MVD

MVD

-.-

Amebaでブログを始めよう!

Ekosistim bumi menghadapi tantangan baru, yaitu aktifitas eksploitasi bumi yang dilakukan secara berlebihan. Kebutuhan industri global telah memaksa manusia bertindak seperti itu. Mereka menggunakan bahan bakar fosil dengan jumlah besar, dan membabat semua hutan-hutan yang ada. Akibatnya membawa dampak besar terhadap iklim global dan kehidupan spesies di muka bumi ini. Walaupun dunia bisnis dan industri mengetauhinya, namun mereka tidak pernah berhenti mengeksploitasi sumber daya bumi. Salah satunya, produk-produk hutan yang tidak terbarukan.

Kekayaan hutan yang dimiliki Indonesia menjadi target bagi para pelaku ilegal logging dunia, dan sudah tentu industri yang memanfaatkan hasil-hasil hutan tersebut. Sangat disesalkan bila fenomena itu dibiarkan merajalela, dan berapa banyak kerugian yang harus dialami kita?.

Jika sumber daya ini dieksploitasi secara terus-menerus, kelak apa yang akan terjadi dengan negeri ini dikemudian hari?. Jika pemanasan global disebabkan oleh para pelaku industri, maka solusi yang harus dilakukan adalah menghentikan proses industrialisasi tersebut. Namun, prosesnya tidak akan sesederhana itu. Banyak kepala keluarga menggantungkan mata pencariannya pada sektor industri itu. Bila dihentikan, maka akan ada berapa banyak dari mereka kehilangan lahan pekerjaan. Sungguh ironi.

Memang moderenisasi telah menjadikan produk-produk tersebut bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Namun, jika kita tidak berusaha mencari solusi dan tetap berdiam diri, maka akan tiba saatnya di mana kita harus berhenti dan kehilangan semua kesempatan itu.

Nyaris hampir setengah enam darsawasa lewat sejak kemerdekaan ditegakkan agaknya Indonesia belum menjadi tempat yang layak bagi setiap orang. Kemiskinan terasa begitu hadir amat dekat, kita dapat menyisir jalan seraya melempar pandang maka segala yang ganjil dan janggal dapat dengan mudah kita temukan. Di kota-kota besar menjamur pusat-pusat belanja yang menyuguhkan kemewahan, namun di situ pula kita dapat menemukan anak-anak yang mengadu nasib demi mengais sejumlah uang receh di jalan kota.

Di sepanjang jalan protokol berdiri tegak gedung-gedung megah dan apartemen-apartemen bernilai miliyaran rupiah, akan tetapi di sepanjang sungai pun berjejer rumah-rumah bilik yang lebih menyerupai jamban ketimbang tempat tinggal yang layak, dan ada jauh lebih banyak lagi mereka yang menjadikan langit dan awan sebagai atap ketika memejamkan pelupuk mata di saat larut tiba.

Soe Hok Gie barang kali adalah yang paling mengerti apa artinya menjadi seorang Indonesia, ia telah menegaskan sebuah posisi untuk berdiri bersama mereka yang malang dan mereka yang terpinggirkan. Hingga pada suatu ketika, Gie mendapati seorang pengemis tua tengah mengunyah kulit mangga. Di usia remajanya ia tak punya banyak uang, hanya ada dua setengah dua perak di kantungnya dan ia memberikan seluruhnya kepada pengemis yang terbelit lapar dan dahaga itu.

Soe Hok Gie adalah seorang muda yang geram lantaran menyadari mereka yang ketika itu duduk di pucuk kuasa nasibnya 180 derajat berbeda. Kita dapat menyimak dalam catatan hariannya yang ia tulis "...dua kilo meter dari pemakan kulit mangga, Paduka kita mungkin sedang tertawa-tawa, makan-makan dengan isteri-isterinya yang cantik-cantik. Aku bersertamu orang-orang malang".

Soe Hok Gie bukanlah cendikiawan yang berumah di atas awan, ia mendamaikan menara gading para ilmuan dan dunia kaum demonstran. Di saat pikiran-pikiran muram bertandang, Gie acap kali melepaskan kegelisahanya di padang Mandalawangi. Di atas puncak yang sunyi itu ia mengadu kepada langit membeberkan kegelisahan yang terus menumpuk.

Pada akhirnya, inilah cerita seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba satu hari menjelang usianya yang ke-27. Gie meninggal dunia di ketinggian gunung Semeru. Banyak yang tak percaya. Tapi seandainya anak muda itu masih hidup, barang kali kita masih akan sempat melihatnya berdiri di suatu tempat untuk memperjuangkan sesuatu yang pernah ditulisnya waktu itu "Generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua,….Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia..".