Blog berantakan . . -3ページ目

Blog berantakan . .

Blog buat iseng-iseng aja isinya gak penting -_-'')

"Kanata Hongo"! kalian pada enggak kenal sama diakan, ih rugi abis kalo gitu. Sebenarnya aku juga baru tahu sekarang sih hehe...... pas lagi nonton Gantz eh ada satu tokoh yg cool & keren abis, ternyata Kanata hongo namanya. Dia juga pernah jadi bintang video klip Yui yang Tomorrow way's. Ini data lengkap tentang Kanata hongo :
Profil
Name: 本郷奏多
Name (romaji): Hongo Kanata
Profession: Actor and model
Birthdate: 1990-Nov-15
Birthplace: Sendai, Miyagi Prefecture, Japan
Height: 171cm
Star sign: Scorpio
Blood type: O
Talent agency: Stardust
Yang ini daftar Movie dan TV Drama Kanata Hongo
Movie & TV Drama
GANTZ (2011)
GOTH (2008)
Silk (2008)
NANA 2 (2006)
Prince of Tennis (2006)
Until the Lights Come Back (大停電の夜に) (2005)
Hinokio (2005)
Moon Child (2004)
Returner (2002)
TV Shows
Yankee-kun to Megane-chan (TBS, 2010)
Seigi no Mikata as Okamoto Riku (NTV, 2008)
Iryu 2 as Kuroda Tomoki (Fuji TV, 2007, ep8)
Tantei Gakuen Q as Makino Daisuke (NTV, 2007, ep2)
Seito Shokun! as Aoki Kohei (TV Asahi, 2007)
Himitsu no Hanazono as Kataoka Hinata (Fuji TV, 2007)
Kiraware Matsuko no Issho as Ryu Yoichi (TBS, 2006)
Aikurushii as Nagumo Shu (TBS, 2005)
Kalian dari tadi pasti bingungkan kaya apa sih orangnya, ni foto-fotonya Kanata hongo :
$Mellaのブログ


$Mellaのブログ-Tokyo23


$Mellaのブログ


$Mellaのブログ-Gantz
At Library

Naruto © Masashi Kishimoto

At library © AkinaYukiNyo

Warning Au and OOC (specially for Sasuke)

Summary : Hinata adalah gadis aneh yang sangat suka menghabiskan istirahat siangnya di perpustakaan sekolah. Dan Sasuke adalah siswa yang sangat suka menghabiskan waktunya dengan tidur di pojok rak nomor 5. Selama ini mereka hanya saling melihat tanpa menyadari bahwa mereka saling tertarik satu sama lain.

My first SasuHina fic.

~o0o~

Konoha High School adalah SMA negeri yang memilki gedung terluas seantero Konoha. Semua fasilitas yang kau inginkan pasti ada disana, seperti kolam renang, lapangan sepak bola dan lapangan kasti, ruang club seni, aula teaterikal, dan bahkan memiliki bioskop yang berguna untuk ekstra tambahan. Jadi sungguh masuk akal kalau sekolah seperti itu mempunyai perpustakaan besar yang mengalahkan perpustakan umum Konoha.

Dan saking besarnya perpustakaan itu, Kepala Sekolah meletakkannya di paling pojok dari area sekolah. Ya.. sedikit ironis memang. Kalau seperti itu siapa yang mau mengunjungi perpustakaan itu? Perpustakaan yang terletak di sebelah kelas saja sudah sangat malas untuk dikunjungi, bagaimana kalau perpustakaan yang terletak paling ujung?

Itulah yang membuat perpustakaan besar SMA Konoha selalu sepi dan tentram meski saat istirahat siang. Penjaganya pun bisa memutar music keras-keras tanpa takut ada yang protes, karena memang pengunjung perpustakaan itu selalu saja diam dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ya.. kedua orang berbeda yang selalu mengambil posisi yang saling berjauhan, hanya merekalah pengunjung perpustakaan sekolah.

Seorang gadis berambut indigo dengan mata lavender yang selalu bergerak mengikuti deretan kalimat yang tertera dalam buku yang dibacanya dan seorang pria yang selalu memakai headset di telinganya kemudian menghabiskan waktu dengan tidur siang di rak nomor 5. Selama ini mereka sangat jarang bertegur sapa dan terlibat obrolan ringan. Bahkan sang penjaga perpustakaan berpikir bahwa gadis itu hanya mengira dia sendirian di perpustakaan ini, begitupula sebaliknya dengan sang pria.

Apa laki-laki itu mengetahui bahwa nama sang gadis adalah Hyuuga Hinata?

Dan apakah gadis itu tahu bahwa nama sang pria adalah Uchiha Sasuke?

Penjaga perpustakaan itu hanya menggeleng lemah melihat tingkah laku dari kedua anak muda yang selalu diperhatikannya itu. Dihisapnya lagi puntung rokok yang semakin memendek dengan dalam dan nikmat tanpa rasa dosa sama sekali mengingat ada sebuah tanda larang besar untuk tidak merokok di dalam perpustakaan.

Setelah dia rasa rokok itu sudah tidak dapat menghibur kesunyiannya, Asuma-sang penjaga perpustakaan- melakukan sebuah tindakan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Tindakan untuk memanggil gadis Hyuuga.

"Hei kau.." panggil Asuma dengan suara baltonya yang sedikit berat membuat gadis bermata lavender itu menghentikan kegiatannya dan menoleh perlahan kearah Asuma.

"Ya sensei?" gadis itu memandangi Asuma dengan kebingungan dan sedikit rasa tak percaya.

"Bisa membantuku?" Asuma menggaruk-garuk daerah sekitar pelipisnya. "Aku sedang sibuk memeriksa stok buku baru yang datang tadi pagi.. dan aku butuh contoh buku lama, bisa kau ambilkan?"

Hinata terdiam sebentar. Tak beberapa lama dia menutup buku yang tadi sedang dibacanya dan tersenyum sekilas kearah Asuma. "Dengan senang hati."

"Terima kasih banyak, yang kau lakukan hanya mengambil sampel dari setiap judul buku yang kau temukan di rak nomor 5" lanjut Asuma sambil menunjuk rak buku yang terletak paling ujung nan jauh disana. Dari papan petunjuk yang tergantung di setiap rak dapat terbaca bahwa rak itu berisi buku-buku anthropology. Historical dan biografi-biografi yang tentunya memiliki lembaran-lembaran kertas tak terhingga.

Jangan berpikir bahwa Asuma sungguh tega dan kejam menyuruh seorang gadis yang kelihatannya lemah untuk membawa buku berat seperti itu dalam jumlah yang banyak. Pikirkan saja bahwa Asuma sedang membuat sebuah jalan agar perpustakaan ini terasa lebih.. 'bernyawa' ?

"Umm..ya baiklah" Hinata mengangguk pelan meski di pikirannya melintas beberapa pertanyaan seperti bagaimana bisa dia membawa semua buku itu dengan tubuh lemah yang mungil ini?

Dengan perlahan, gadis berambut indido panjang yang dikelabang dua itu berjalan menuju rak nomor 5. Rak panjang yang sedikit berdebu karena mungkin tidak pernah terjamah tangan-tangan manusia. Tangan telunjuk putihnya menyentuh deretan buku satu persatu dan mengeluarkannya dari barisan setelah dipilih dengan baik.

Ditumpuknya buku-buku itu hingga menjulang tinggi keatas hingga menyamai rupa menara pizza tanpa unsur miring. Diperhatikannya tumpukkan itu sejenak dan terdengar sebuah helaan nafas panjang dari bibir mungilnya.

Well.. mungkin butuh beberapa kali angkut untuk semua buku itu. Ya.. andai saja ada yang membantunya saat ini..

Dengan berhati-hati Hinata mencoba mengangkat buku itu hingga menutupi seluruh wajahnya. Namun beberapa detik kemudian tangannya tidak kuat lagi dan buku-buku tebal itupun berhamburan kemana-mana. Termasuk menimpa kaki seseorang yang sedang tertidur di pojokan tembok.

Mengendus keributan kecil di dekatnya, orang itupun terbangun dengan membuka kedua mata onyx-nya untuk melihat apa yang tengah terjadi. "Apa ini?" tanya orang itu sambil meraih sebuah buku yang tergeletak di atas kaki kirinya. Diperhatikannya buku itu secara seksama dan tiba-tiba terlihat sebuah bayangan di balik buku itu. Bayangan seorang gadis yang tengah berdiri di depannya.

"Ah.. gomen ne~" ucap Hinata lirih dan membungkukkan sedikit badannya. Orang itu mengamati sosok Hinata sejenak kemudian melepaskan earphonenya.

"Hn, tidak apa-apa" balas orang itu sembari bangkit dari posisi tidurnya yang aneh dan menggantinya dengan duduk jongkok sambil memunguti beberapa buku yang ada di depannya. "Apa yang sedang kau lakukan?"

"Eh? A-aku.. aku disuruh oleh Asuma-sensei untuk mengambil beberpa sampel buku di rak ini.." Jawab Hinata pelan sambil memandangi orang itu. Seorang laki-laki dengan rambut hitam mencuat dan kulit putih bersih serta mata onyx yang sangat tajam. "Ah terima kasih..er-?"

"Sasuke. Namaku Uchiha Sasuke" seakan mengerti maksud Hinata, orang itu memperkenalkan dirinya dan bangkit dari duduk jongkoknya.

"Na-namaku Hinata, Hyuuga Hinata. Salam kenal Uchiha-san" sahut Hinata tersenyum lembut kearah Sasuke.

"Kau adiknya Neji?" tanya Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Ya.. kenapa?"

"Tidak, hanya saja kalian mirip" jawab Sasuke yang mengamati sosok adik perempuan dari teman akrabnya Hyuuga Neji. Sungguh berbeda dengan Neji yang sangat popular dan dipuja banyak wanita selain dirinya tentunya, gadis keluarga Hyuuga di depannya ini cenderung seperti anak pintar yang tidak dikenal banyak orang. Rambut indigo yang dikelabang dua, jaket tambahan berwana putih dan kaos kaki panjang yang jaman sekarang jarang digunakan lagi oleh banyak gadis.

Meski begitu tetap saja.. keanggunan keluarga Hyuuga tetap terpancar keluar dari tubuhnya. Namanya juga cantik dari lahir, semahir apapun ditutupi pasti tetap cantik bukan?

"Mungkin hanya rambut kami saja yang berbeda.." kata Hinata tertawa kecil menanggapi pengakuan Sasuke. "Lalu.. apa yang kau lakukan disini Uchiha-san?"

"Hanya tidur siang.." kata Sasuke merenggangkan lehernya dengan cara menggerakkannya ke kiri dan kekanan.

"Ti-tidur siang di sini?"

"Hn.." Sasuke mengangguk singkat dan melihat tumpukan buku yang ada di dekat Hinata. "Kau berniat membawa itu sendirian?" tanya Sasuke tak percaya.

"Tidak ada yang bisa kuharapkan untuk membantuku sih.." jawab Hinata menghela nafas singkat.

"Kau bisa meminta bantuanku.." tawar Sasuke tersenyum tipis.

"Tapi aku tidak mengenalmu."

"Apa harus mengenal baru boleh minta bantuan?" tanya Sasuke lagi mengerutkan dahinya. "Sudahlah ayo aku bantu" tanpa banyak kata lagi Sasuke segera membantu Hinata untuk memilah-milah buku yang cocok dijadikan sampel. "Kau sering kemari bukan?"

"Setiap istirahat siang aku selalu kemari" Hinata menjawab pertanyaan Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari deretan buku-buku yang memiliki judul aneh. "Dan kau juga kan?" tanya Hinata balik.

"Hn, sama sepertimu tapi bukan untuk membaca buku hanya untuk.."

"Tidur siang" sela Hinata melanjutkan perkataan Sasuke.

"Ya seperti itulah" sahut Sasuke membenarkan perkataan Hinata. Diambilnya berbagai macam buku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk berdiam di dalam kantong celananya. Tak ada obrolan lagi yang terdengar selama beberapa saat. Kedua orang itu sedang berkutat dengan pikiran masing-masing.

Sebenarnya kedua orang ini saling mengenal satu sama lain, bahkan dengan sangat baik.

Setiap hari nama Sasuke selalu terdengar di telinga Hinata, dari Sakura dan Ino yang merupakan fans setia Sasuke hingga kakaknya Neji yang sering menghabiskan waktu di rumah keluarga Hyuuga bersama Sasuke. Jadi jujur saja, ini bukan yang pertama kalinya dia mendengar dan melihat sosok laki-laki Uchiha yang memiliki ketampatan di atas rata-rata itu.

Lain halnya dengan Hinata, meskipun Sasuke jarang mendengar nama Hinata disebutkan oleh teman-temannya. Dia sering memperhatikan sosok gadis pendiam itu ketika memasuki ruang perpustakaan. Mengamati gadis itu duduk dengan nyaman dan serius membaca buku sebelum akhirnya dia pergi untuk tidur siang.

Namun selama ini mereka selalu saja bersikap seperti tidak pernah menyadari satu sama lain. Larut dalam kegiatan masing-masing dan menepis kenyataan ada orang lain di sekitar. Mereka bahkan tidak merespon ketika Asuma menyetel musik keras-keras hingga menganggu kegiatan mereka. Bahkan Sasuke sampai tidak bisa tidur dan tidak dapat mendengar lagu yang mengalun dari earphonenya.

Atau mungkin menyuruh Asuma mematikan rokok yang dapat membuat mereka menjadi perokok pasif?

Tapi itu hanya di dalam pikiran mereka semata, menyuruh Asuma mengecilkan suara musik itu atau melarangnya untuk merokok atau bahkan untuk menyapa satu sama lain. Mereka hanya terdiam membisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun meski mereka bertemu setiap hari. Seakan-akan mereka sama sekali tidak pernah mengenal dan bertemu di hari sebelumnya.

"Umm.. Uchiha-san."

"Jangan memanggilku dengan nama keluargaku" perintah Sasuke dengan nada keharusannya.

"Ah! Maksudku Sasuke.." kata Hinata yang memperbaiki kesalahannya.

"Hn?"

"Ano.." jari telunjuk Hinata berhenti di sebuah buku karena dia sedang sibuk memikirkan apa yang akan diucapkannya. "Senang bisa berbicara denganmu.." ucap Hinata pelan. Terlihat semburat merah menghiasi pipinya yang ranum.

"Hn, aku juga" sahut Sasuke tak kalah pelannya. Sebuah senyuman terukir di wajah tampannya itu.

Setelah semua buku telah di kumpulkan, mereka membawanya ke Asuma yang sedang menulis sesuatu di buku besar tak lupa dengan sepuntung rokok di tangan kirinya. Sasuke sering bertanya dalam hati mengapa Kurenai menyukai pria perokok berat seperti guru di depannya ini, ah tidak.. mungkin pertanyaan mengapa Asuma belum mati juga karena merokok seperti itu adalah hal yang paling membuatnya penasaran.

"Oh?" Asuma menghentikan kegiatan menulisnya dan menoleh kearah dua orang murid yang membawa beberapa buku di tangan mereka. Dihisapnya sebentar rokok miliknya dan kemudian tersenyum lebar. "Ternyata memang lebih cepat diselesaikan berdua hahaha"

"Hn.." tanpa berkata banyak, Sasuke menaruh semua buku yang dipegangnya di atas meja Asuma. Begitupula dengan Hinata.

"Arigatou ne Hinata, Sasuke" kata Asuma sambil menggaruk-garuk kepalanya sungkan.

"Sama-sama sensei" balas Hinata dengan senyuman manisnya. Dia memandangi buku-buku itu dengan tatapan puas kemudian menoleh ke arah Sasuke yang berdiri di sampingnya. "Terima kasih banyak Sasuke."

"Sama-sama, lain kali kau bisa meminta bantuanku."

"Ya, lain kali kalau aku disuruh oleh Asuma-sensei" sahut Hinata tertawa kecil dan dibalas sebuah senyuman tipis dari Sasuke.

"Aku mau melanjutkan tidur siangku.." kata Sasuke menguap kecil kemudian berjalan menuju tempat faforit-nya. Sebuah pojokan di rak nomor 5.

"Aku juga belum selesai membaca buku" gumam Hinata yang segera kembali ketempat awalnya.

Apakah setelah ini semua akan kembali seperti semula? Dimana Hinata dan Sasuke saling tidak berbicara dan larut dalam kegiatan mereka masing-masing?

"Hei sensei.."

"Ya Sasuke?" tanya Asuma ketika dia mendengar Sasuke memanggilnya. Dia menoleh kearah Sasuke yang menghentikan langkahnya dan hanya berdiri tanpa berbalik memandanginya.

"Jangan menyetel musik keras-keras" kata Sasuke lagi. "Aku tidak bisa tidur" sebuah dengusan kesal terdengar dari pemuda berambut hitam mencuat itu sebelum akhirnya dia berjalan pergi dan menghilang dari hadapan Asuma dan Hinata.

"Um.. Asuma-sensei.."

"Ya Hinata?" tanya Asuma yang kini berganti menoleh kearah Hinata yang memanggilnya dengan pelan.

"Di perpustakaan tidak boleh merokok" Hinata memasang wajah seriusnya sambil menunjuk papan larangan merokok. "Lagipula, itu tidak baik untuk kesehatan" kata Hinata lagi dan kembali meneruskan membaca buku yang tadi ditinggalkannya.

Asuma hanya terdiam dan mencerna semua perkataan kedua murid itu. Sebuah senyuman timbul di wajahnya dan dia kembali menghisap rokok kesayangannya dan menyetel music dengan volume seperti biasanya –keras-.

Sepertinya, semua ini sudah tidak dapat kembali seperti semula. Termasuk pemikiran kedua orang di perpustakaan bahwa mereka hanya sendirian kini berganti bahwa ada orang lain bersama mereka di tempat itu. Yang saling memperhatikan walau jarang bertegur sapa.

"Sensei!"

Dan sepertinya, perpustakaan SMA Konoha menjadi lebih 'bernyawa' sekarang.

OWARI
At Library II

Naruto © Masashi Kishimoto

At library © AkinaYuki

Warning Au and OOC (specially for Sasuke)

Summary : Hinata semakin sering bertemu dengan Sasuke di perpustakaan. Tapi kali ini, dia tidak tidur. Melainkan sering membaca buku yang sangat membuat Hinata terkejut.

This is a simple fic. dont hope you get a hard romance :)

( ̄▽+ ̄*)

Akhir-akhir ini seorang gadis cantik dengan rambut indigo sering menarik kedua ujung bibirnya ketika dia berada di perpustakaan sekolah. Entah mengapa, mata lavendernya selalu menemukan sebuah judul yang sangat 'menarik' dari sebuah buku di perpustakaan. Bahkan si gadis tak menyangka bahwa buku itu tersedia di perpustakaan sekolah yang tua ini.

Sebenarnya, bukan bukunya yang membuat dia tertawa. Melainkan mengapa buku itu dibaca oleh seorang laki-laki terkenal sebagai pangeran SMA Konoha. Uchiha Sasuke. Tak banyak bicara dan selalu cuek terhadap siapapun. Dengan perawakan dan wajahnya yang sangat sempurna dia menjadi idola setiap siswi.

"Kenapa kau tersenyum Hinata?" Sasuke menurunkan sedikit bukunya dan melirik gadis yang sedang berusaha menahan senyum di depannya.

"Ano Sasuke-san, Aku.. tak menyangka kalau kau suka membaca buku seperti itu.." Hinata tertawa kecil, dia berusaha meminimalkan tawanya meski pada akhirnya dia mengeluarkan air mata.

"Maksudmu?" tanya Sasuke tak mengerti, alisnya terangkat sebelah dan dengan cepat dia membalik bukunya untuk melihat judul tersebut.

'When you feel that you are a gay'

Saat itu juga, rasanya Sasuke ingin mengubur dirinya di inti bumi terdalam yang tak pernah terjamah.

"Aku tak tahu kalau kau seorang.." Hinata terdiam sejenak. Dia menahan tawanya yang sepertinya ingin meledak. "Gay?"

"Bukan!" sanggah Sasuke dengan cepat. "Aku hanya ingin membacanya saja." Sasuke berkelit dan menatap Hinata dengan pandangan 'Kau percaya kan?'

"Benarkah itu Sasuke-san?" Hinata melirik curiga kepada Sasuke. Di pikirannya mungkin saja Sasuke itu seorang pecinta sesama jenis, melihat dari sikapnya yang selalu menjauhi fansgirl-nya dan tak pernah terikat hubungan serius dengan seorang gadis manapun.

"Tch! Lebih baik aku ganti buku saja." kata Sasuke sinis dan segera beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju Rak paling ujung dan menaruh kembali buku 'Menjijikan' itu ke dalam rak dan memilih-milih buku yang diambilnya.

Sebenarnya, Sasuke tidak memilih-milih buku yang akan diambilnya. Mata hitamnya bahkan tidak melihat ke arah deretan buku di depannya. Melainkan ke arah Hinata yang sedang sibuk membaca buku dengan tenang. Masih terlihat dia menahan senyum dan sedikit air tergenang di kelopak matanya.

Hampir seminggu ini Sasuke memikirkan cara agar dia lebih dekat dengan Hinata. Well, berbicara dengannya saja baru di mulai dua minggu yang lalu ketika guru Asuma menyuruh Hinata mengatur buku-buku tua dengan jumlah yang wow.

Dan akhirnya dia mendapatkannya. Bagaimana kalau dia berhenti tidur di perpustakaan dan mulai membaca buku di depan Hinata?

Meski dia menjadi aneh karena membaca buku tadi. Yah,, setidaknya Hinata jadi lebih tidak canggung bercengkrama dengannya. Apalagi, dengan berpura-pura membaca buku di depan Hinata, dia bisa mencuri-curi pandang memperhatikan gadis itu.

Ide yang cemerlang Sasuke. Kau memang pintar!

Sasuke tersenyum kecil, dengan asal dia mengambil sebuah buku yang tidak terlalu tebal. Kemudian kembali duduk di depan Hinata. Membuka buku yang diambilnya dan mulai berpura-pura membacanya.

Mata lavender Hinata melirik Sasuke. Mengamati buku yang diambil pemuda itu. "Ano Sasuke-san.." lagi-lagi dia tertawa kecil.

"Hn? Kau tertawa lagi?" Alis Sasuke terangkat kembali. "Buku yang aku ambil bukan buku gay lagi bukan?"

"Bukan.." Hinata menggeleng pelan. "Tapi, aku tidak menyangka kalau Sasuke-san itu bi-"

"Jangan lanjutkan." sela Sasuke dingin. Perasaannya sudah tak enak. Dengan ragu-ragu dia membalik bukunya.

'The solution for Bisexual'

Oh tidak. harga diri Sasuke terinjak kedua kalinya. Ingin sekali dia mengutuk orang yang menaruh buku sejenis ini di dalam perpustakaan. Meski dia tidak tahu bahwa yang memasukannya adalah Tsunade, sang kepala sekolah yang peduli pada jati diri muridnya.

"Maafkan aku, Sasuke-san." Hinata menyeka air matanya dan kembali membaca bukunya meski Sasuke tahu Hinata masih mentertawakan dirinya karena bahu Hinata masih bergetar.

"Hn." Sasuke mendengus kesal dan beranjak dari kursinya lagi.

"Aa Sasuke-san?"

"Hn?"

"Lebih baik kau ganti tempat eksplorasi bukumu." Dahi Hinata sedikit berkerut. "Umm.. sepertinya di rak buku itu penuh dengan buku aneh."

"Ya, terima kasih."

"Sama-sama, senang melihatmu kembali membaca Sasuke-san."

"Senang melihatku membaca buku aneh tadi?" lirik Sasuke tak percaya.

"Ah! Ma-maksudku.."

"Atau kau senang melihatku berada di depanmu?" seringai licik terlukis di wajah Sasuke. Membuat wajah Hinata mulai memerah.

"I-itu.. A.."

"Kuanggap itu 'Ya' " Lanjut Sasuke lagi yang segera beranjak mencari buku di rak yang berbeda dengan yang tadi. Dari sela-sela buku itu dia dapat melihat bahwa sekarang Hinata sudah salah tingkah dan membaca buku tanpa konsentrasi penuh.

Dan Sasuke senang melihat hal itu. Apapun yang ada di gadis itu menarik perhatian Sasuke. Tawanya, Suaranya, sikapnya, dan ketika wajahnya memerah karena malu.

Andai saja dia bisa dekat dengan Hinata lebih cepat.

Sasuke kembali duduk dan menarik perhatian Hinata untuk melihatnya. Wajah cantik itu tambah memerah ketika Sasuke meliriknya dengan sebuah seringai kecil kebanggaannya.

"Melihatku Hinata?"

"Aa- Tidak."

"Sekarang kau gugup?"

"A-aku tidak gugup."

"Benarkah?"

"Atau kau dari tadi ternyata memperhatikanku?"

"Maaf?"

"Buktinya, kau mengomentari buku-buku yang aku baca." lanjut Sasuke lagi. "Itu tandanya kau memperhatikanku Hinata."

"Bu-bukan.." Hinata menggeleng kepalanya dengan susah payah.

"Lalu?"

"Bukumu.." jari telunjuk Hinata mengarah kearah buku yang dipegang Sasuke. Jari itu terlihat bergetar. Apa kali ini Hinata sangat tidak bisa menahan tawanya atau justru dia sangat malu dengan apa yang di lihatnya?

"Hn?" Sasuke tambah tidak mengerti.

"A-aku benar-benar tak menyangkanya Sasuke-san.." wajah Hinata benar-benar memerah sekarang. Bagai kepiting rebus yang matang sempurna.

Dengan kebingungan yang amat sangat. Sasuke membuka bukunya dan alangkah terkejutnya dia melihat isi buku itu. Gambar-gambar nyeleneh para gadis yang berpose menantang. Di baliknya buku itu dan melihat cover-nya.

Owalah.. ini majalah porno.

"A-aku.." Sasuke menarik nafas dengan susah payah. Sepertinya paru-paru di dalam tubuhnya telah disumbat batu kerikil sebesar ibu jarinya. "Siapa yang menaruh majalah seperti ini!" dahinya berkerut.

"Dan kau mengambilnya." jelas Hinata yang sekarang mulai tertawa kecil. Sepertinya hari ini dia telah banyak tertawa dan itu sama sekali bukan seperti Hinata yang biasanya.

"Hn." Sasuke mengangguk sekilas dan menyandarkan punggungnya di kursi perpustakaan. "Tapi aku bukan orang seperti Jiraiya-sensei, kau tahu?" tanya Sasuke berusaha menyakinkan Hinata. gadis itu hanya mengangguk pelan.

"Lagipula, kau yang menyuruhku mencari di situ kan."

"Eh?"

"Apa jangan-jangan majalah ini punyamu Hinata?"

"Bu-bukan!"

"Benarkah?"

"Bu-bukan.."

"Hn.." Sasuke diam dan berhenti menggodai Hinata. Dia menatap sekilas kearah majalah 'hina' yang hampir saja ingin dirobeknya. Semua ini memang bisa mendekatkannya dengan Hinata, tapi dengan resiko mempermalukan dirinya.

Lalu bagaimana sekarang, Sasuke?

"Ke-kenapa melihatku seperti itu?" tanya Hinata yang kini memerah kembali ketika menyadari bahwa Sasuke tengah menopang dagunya dan memandang lurus ke arah Hinata.

"Tidak boleh?"

"Ta-tapi.."

"Sebenarnya aku hanya ingin memperhatikanmu saja."

"Sasuke-san?"

"Dengan begini aku tidak mempermalukan diriku seperti tadi." seringai tipis muncul di wajah tampan Sasuke. "Teruslah membaca, aku tidak akan mengganggumu."

"Umm.." Tak ada yang bisa diperbuat Hinata selain meneruskan membaca buku kembali. Tapi kali ini, dia tidak bisa membaca buku itu dengan baik seperti tadi. Mungkin sekarang dia berada di posisi Sasuke. Bingung tak tahu harus membaca akibat dipandangi oleh seorang laki-laki tampan yang selalu menggodainya dari tadi.

Hinata menutup bukunya dengan gugup dan dengan asal mengambil buku yang ada di atas meja.

"Hinata." Sasuke memanggilnya.

"Y-ya Sasuke-san?" jawab Hinata menoleh ke arah Sasuke yang ada di depannya. Laki-laki itu sedang tersenyum. Puas? Geli?

"Aku tidak menyangka kalau kau juga menyukai hal seperti itu.."

"Aa?" Hinata tak mengerti dengan maksud ucapan Sasuke. Dia kembali membaca bukunya dan saat itu juga matanya membulat terkejut. Wajahnya sangat memerah dan tangannya bergetar.

Gadis berbikini, tak berbusana, dan pose-pose menantang.

Oh tidak.

"Ternyata kau suka hal seperti itu, Hinata?"

Dan detik itu pun Hinata melempar bukunya entah kemana dan jatuh pingsan layaknya Hinata yang seperti biasanya. Dia tidak tahu bahwa hal itu membuat Sasuke panik dan tentunya seorang guru mesum bernama Jiraiya yang menangisi majalah bejat edisi terbarunya hilang akibat ulah kedua remaja yang dilanda cinta. Mungkin?

OWARI

a/N : WKAKAKAKAKA XDD

Aki suka fic ini. *dihajar* entah kenapa Aki suka membayangkan bahwa Sasuke membaca buku-buku seperti itu XDDD rasanya sangat.. memuaskan.

Yosh! ini sekuel dari at Library yang dulu pernah Aki post. Maaf kalau ceritanya jadi bejat seperti ini! wkakakaka

Apa perlu di buat lagi?(〃∇〃)