Pesona Bendungan Tirtonadi

Sesuai dengan namanya yang sama dengan nama terminal bus kota Solo, Bendungan Tirtonadi ini berlokasi tepat disebelah utara Terminal Tirtonadi

Bendungan ini merupakan jalur pertemuan 2 anak sungai utama di Kota Solo, yaitu Kali Gajah Putih dan Kali Pepe yang nantinya akan terhubung dengan sungai utama,yaitu Bengawan Solo

Bendungan yang dibangun untuk mengatasi permasalahan banjir di Kota Solo ini dibangun dengan menggunakan sistem “bending karet” yang jarang ditemui di bendungan lain.

Tepat diatas bendungan, dibangun sebuah jembatan yang materialnya hampir menggunakan kaca,baik di lantai, maupun di sisi kanan dan kiri pembatasnya. Desain atap jembatan juga dibuat cukup estetis dengan warna yang didominasi oleh biru.

Untuk menunjang keberadaanya sebagai destinasi wisata, maka bantaran sungai di sekitar bendungan dikondisikan menjadi jalur pedestrian atau jalur pejalan kaki yang rapi dan penuh dengan taman-taman menawan

Setelah diremsikan pada tahun 2019 lalu, tempat ini menjelma menjadi pusat keramaian baru di Kota Bengawan. Setiap pagi dan sore, tempat ini dipenuhi dengan warga Solo dengan beragam aktivitasnya. Karena tempatnya yang cukup indah, banyak yang berswafoto dengan mengambil sudut-sudut yang menarik.

Pembangunan Bendung Tirtonadi ini dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo/SNVT PJSA (Satuan Kerjan Non Vertikal Pelaksanaan Jaringan Sumber Air) dengan anggaran kurang lebih sebesar Rp189 miliar. Pengerjaannya dilakukan selama dua tahun, dari 2016 hingga 2018

Pembangunan ini memakan waktu cukup lama karena tidak hanya berfokus pada bangunan bendung itu sendiri, namun juga terdapat pekerjaan lain, yakni pembangunan jalur pedestarian di bantaran sungai.

Revitalisasi bantaran sungai juga memakan waktu yang lama karena terdapat kurang lebih 194 keluarga yang harus direlokasi karena mendirikan bangunan di bantaran sungai. Proses koordinasi dengan Pemerintah Kota Solo sangat membantu terlaksananya relokasi tersebut.

Sekarang operasional bendungan ini sudah diserahkan kepada Pemerintah Kota Solo, namun pencatatan asetnya masih berada di neraca SNVT PJSA Bengawan Solo, dengan kata lain bendungan ini merupakan Barang Milik Negara.

Setahun semenjak diresmikan, Bendungan Tirtonadi ramai dikunjungi oleh masyarakat namun ternyata sebagian masyarakat kurang bisa menjaga kebersihan sehingga berakitbat pada sampah yang banyak tercecer hingga air sungai yang mulai keruh.

Seperti yang diungkapkan oleh Sena, seorang kepala keluarga dari Kartasura yang sering mengunjungi bendungan ini. Meskipun dirinya dan keluarga senang dengan suasana yang diberikan bendungan, namun Sena agak terganggu dengan keruhnya sungai.


Namun ada pula yang masih menikmati fasilitas yang dimiliki bendungan, salah satunya Noval yang berasal dari komunitas skateboard di Solo. Noval mengaku bahwa Bendungan Tirtonadi ini memiliki spot yang sesuai dengan kegiatan rutinnya