"Run, run, run again
It’s okay to fall
Run, run. Run, again
It’s okay to get hurt"
-BTS, Run
Ada satu kutipan yang sampai sekarang masih melekat kuat di kepala -mungkin kutipan dari Nietzsche dalam "Thus Spoke Zarathustra"; bahwa -sebenarnya dalam hidup, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Kalau mau dibuat analogi, diri kita ibarat musuh mayor, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai musuh, cuma nggak lebih dari sekadar musuh minor. Yes, that's it. Setelah kupikir lagi, ternyata ada benarnya juga. Diri sendiri adalah eksistensi yang nyata dan bisa kita rasakan benar-benar keberadaannya; dengan kata lain, bisa kita indrai sepenuhnya. Lain halnya dengan hal-hal lain di luar kendali kita; semuanya bersifat nisbi alias relatif. Tidak ada yang benar-benar kita tahu tentang 'hal-hal lain'. Maka dari itu, kenapa harus capek-capek melawan hal yang nampak niskala?
Satu kesadaran itu yang kemudian menyentil nalarku, bahwa kalaupun hidup ini mau disebut sebagai 'kompetisi', maka setangguh-tangguh lawan yang harus kita jegal adalah diri kita sendiri. Aku jadi teringat dengan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud yang membagi manusia menjadi tiga ranah; ego, id, dan superego. Bagi Freud, manusia harus mampu menyeimbangkan ketiganya, bukan hanya dominan di satu ranah. Well, aku bukan seorang Freudian, tapi kupikir, ini ada benarnya juga. Sebagai manusia yang berakal dan dianugerahi nalar, salah satu tantangan terbesar kita -dalam hal melawan diri sendiri- adalah melawan nafsu yang hadir dalam berbagai bentuk; entah itu dorongan setan, hal-hal buruk, atau justru sifat-sifat buruk yang kita miliki tanpa sadar.
Lucunya, manusia lebih sering mengamalkan peribahasa: "Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Meskipun diri sendiri adalah musuh terbesar, pada nyatanya kita masih sering abai dan justru memusatkan energi untuk hal-hal yang terlampau insignifikan; menjadikannya sebagai musuh yang harus dilawan, atau menjadikannya sebagai patokan yang harus dikejar. Salah? Nggak juga, toh setiap manusia punya indikator musuhnya sendiri. Tapi menurutku, mungkin akan lebih baik ketika kita menyelesaikan urusan dengan diri kita sendiri lebih dulu -ketimbang menghabiskan energi guna mengurusi hal yang lain. Karena bahwasannya, menjadikan diri sendiri sebagai 'musuh' dengan tujuan akhir 'menjadikan diri kita jadi manusia yang lebih baik' adalah kemenangan yang nyata dan menjadi bentuk dari tanggung jawab kita sebagai manusia. At least, implementasi dari surat Al Muddassir ayat 38: "Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya."
At the very last, hidup bukan cuma perihal musuh-memusuhi, dan hidup bukanlah lomba lari. Kalaupun memang rangkaian sekon, menit, jam, hari, hingga abad -adalah sebuah lintasan lari, maka garis finish yang harus kita capai 'hanyalah' diri kita yang jauh lebih baik. Jauh lebih bernilai. Jauh lebih 'manusia' -yang selalu siap untuk kembali pada pemilikNya.
2021/04/08