Penyesalan memang terasa diakhir, banyak waktu terbuang percuma. Hidup bagai badai besar, bergulir tanpa arah dan memenuhi sekeliling dengan kekecewaan. Kini persimpangan penyesalan menghadang, hanya tampak 2 pilihan arah. Pilihan pertama "hidup dengan kesia-siaan serta keterpurukan?" atau pilihan kedua "bangkit melawan kelam terbang menuju langit cerah?". Jiwa ini meronta keras, tatkala krisis kepercayaan diri untuk memutuskan langkah cerah menuju masa depan muncul. Akankah diri ini terbebas dari kelamnya kesia-siaan? Akankah diri ini sanggup menjadi pribadi yang bisa membanggakan kedua sosok berjiwa mulia yang telah membesarkannya selama 22 tahun? Akankah diri ini sanggup berdikari ketika kedua sosok ini telah tiada nantinya? Akankah nantinya diri ini sanggup menahan pedihnya penderitaan hidup? "Ya Tuhan, sekiranya hanya engkau yang maha pengampun lagi maha penyayang, ampuni semua dosa dan kesia-siaan yang telah hamba perbuat selama ini. Bukakan jalan terang untuk hamba merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang membanggakan kedua orang tua hamba nantinya. Pribadi yang sanggup membahagiakan mereka berdua disisa masa tua mereka. Semoga doa ini bisa Engkau dengar dan Engkau kabulkan..... Amin"
