Kalau melihat dari judulnya, mungkin teman-teman berpikir bahwa aku sedang kena guna-guna, atau sedang mengalami hal-hal gaib secara tiba-tiba. Tidak sepenuhnya salah sih, aku memang mengalami hal gaib yang sebenernya jika dipikir secara logika sangat tidak masuk akal. Tapi ini terjadi sungguhan. Hal tersebut aku alami ketika sedang membaca Al-Qur’an.

               Berbicara mengenai Al-Qur’an, itu berarti kita berbicara mengenai sesuatu yang sangat luar biasa. Al-Qur’an yang kita kenal sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, memang bukan sembarang petunjuk. Bukan sembarang manual book -buku panduan penggunaan alat tertentu yang bahkan millenial saat ini sudah tidak membacanya- untuk diri kita sendiri.

 

               Bahkan Al-Qur’an juga disebut-sebut sebagai As-Syifa atau Obat. Berdasarkan Q.S Al-Isra ayat 82

 

ﻭَﻧُﻨَﺰّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺂﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟّﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺇَﻻّ ﺧَﺴَﺎﺭﺍً
 

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

 

          Kisah ini dimulai saat hari Senin, setelah libur panjang karena Pemilu. Bagiku, yang saat ini masih menjadi mahasiswa, libur di tegah-tengah kesibukan kuliah ini merupakan anugerah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Hari senin, sebagai permulaan hari, seharusnya aku menyambutnya dengan semangat. Aku pun memulai hari dengan niat berpuasa.

          Qadarullah, senin pagi aku terserang migrain. Aku tidak bisa bangun dari tidur karena rasa sakit kepala sebelah yang cukup mengganggu. Aku berusaha untuk mencari tau apa obatnya selain yang harus dimakan karena sedang berpuasa. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur. Singkat cerita aku tertidur selama kurang lebih 4 jam dan melewatkan satu mata kuliah dan satu waktu sholat. Setelah bangun dari tidur, aku memaksakan diri untuk berwudhu dan cepat-cepat melaksanakan sholat sebelum waktunya berakhir.

          Setelah sholat, aku berdoa kepada Allah memohon kesembuhan sakit kepala yang benar-benar mengganggu. Namun, sakit kepala itu tetap ada. Ingin rasanya berbaring kembali, tapi aku teringat ada hal yang aku lupakan hari ini: Membaca Al-Qur’an.

          Akhirnya aku memutuskan untuk membaca Al-Qur’an dengan sedikit sempoyongan. Satu lembar saja cukup, sehabis itu aku kembali ingin berbaring kembali, pikirku. Namun di tengah-tengah bacaan, rasanya aku tidak bisa berhenti hanya di satu lembar, aku melanjutkan kembali bacaannya hingga mecapai target harianku.

          Setelah selesai membaca Al-Qur’an, aku merasa ada yang aneh dengan kepalaku. Ya, benar. Sakit kepalanya hilang. Tidak sepenuhnya hilang sih, tapi setidaknya tidak mengganggu dan aku bisa berdiri dengan normal kembali.

          Ingin menangis rasanya. Kok bisa ya Al-Qur’an menyembuhkan sakit kepala? Ini sama sekali nggak masuk di logika.

          Iya memang, Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Bagiku, Al-Qur’an ini adalah bukti dan sekaligus perantara bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Maha Pencipta.

 

 

Kukusan, Depok.

Senin, 22 April 2019


sumber referensi https://muslim.or.id/30346-al-quran-obat-fisik-dan-jiwa.html

 

Mari berdamai dengan kepatahan hati,
Karenanya, kamu bisa berhati-hati dengan hati.

Mari berdamai dengan luka,
Karenanya, kamu bisa belajar untuk terbuka.

Mari berdamai dengan amarah,
Karenanya, kamu bisa belajar untuk pasrah.

Mari berdamai dengan rasa kecewa,
Karenya, kamu bisa belajar menghargai tawa.

Mari berdamai dengan diri sendiri
Karena sejatinya, diri ini adalah milik Ilahi.

 

 

Lokasi: Pameran Flona-Flora dan Fauna-, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

 

Ada benarnya rasa kecewa itu harus hadir,
Di balik sebuah harapan yang telah lahir,
Lalu terbawa oleh suasana dan tersingkir,
Karena sebuah janji yang telah berakhir.

Kemudian memaksaku untuk berpikir,
Mungkin Tuhan sedang menyindir,
Bagi diri ini yang terlalu tersihir,
Oleh dirinya yang selalu ingin dijadikan bagian dari takdir.

Dan ketika waktu bergulir,
Semua bagian kecewa itu terukir,
Tidak ada lagi rasa khawatir,
Jika semua bisa mentolerir.