaan Luhan dan Yanling. Mereka menduga bahwa Luhan dan Yanling sedang kencan bersama karena salah satu mobil Luhan tidak ada.
Saat Luhan sampai dirumah, mereka heran karena hanya Luhan saja yang pulang.
"Luhan, dimana Yanling?" tanya Yuanqi.
"Aku mengantarkannya pulang," jawab Luhan.
"Ke Mentougou?" tanya Lumiere.
"Bukan, Indonesia. Aku mengantarkannya ke bandara baru saja." ujar Luhan.
"Ke Indonesia?" mereka semua terkejut dengan pengakuan Luhan.
"Kenapa, Luhan?" tanya Laogao.
"Tugasnya sudah selesai disini," ujar Luhan sambil segera menuju kamarnya agar mereka tidak bertanya lagi. Ia membanting pintu kamarnya dan mengacak-ngacak kamarnya. Hatinya terasa sangat sakit ketika Yanling harus kembali ke Indonesia dan ia tidak bisa menyusulnya. Ia berteriak sekeras-kerasnya didalam kamar hingga para asisten yang masih berada di lantai 1 mendengarnya.
"Apakah itu berarti.." ujar Plumette.
"Kita tidak akan kembali seperti semula." timpal Webster.
"Dan mungkin gadis itu bukan yang kita maksudkan." ujar Madame.
"Mungkin gadis itu terlalu baik untuk menjadi istri Luhan." ujar Crane.
Sementara itu, di kamar yang gelap, Luhan berbicara sendiri kepada bunga Udumbara yang masih berada di dalam kristal yang indah.
"Kenapa kau tidak segera mekar? Kenapa kau tidak mengatakan jika dia adalah gadis itu? Akulah satu-satunya yang mengalami ini semua. Akulah pemilik takdirku. Aku tidak pernah membutuhkan siapapun di dalam hidupku. Aku sudah terlambat untuk mempelajari tentang kebenaran. Aku tidak akan pernah merasakan rasa sakit. Aku menutup mataku tetapi gadis itu masih disana, sesuatu yang lebih daripada yang bisa kutanggung."
Luhan mengamati foto-foto mereka berdua di ponselnya. Ia mengamati wajah Yanling yang tersenyum riang tanpa merasa takut dengan wajahnya. Wajah seorang gadis yang telah merubah hidupnya dan kelakuannya.
"Aku mengamuk melawan cobaan cinta, aku mengutuk cahaya-cahaya yang pudar. Meskipun Yanling telah terbang jauh dari yang dapat kuraih, aku yakin dia tidak akan meninggalkanku."
Luhan masih melihat foto-foto Yanling yang ada dalam gallery fotonya dan mengingat semua kenangan yang ada selama di rumahnya. Rasa sakit itu justru semakin membuat Luhan tersiksa dan ia membanting ponsel miliknya ke lantai.
"Sekarang kutahu Yanling tak akan meninggalkanku, meskipun ia pergi jauh. Dia masih akan menenangkanku, menyakitiku, merubahku dan semuanya yang akan terjadi. Aku akan menghabiskan waktu di dalam rumahku ini, menunggu pintu terbuka. Aku membodohi diriku sendiri bahwa ia akan membuka pintu itu dan hidup bersamaku selamanya."
~~~~
Setibanya di Indonesia, Yanling sangat senang dimana keluarga besarnya menjemput dirinya. Ia pulang membawa ijazah dan sertifikat kelulusan magisternya. Tentu saja orang pertama yang dicari Yanling adalah ibunya. Ia segera memeluk ibunya yang lama tidak ditemuinya.
"Aku sangat merindukanmu, Ibu." ujar Yanling sambil meneteskan air mata.
"Ibu lebih merindukanmu disini, Yanling." ujar ibu Yanling.
Hari-hari yang cerah membuat Yanling menghabiskan waktu untuk berbagi cerita kepada keluarganya saat berada di Cina.
Tiga bulan lamanya Yanling sudah meninggalkan Cina dan hal itu membuat Luhan semakin bersedih dan putus asa.
Sementara di Mentougou, Hanyu masih berusaha mencari keberadaan Luhan.
Yuanqi segera mengirimkan pesan kepada Yanling tentang kondisi Luhan. Ia mengirimkan foto Luhan yang semakin lesu dan kehilangan semangat.
Yanling sedih melihat berita tersebut dan ia berniat untuk kembali ke Cina lagi.
"Kenapa kau buru-buru ingin kembali ke Cina?" tanya ibu Yanling.
"Ibu, temanku di Haidian sedang sakit dan kupikir aku harus menjenguknya sebentar kesana."
"Kapan kau akan kerja?" tanya ibu Yanling.
"Kupikir aku bisa melamar kerja disana," ujar Yanling. "Ibu, ikutlah denganku. Beijing masih musim panas."
Ibu Yanling hanya mengikuti permintaan anak semata wayangnya tersebut untuk pergi ke Cina.
Sementara di Mentougou beberapa minggu kemudian...
"Baiklah semuanya, Yanling mengirimkan pesan bahwa ia sudah di Indonesia. Ini tandanya bahwa kita harus segera menemukan tersangka si buruk rupa tersebut dan setelah tertangkap, kita akan menbunuhnya. Setelah itu, Yanling akan menikah denganku!" seru Hanyu.
Para warga segera bergegas menuju Haidian dan kali ini Hanyu kembali ke pasar merah tempat terakhir ia mencari Yanling. Hanyu mengingat tempat yang ditunjukkan oleh kakek Wang dan rupanya jalan tikus itu memang ada. Mereka segera berjalan menuju jalan itu untuk mncari rumah Luhan. Sementara Yanling dan ibunya sudah sampai di Beijing dan hendak menuju rumah Luhan.
Fangzhou mengamati rumah-rumah yang ada disekeliling mereka dan matanya kemudian tertuju pada mobil Lamborghini berwarna putih yang dulu pernah dilihatnya.
"Hanyu," cegah Fangzhou.
"Ada apa?" tanya Hanyu.
"Aku pernah melihat mobil ini saat kita mengejar Yanling."
"Kau yakin?" Hanyu mengamati rumah yang sangat besar, mewah dan seperti istana tersebut.
"Ya, aku bahkan sempat mencatat nomor plat mobilnya." ujar Fangzhou.
"Baiklah semuanya! Kita akan dobrak pagar ini bersama-sama dan ikuti aku!" seru Hanyu.
Mereka semua bersorak untuk kemenangan dan teriakan mereka tersebut membuat para asisten terganggu. Lumiere melihat dari balik gorden dan terkejut ketika banyak warga yang berusaha menghancurkan pagar rumah Luhan.
"Astaga! Siapa mereka? Darimana asalnya?" teriak Lumiere panik.
Para asisten lain ikut mengintip dan terkejut ketika pagar depan sudah terbuka karena mereka menghancurkannya.
Hanyu masuk pertama dan berada di depan pintu rumah Luhan.
"Hai, Pria Buruk Rupa! Keluar dari rumah atau kami akan membakar rumahmu! Kau sudah menculik salah satu warga kami!" teriak Hanyu.
Tidak ada jawaban dari dalam karena mereka semua mengganjal pintu dengan barang-barang berat.
Laogao segera berlari menemui Luhan yang berada di kamarnya. "Han! Orang-orang akan mengancurkan rumah! Apa yang harus kita lakukan? Mereka mengira kau telah menculik Yanling!"
Luhan masih lesu dan pandangannya kosong ke luar. "Biarkan saja mereka masuk," ujar Luhan putus asa.
"Kau gila? Luhan, kita tidak bisa tinggal diam begitu saja!" ujar Laogao panik.
Di lantai bawah, warga semakin keras untuk mendobrak pintu dan Lumiere memberikan arahan untuk bersembunyi sambil mengenakan topeng hewan mereka. Ia memberikan ide untuk apa yang akan mereka lakukan jika pintu berhasil mereka dobrak.
Alhasil, tak lama kemudian pintu telah berhasil mereka dobrak. Warga sangat kebingungan saat tidak ada seorangpun disana sampai salah seorang warga tidak sengaja menginjak kaki Webster.
"Aduh!" teriak Webster.
Mereka semua terkejut dengan penampilan Webster yang mengenakan topeng hewan.
"Dia! Pasti salah satu komplotannya!" teriak warga yang hendak memukul Webster.
"Semuanya! Serang mereka!" teriak Webster sambil melarikan diri.
Malam itu terjadi peperangan antara para asisten Luhan dan warga Mentougou. Sedangkan Hanyu, segera mencari keberadaan Luhan. Ia mencari hingga naik ke lantai 3 dan tepat di depan kamar Luhan dengan pintu kamar terbuka, Hanyu berhasil menemukan Luhan yang duduk menghadap luar.
"Kau disini rupanya, Buruk Rupa." ujar Hanyu.
Luhan sama sekali tidak mempedulikan Hanyu dan masih terfikusnpada pandangannya yang kosong.
"Hei! Apa kau mendengarku? Kau tuli?" tanya Hanyu sambil mendekat Luhan dan membawa pemukul baseball. "Kau apakan Yanling selama ini, dasar penculik gadis!"
BUK!!!
Sebuah pukulan keras menghantam punggung Luhan dan seketika Luhan tersungkur di lantai.
"Lawanlah aku, Buruk Rupa! Aku disini atas nama Yanling ingin menyelesaikanmu!" Ujar Hanyu sambil mengangkat Luhan untuk berdiri.
Luhan dapat melihat jelas wajah Hanyu, seseorang yang dikenalnya. "Hanyu?"
"Ha! Tentu saja kau mengenal seorang aktor ini! Kau pikir kau bisa merebut Yanling dariku? Sebentar lagi dia akan menikah denganku!" ujar Hanyu.
Taksi yang mengantar Yanling dan ibunya telah tiba di rumah Luhan. Saat Yanling turun, ia terkejut ketika pagar rumah sudah terbuka dan seperti ada bekas dihancurkan. Dari luar, Yanling dapat melihat keadaan rumah yang sangat ramai. Ia segera menurunkan koper dan menghandeng ibunya untuk masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Yanling ketika orang-orang saling perang di ruang tamu. Yanling mencari tempat untuk ibunya agar tidak terkena benturan benda dan ia segera menuju kamar Luhan di lantai 3.
"Yanling! Kau kembali!" teriak Madame senang.
"Yanling?!" mereka semua melihat Yanling yang segera menuju lantai 3. Mengetahui Yanling kembali membuat mereka semangat untuk melawan mereka.
"Ibu, ada yang harus kulakukan dan kuharap ibu bisa nyaman berada di kamar ini. Dulu kamar ini adalah kamarku." ujar Yanling sambil menutup pintu dan menuju kamar Luhan.
Ia terkejut ketika Hanyu berdiri di depan Luhan yang tersungkur.
"Hanyu!" panggil Yanling.
Luhan dan Hanyu menoleh ke sumber suara dan disana berdiri seorang gadis yang mereka cintai. "Hentikan, Hanyu!" ujar Yanling sambil mendekati mereka.
"Yanling, kau kembali." ujar Luhan sambil tersenyum.
Yanling mendekati Luhan dan berusaha menolongnya. "Tentu saja aku kembali. Yuanqi mengirimkan fotomu bahwa kau sedang sakit sehingga aku kembali."
Melihat mereka berdua bersama membuat Hanyu cemburu dan dengan kasar menarik Yanling untuk menjauh dari Luhan.
"Yanling! Apa yang kau lakukan dengan penculik buruk rupa ini?! Kau tidak perlu menolongnya!" ujar Hanyu dengan lantang.
Mendengar ucapan Hanyu dan perlakuan kasar Hanyu terhadap Yanling membuat Luhan naik pitam. Ia berusaha berdiri dan membangkitkan semangatnya karena Yanling sudah kembali.
Luhan mengambil sesuatu yang dapat digunakan untuk memukul Hanyu dari belakang hingga ia menemukan sebuah payung yanga da di dalam kamarnya dan memukulkan kepada Hanyu.
"Maafkan aku, teman lama." ujar Luhan sambil mengangkat payungnya.
BUK!!!
Sebuah hantaman keras mengenai pundak kiri Hanyu hingga ia terjatuh. "Argh!" teriak Hanyu. Ia segera membalas dengan memukul keras perut Luhan.
"Tidak!" teriak Yanling yang melihat Luhan dipukul oleh Hanyu.
Luhan merasakan pukulan yang keras tersebut menehnai daerah perutnya yang masih sakit namun berusaha menahannya. Ia mendekati Hanyu dan menarik kerah kemejanya. "Dengar, Hanyu. Apakah kau tidak mengenaliku? Aku adalah Luhan, seniormu! Kau tidak ingat kita pernah bersama saat syuting? Kau tidak ingat?" ujar Luhan dengan nada menggertak Hanyu.
"Luhan? Kaukah Luhan?" tanya Hanyu.
"Aku bisa saja memberitakan kejadian ini kepada media untuk menurunkan ratingmu sebagai aktor Cina, atau kau pergi dari sini!" ancam Luhan.
"Ba-baiklah! Aku akan pergi!" ujar Hanyu sambil segera menjauh dari Luhan.
"Pergi dari rumahku!" teriak Luhan.
Hanyu segera pergi meninggalkan rumah Luhan dan mengajak semua warga untuk pergi.
"Horeee!" para asisten bersorak kemenangan atas perlawanan mereka.
Sementara Luhan masih menahan sakit dan perlahan ia terduduk di lantai. Yanling segera menghampiri Luhan yang merintih kesakitan.
"Luhan, bertahanlah! Kami akan membawamu ke rumah sakit." uajr Yanling sambil memangku kepala Luhan di pahanya.
"Yanling, aku senang kau kembali." ujar Luhan sambil terbata.
"Luhan, kumohon bertahanlah sebentar. Aku akan memanggil mereka untuk segera membawamu." ujar Yanling.
"Tidak perlu, Yanling. Setidaknya aku bisa melihatmu pada terakhir kalinya." ujar Luhan sambil menyentuh pipi Yanling dan menyeka air matanya.
Perlahan Luhan memejamkan mata dan tak sadarkan diri di pangkuan Yanling. "Luhan!" panggil Yanling sekali lagi.
Mendengar Yanling berteriak membuat para asisten segera menuju kamar Luhan. Mereka melihat Yanling menangis dan Luhan yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Luhan, jangan tinggalkan aku." ujar Yanling sambil terisak. "Wo ai ni, Luhanㅡaku mencintaimu, Luhan," ujar Yanling sambil mendekati wajah Luhan dan perlahan mencium bibirnya.
Yanling tersadar bahwa para asisten berada di depan pintu. Ia kemudian menyuruh mereka untuk segera mengantar Luhan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Yuanqi mencegah Yanling untuk ikut karena Yanling baru saja pulang. Mengetahui keributan yang terjadi membuat ibu Yanling penasaran.
"Apa yang terjadi? Siapa mereka dan siapa dia?" tanya ibu Yanling penasaran.
Yanling akhirnya bercerita semuanya kepada ibunya di kamar selagi menunggu mereka kembali dari rumah sakit.
"Jadi, kau berada di rumah ini?" tanya ibu Yanling.
"Ya, aku tinggal bersama mereka pada tahun terakhir aku kuliah. Itulah alasan kenapa aku tidak pulang pada musim panas. Luhan yang mengurungku disini."
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, Ibu. Mereka adalah orang-orang yang baik." ujar Yanling.
Di rumah sakit...
Para asisten segera membawa Luhan ke IGD dan disana Luhan segera mendapatkan pelayanan darurat. Seorang dokter terkejut ketika melihat wajah mereka yang penuh luka, terutama wajah Luhan. Ia segera membawa Luhan ke ruangan agar bisa mendapatkan perawatan lebih baik.
"Dia masih baik-baik saja dan malam ini juga akan segera kami oindah ke kamar inap," ujar dokter tersebut.
Para asisten tidak pulang dan setia menunggu Luhan di rumah sakit. Mereka berharap Luhan baik-baik saja dan masih tetap hidup karena mereka bersaksi atas ucapan cinta Yanling kepada Luhan.
Keesokan paginya, dokter datang ke ruangan Luhan dan ia terkejut dengan orang-orang yang berwajah sangat buruk rupa ada di ruangan tersebut, termasuk Luhan. Ia menyentuh satu per satu wajah mereka dan memastikan jika luka itu sudah kering.
"Kalian perlu kuberikan obat untuk menghilangkan luka ini. Siang nanti kalian semua akan kuobati, baru pasien ini karena ia memiliki luka cukup parah." ujar seorang dokter.
Benar apa yang diucapkannya, seharian penuh dokter tersebut mengobati mereka dengan mengelupas luka dengan obat agar cepat mengering dan tidak meninggalkan bekas luka.
Saat melihat ke cermin, mereka senang bukan main karena wajah mereka kembali seperti sedia kala dan tanpa ada bekas apapun. Luhan pun dengan pengobatan cukup lama akhirnya dapat kembali seperti sedia kala.
"Dia bisa pulang lusa agar perutnya bisa pulih kembali." ujar dokter tersebut.
Luhan mulai membuka matanya dan berusaha untuk berbicara kepada para asisten. Ia terkejut ketika para asisten telah kembali seperti sedia kala.
"Tebak apa yang akan kami tunjukkan kepadamu?" tanya Laogao. Ia segera mengambil sebuah cermin kecil dari bedak Plumette dan menunjukkan kepada Luhan.
Luhan tidak percaya apa yang dilihatnya. Wajahnya yang tampan kembali seperti sedia kala dan tidak ada bekas apapun.
"Dimana Yanling?" tanya Luhan.
"Ia masih di rumah bersama ibunya." jawab Yuanqi.
"Ibunya? Dia membawa ibunya kemari?"
"Ya. Tentu saja. Mungkin dia ingin memperkenalmu pada ibunya." goda Lumiere.
"Bawa Yanling kemari bersama ibunya. Aku ingin dia meihatku sekarang." ujar Luhan senang.
"Siap!" uajr Axe dengan senang dan segera menuju rumah untuk menjemput Yanling dan ibunya.
"Haruskah aku mengirim fotomu sekarang kepada Yanling?" tanya Plumette.
"Jangan, biarkan dia melihatku secara langsung. Sebuah kejutan untuknya," ujar Luhan.
Sesampainya di rumah, Axe segera memberitahu Yanling dan ibunya untuk ke rumah sakit. Axe sengaja mengenakan topeng hewan miliknya agar Yanling tidak curig kepadanya. Setelah bersiap, Yanling dan ibunya segera menuju rumah sakit dengan diantar Axe. Yanling merasa lega ketika Luhan baik-baik saja.
Axe segera mengajak mereka untuk ke kamar Luhan setelah mereka tiba di rumah sakit. Yanling mengetuk pintu dan perlahan membukanya. Ia terkejut ketika banyak orang asing yang tak dikenalnya ada di kamar itu.
"Oh, maaf. Aku salah kamar." ujar Yanling.
"Tidak, kau tidak salah kamar. Ini adalah mereka, Yanling. Dan jika kau tidak lupa kepada Axe yang selalu mengantarmu." ujar Axe sambil membuka topengnya.
Ia mendorong Yanling untuk berjalan menuju tempat tidur. Mereka menutupi tempat tidur dan saat Yanling mulai dekat, mereka membubarkan diri agar Yanling bertemu Luhan.
"Kau masih ingat aku?" tanya Luhan.
Yanling hanya berdiri terpaku melihat seorang pria tampan yang berbaring di tempat tidur. "Yanling, ini aku, Luhan." ujar Luhan.
Yanling perlahan mendekati Luhan untuk mastikannya. Luhan kemudian bernyanyi lagu miliknya yang berjudul Your Song untuk mengingatkan Yanling kembali dan meyakinkan bahwa itu adalah dirinya. Pada bait terakhir, Luhan meraih rambut Yanling dan membelainya kembali dengan tangannya. "Babe, it's your song. Babe, it's your songㅡSayang, ini adalah lagumu. Sayang, ini adalah lagumu."
Yanking memperhatikan bentuk mata Luhan dan warna mata yang pernah dilihatnya hingga ia mengenali itu adalah Luhan.
"Luhan! Ini kau!" ujar Yanling sambil memeluk Luhan dan dibalas oleh Luhan.
Para asisten dan ibu Yanling sangat senang melihat pemandangan yang ada di depan mereka meskipun ibu Yanling tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
"Mama, wo shi LuhanㅡIbu, aku Luhan." ujar Luhan sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman kepada ibu Yanling.
Yanling mendampingi ibunya untuk berbicara kepada Luhan. Luhan meraih tangan ibu Yanling dan segera mencium tangannya.
"Jika kau tidak keberatan, ijinkan aku akan melamar anakmu yang bernama Yanling ini," ujar Luhan.
Yanling terkejut dengan pernyataan Luhan. Ia tersipu malu untuk menerjemahkan kepada ibunya.
"Apa yang dia bilang?" tanya ibu Yanling.
Yanling hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik pundak ibunya. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan membisikkan apa yang dimaksud Luhan. Tanpa berpikir panjang, ibu Yanling mengatakan setuju kepada Luhan.
"Apa yang ibumu katakan?" tanya Luhan.
Yanling duduk kembali sambil mendekat Luhan dan menatapnya dengan tersenyum.
"Ibuku setuju," ujar Yanling.
"Benarkah? Terima kasih, Ibu!" ujar Luhan sambil membungkukkan badan.
Para asisten juga sangat senang dengan persetujuan ibu Yanling.
"Terima kasih, Ibu." ujar mereka serentak sambil ikut menbungkukkan badan.
Luhan kembali menatap Yanling dalam dan menyentuh pipinya. "Yanling, tolong turunkan pegangan tempat tidur, aku ingin ke buang air," ujar Luhan.
Yanling hanya tertawa dengan permintaan Luhan dan segera menurunkan tempat pegangan tangan. Luhan perlahan berusaha untuk berdiri dengan Yanking yang memeganginya agar tidak jatuh.
Namun Luhan tidak melangkahkan kaki menuju kamar mandi melainkan ia melangkah maju kearah Yanling dan mendekatkan bibirnya ke bibir Yanling. Luhan mencium Yanling dan Yanling membalas ciuman Luhan. Disaksikan semuanya, cinta mereka akhirnya bersatu.
Yuanqi segera membawa Chen menjauh tanla mengeluarka suara agar tidak melihat Luhan dan Yanling yang sedang berciuman tersebut.
~~~~
Beberapa bulan kemudian, Luhan telah mempersiapkan pernikahannya dengan Yanling.
Yanling mengenakan busana pengantin yang mewah dan indah. Ia terlihat snagat cantik dengan gaun tersebut. Luhan sengaja memasuki kamar Yanling untuk melihat pengantin wanitanya tersebut bersama Laogao dan Lumiere. Yanling melihat Luhan sangat tampan dengan jas yang dikenakannya. Ia juga membawa bunga Udumbara yang berada di dalam kristal.
Luhan medekati Yanling dan meletakkan bunga Udumbara tersebut di meja dekat Yanling. Ia kemudian membuka kristal tersebut dan saat itu juga seisi ruangan beraroma sangat wangi dengan bunga kecil berwarna putih tersebut.
"Bunganya telah mekar!" seru Laogao.
Luhan mendekati Yanling dan meletakkan dahinya ke dahi Yanling. "Ternyata bunga itu benar, akan mekar 3000 tahun kemudian ketika aku menemukan cinta sejatiku dan tahun ini mungkin adalah tahun ke-3000 dari bunga itu." ujar Luhan.
Yanling hanya tertawa dan tersipu malu dengan pernyataan Luhan. "Luhan, berjanjilah untuk kembali bekerja setelah kita menikah," pinta Yanling.
"Tentu saja, istriku. Aku juga akan mengumumkan kepada seluruh orang dan penggemarku siapa istriku ini," ujar Luhan sambil mengangkat dagu Yanling dan menciumnya sebelum resepsi pernikahan dimulai.
"Kutunggu satu jam lagi dibawah," ujar Luhan sambil tersenyum kepada Yanling dan meninggalkan ruangan.
Yanling tersenyum kepada Luhan dan melihat suaminya serta yang lainnya meninggalkan ruangan.
"Kupikir dia memang manusia yang mengerikan," ujar ibu Yanling setelah Luhan meninggalkan ruangan.
"Ya. Dia dulu sangat mengerikan, egois dan pemarah. Tetapi dari hatinya sangat baik," ujar Yanling. "Aku tidak pernah menyangka ini seperti sebuah dongeng."
Ibu Yanling menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa bahagia karena anaknya akan diberikan kepada orang. "Ayahmu pasti senang di surga melihatmu sekarang," ujar ibu Yanling.
Yanling menyeka air mata ibunya dan berusaha menahan tangis. "Ayolah, Bu. Jangan membuat make-up yang sudah menempel di wajahku ini luntur." canda Yanling sambil memeluk ibunya.
Resepsi pernikahan itu berlangsung meriah dengan dihadiri 200 undangan diantaranya teman-teman Luhan termasuk Kakek dan Nenek Wang. Ibu Yanling menyewa seorang penerjemah agar bisa berbincang dengan para tamu lainnya.
Dan resepsi pernikahan itu menjadi saksi cerita yang berakhir happy ending dari dua sejoli, Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang kemudian hidup bahagia selamanya.
Madame the Garderobe dan Yuanqi kemudian bernyanyi tentang kisah cinta Si Cantik dan Si Buruk Rupa tersebut.
"Talenas old as one, tone as old as song. Bittersweet and strange finding you can change, learning you were wrongㅡKisah setua waktu, lagu setua irama. Kepahitan dan keasingan menemukan bahwa kau berubah karena belajar dari kesalahan,"
Dan disambung oleh Yuanqi...
"Winter turns to spring, famine turns to feast. Nature points the way, nothing left to say. Beauty and The BeastㅡMusim dingin berganti musim semi. Kelaparan berganti menjadi pesta. Kealamiah menunjukkan jalannya dan tidak ada yang tertinggal untuk dikatakan, Si Cantik dan Si Buruk Rupa,"
Certain as the sun rising in the east
Tale as old as time, song as old as rhyme
Beauty and the Beast♪
Tale as old as time, song as old as rhyme
Beauty and the Beast♪
Sepasti mentari yang terbit di timur
Kisah setua waktu, lagu setua irama
Si Cantik dan Si Buruk Rupa
Kisah setua waktu, lagu setua itana
Si Cantik dan Si Buruk Rupa
Dan resepsi pernikahan itu menjadi saksi cerita yang berakhir happy ending dari dua sejoli, Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang kemudian hidup bahagia selamanya.
Madame the Garderobe dan Yuanqi kemudian bernyanyi tentang kisah cinta Si Cantik dan Si Buruk Rupa tersebut.
"Talenas old as one, tone as old as song. Bittersweet and strange finding you can change, learning you were wrongㅡKisah setua waktu, lagu setua irama. Kepahitan dan keasingan menemukan bahwa kau berubah karena belajar dari kesalahan,"
Dan disambung oleh Yuanqi...
"Winter turns to spring, famine turns to feast. Nature points the way, nothing left to say. Beauty and The BeastㅡMusim dingin berganti musim semi. Kelaparan berganti menjadi pesta. Kealamiah menunjukkan jalannya dan tidak ada yang tertinggal untuk dikatakan, Si Cantik dan Si Buruk Rupa,"
Certain as the sun rising in the east
Tale as old as time, song as old as rhyme
Beauty and the Beast♪
Tale as old as time, song as old as rhyme
Beauty and the Beast♪
Sepasti mentari yang terbit di timur
Kisah setua waktu, lagu setua irama
Si Cantik dan Si Buruk Rupa
Kisah setua waktu, lagu setua itana
Si Cantik dan Si Buruk Rupa