Hari itu, adalah sebuah hari yang tak pernah aku bayangkan.
Saat aku masuk keruang kelas, mereka yang sedang asik berbincang kemudian terdiam seketika.
Aku memandang sekeliling, dan tampak mereka seolah memalingkan muka saat aku menatapnya.
"Apa yang telah terjadi." Aku membatin
Aku pikir omonganku kemarin hanya sekedar omongan biasa, tapi mereka seakan tak menghargaiku lagi.
Jam pelajaran berdering, gurupun memasuki ke ruang kelas.
Aku hanya bisa terdiam dan berpikir sembari guru menjelaskan materi pada hari ini.
"Lika!!" bentak guruku
"Eh, iya bu?" jawabku kagek
"Apa yang sedang kau pikirkan, cepat bahas soal ini."
"Shit." aku bergumam
Namaku Alika, aku seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 2 SMA.
Aku seorang ketua kelas dikelas ini. Mungkin aku adalah satu-satunya ketua kelas yang tak pernah dihargai sekarang ini.
Setelah pelajaran selesai, bel istirahat pun berdenting.
Aku berjalan ke kantin hanya untuk mencari udara yang bisa menyegarkan pikiran dan membeli sebuah minuman kotak.
Aku mendengar sebuah perbicangan yang sangat mengundang kupingku untuk mendengarnya.
Mereka seperti sedang membicarakan gossip yang sangat mengherankan.
"Apa yang mereka bicarakan?" pikirku
Tak lama, aku menyimak isi perbicaraan mereka, ternyata mereka sedang membicarakan aku.
Apakah kalian pernah, berbicara tapi tak pernah dihiraukan?
Apakah kalian pernah, berbicara tapi dianggap hanya seorang sok benar?
Dan seperti apa perasaan kalian?
Ya, seperti itulah perasaan aku pada saat ini.
Keesokan harinya,
Aku meminta maaf, kepada semua orang yang menurutku sudah tersakiti pada pembicaraan ku pekan lalu.
Dan apa reaksi mereka?
Hanya terdiam dan mengobrol seperti tidak menghiraukanku
Aku sempat untuk mengundurkan diri sebagai ketua kelas, tapi apa reaksi mereka, mereka sama saja seperti hari itu.
Aku sempat untuk berpikir pindah sekolah.
Aku hanya tidak ingin apa yang sudah aku dapat menjadi sia-sia.
Teman baru itu tidak enak. tapi melihat situasi sekarang, aku merasa aku tidak ada artinya lagi.
Aku tinggal bersama bibiku,
Ayah dan ibuku sudah tiada sejak aku masih belia.
Aku sangat sedih, tapi aku harus menerima semua kenyataan dan sejak hari itu, aku telah menganggap bibiku seperti ibu kandungku sendiri.
Bibiku yang membiayakan aku hidup serta membiayakan aku sekolah, terkadang aku sangat malu, menambah beban seorang bibi yang sudah renta mencarikan aku biaya untuk sekolah.
Aku berfikir semalam,
Aku menyiapkan mentalku untuk menemui bibi dan membicarakan bahwa aku ingin putus sekolah , aku membicarakan itu semua. Tapi bibiku sempat menolaknya, hingga saat aku benar-benar menyakinkan bibiku. Bibiku menerima semua pengaduanku dan mengabulkannya.
Aku menulis sepucuk surat yang aku tinggalkan diatas sebuah papan tulis.
Hanya beberapa kata perpisahan.
"Hai semua, maaf mungkin aku tak bisa menjaga kata-kataku, aku tak bisa menjaga mulutku saat berbicara. Mungkin aku sudah menyakiti perasaan kalian hingga kalian bersikap angkuh terhadapku. Aku hanya melakukan apa yang terbaik bagi kita semua, bukan untukku saja. Mungkin dengan aku memutuskan untuk tidak bersekolah disini lagi, cukup untuk mengobati rasa sakit kalian untuk ku. Terimakasih saat kebersamaan kita, saat canda gurau, saat kebersamaan yang sangat berarti, terimakasih telah mengisi hari-hariku. Semoga kalian bisa senang tanpa aku."
